Jelang Pertemuan Donal Trump - Xi Jinping

AS Gunakan Isu Dagang Tekan Cina Hentikan Nuklir Korut

0
45
Presiden China Xi Jinping bertemu Menlu AS Rex Tillerson di Beijing, Cina, Minggu (19/3). (Foto: Antara/Reuters)

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden Cina Xi Jinping pada 6-7 April di resor pribadi milik Trump, Mar-a-Lago, Florida. Kedua pemimpin akan membahas sejumlah persoalan penting, salah satunya nuklir Korea Utara. Trump akan menggunakan isu perdagangan sebagai “insentif” bagi Cina untuk ikut mengendalikan nuklir Korea Utara.

Selama ini, AS mengalami defisit perdagangan terbesar dengan Cina yang mencapai USD 347 miliar pada tahun 2016. Defisit disebabkan ekspor AS ke Cina hanya USD 116 miliar sedangkan impor dari Cina sebesar USD 463 miliar. Trump berulang kali mengatakan akan mengambil tindakan agresif terhadap Cina untuk mengurangi defisit perdagangan tersebut. Pembicaraan dalam pertemuan nanti salah satunya untuk menegosiasikan masalah ini.

Keinginan Trump untuk mendapatkan keuntungan yang adil dalam perdagangan dengan Cina juga akan digunakan sebagai alat negosiasi untuk menekan Cina menghentikan pengembangan senjata nuklir Korut. Seperti diketahui, Korut merupakan sekutu utama Cina.

Dalam pernyataan wawancaranya dengan Financial Times, Minggu (3/4) Trump mengatakan, jika pembicaraan dengan Xi Jinping nanti tidak menghasilkan apa yang diinginkannya, AS tetap akan mengambil tindakan sendiri terhadap Korut, tanpa Cina.

Trump menyatakan, dirinya akan melakukan sendiri untuk menahan program senjata nuklir Korut jika Cina gagal mengubah situasi di sana.

“Jika Beijing tidak membantu mengatasi hal itu, maka kami saja yang akan melakukannya,” kata Trump sebagaimana dikutip CNN, (3/4).

Bagi AS menghentikan program senjata nuklir Korut saat ini menjadi prioritas uatama, sehingga akan dilakukan baik bersama atau tanpa Cina.

“Jika mereka (Cina) melakukannya, itu akan sangat baik untuk Cina, dan jika mereka tidak melakukannya, itu tidak akan baik bagi siapa pun,” tegas Trump dalam wawancara Financial Times.

Pemerintahan Donald Trump berulang kali menekan Cina atas ancaman nuklir Korut. Trump berabggapan Cina tidak serius mengendalikan program senjata nuklir Korut yang nyata-nyata melanggar perjanjian PBB. Sementara, Cina merasa telah melakukan tugasnya, Cina menghentikan impor batubara Korut sebagai sanksi terhadap negara tersebut.

Bulan lalu Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengunjungi Cina, juga untuk kembali menekan tetangga Korut itu dalam membantu mengurangi ancaman senjata nuklir.

Sejak kampanye sebagai calon Presiden AS, Trump telah membangun sikap memusuhi Cina. Salah satunya terkait pengembangan senjata nuklir Korut. Trump berpendapat bahwa Cina bertanggung jawab untuk proliferasi nuklir di Korea Utara.

Trump percaya diri AS bisa menyelesaikan masalah Korut meski tanpa menyertakan Cina. “Ribuan tentara AS dan Korea Selatan saat ini terlibat dalam latihan gabungan tahunan yang akan selesai pada 30 April,” kata Trump.

Latihan gabungan antara AS dan Korea Selatan inilah yang diprotes oleh pihak Cina, karena AS dianggap memicu ketegangan di Semenanjung Korea.

“Di satu sisi, Korut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang peluncuran rudal balistik, tapi di sisi lain Korea Selatan, AS, dan sekarang Jepang, bersikeras melakukan latihan militer skala besar. Skenario ini tidak menguntungkan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, dalam konferensi pers pada 14 Maret lalu.

Cina sempat mengusulkan agar AS dan Korsel menghentikan latihan perang gabungan di Semenanjung Korea, sementara Cina melakukan pendekatan terhadap Korut untuk menghentikan program pengembangan senjata nuklirnya. Tapi AS menolak usulan tersebut karena menganggap latihan gabungan dengan Korsel adalah latihan rutin.

Media pemerintah Korea Utara mengecam latihan gabungan tersebut dan menuduh negara-negara yang terlibat dalam latihan gabungan telah sembrono.

Korut telah melakukan uji coba sejumlah rudal pada tahun ini dan dalam beberapa pekan terakhir telah melakukan uji coba sebuah mesin roket yang menurut para analis dapat digunakan untuk senjata jarak jauh.

September tahun lalu, Pyongyang mengklaim telah menguji hulu ledak nuklir. Korsel memperkirakan kekuatan ledakan nuklir Korut sebesar 10 kiloton atau sekitar 2/3 kekuatan bom AS yang dijatuhkan di Hiroshima pada Perang Dunia II.

Di Korsel, Menlu AS Rex Tillerson memperingatkan bahwa AS memiliki pilihan untuk melakukan aksi militer di Korut.

“Satu-satunya negara yang dapat menghentikan Korut adalah Cina, dan mereka tahu itu,” kata Tillerson.

Menurut Cina, AS tidak melakukan cukup upaya untuk melakukan tekanan keuangan terhadap Korut, mengingat Beijing adalah satu-satunya sekutu nyata Kout dan menyumbang 70% dari perdagangan negara itu.

Namun Cina telah berulang kali mengatakan bahwa pengaruhnya atas Korut telah dilebih-lebihkan,  AS  dan Korsel  harus berhenti “menakut-nakuti” Korut dengan latihan militer tahunan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here