AS, Jepang dan Kosel Berembuk Hadapi Ancaman Serius Korut

0
71
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memimpin percobaan peluncuran roket balistik unit artileri Hwasong Pasukan Strategis KPA di lokasi dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA) di Pyongyang, Selasa (7/3). ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS

Nusantara.news – Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan sedang berembuk untuk menghadapi ancaman serius rudal Korea Utara. Upaya dilakukan setelah negeri Kim Jong-Un itu meluncurkan rudal balistik yang jatuh di Laut Jepang pada Rabu (5/4) pagi.

Korsel sepakat dengan AS pada Kamis (6/4) pagi untuk melanjutkan realisasi sistem pertahanan anti rudal AS di Seoul yang sudah dimulai pada bulan lalu.

Pemimpin dan pejabat senior AS, Korsel dan Jepang berbicara pada hari Kamis untuk membahas soal provokasi terbaru dari Pyongyang, yang terjadi beberapa jam saja sebelum pertemuan penting Presiden AS Donald Trump dengan koleganya Presiden Cina Xi Jinping yang merupakan sekutu perdagangan utama Korut.

Penasihat Keamanan Nasional Trump, Jenderal McMaster menyepakati dalam sebuah panggilan telepon dengan Korsel  untuk segera melanjutkan penyebaran sistem anti-rudal AS THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) di Korsel  setelah peluncuran terbaru rudal Korut terbaru.

Korsel dan AS sebelumnya mengatakan bahwa tujuan dari sistem THAAD adalah untuk menjaga wilayah Korsel dari ancaman rudal Korut. Namun, Cina menentang alasan itu dengan menganggap bahwa sistem radar yang kuat tersebut bisa menembus hingga ke wilayah Cina.

Meski mendapat tentangan dari Cina, AS telah memulai penyebaran elemen awal sistem pertahanan anti-rudal canggih itu di Seoul pada bulan lalu.

Para pejabat Korsel mengatakan, Jenderal McMaster berbicara dengan koleganya di Seoul, Kim Kwan-jin, pada Kamis pagi membahas peluncuran terbaru rudal Korut dan soal pertemuan puncak antara Presiden Trump dan pemimpin Cina Xi Jinping.

“Kedua belah pihak sepakat untuk mengejar rencana memperkuat sanksi dan tekanan masyarakat internasional terhadap Korut,” kata Presiden Korsel dalam sebuah pernyataan di Gedung Biru, istana presiden Korsel.

“… keduanya sepakat untuk mendorong penyebaran THAAD oleh pasukan AS di Korea Selatan,” ucap pernyataan itu.

Jepang juga melapor ke AS

Jepang sebagai sekutu utama AS di Asia dan merasa terganggu dengan aktivitas rudal Korut juga melapor ke AS. Dalam panggilan telepon dengan Donald Trump, PM Jepang Shinzo Abe mengatakan, kedua pemimpin sepakat bahwa peluncuran rudal balistik terbaru Korut adalah “provokasi berbahaya dan ancaman serius”.

Kepada wartawan di kediaman resminya Abe menyatakan, dia akan melihat bagaimana Cina menanggapi Pyongyang setelah Xi bertemu dengan Trump di Mar-a-Lago resort di Florida itu.

Dalam komentar singkat yang disiarkan televisi Jepang secara nasional, Abe mengaku bahwa Trump telah mengatakan kepadanya semua pilihan sikap “sudah ada di atas meja”.

Gedung Putih telah menyatakan bahwa AS akan terus memperkuat kemampuannya untuk mencegah dan mempertahankan diri dan para sekutunya dengan berbagai kemampuan militer yang dimiliki.

Presiden Trump juga telah berulang kali mengatakan dia ingin Cina berbuat lebih banyak menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Pyongyang untuk menahan program nuklir dan rudalnya. Tetapi Cina malah membantah memiliki pengaruh yang kuat terhadap Korut.

Pada Minggu lalu, Trump telah menyatakan kemungkinan menggunakan negosiasi perdagangan untuk menekan Cina menghentikan program nuklir Korut, jika tidak AS akan bertindak sendiri.

Setiap peluncuran objek yang menggunakan teknologi rudal balistik adalah pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun Korut telah menantang larangan itu dan mengatakan bahwa resolusi PBB melanggar hak berdaulat sebuah negara untuk membela dirinya, dan tujuan pengembangan nuklir Korut adalah untuk mengejar eksplorasi ruang angkasa.

Menurut para pejabat AS, rudal yang diluncurkan pada Rabu pagi itu berjarak menengah. Diluncurkan dari dekat pantai di Sinpo dan terbang sekitar 60 km dari lokasi peluncuran. Sinpo merupakan sebuah kota pelabuhan di pantai timur Korut, dimana pangkalan kapal selam berada.

Masalah rudal Korut menjadi hal sangat mendesak yang harus segera diselesaikan dalam pertemuan kedua pemimpin AS dan Cina pada pertemuan di Mar-a-Lago, Florida.

Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan Korut adalah ujian bagi hubungan AS -Cina.

“Waktunya sangat, sangat terbatas,” kata pejabat itu. “Semua opsi ada di atas meja.”

Trump berkonsultasi melalui telepon pada Rabu, dengan PM Jepang Shinzo Abe, mengatakan sepakat bahwa peluncuran rudal balistik terbaru Korut adalah “provokasi berbahaya dan ancaman serius”.

Gedung Putih telah mengkaji strategi yang fokus pada pilihan untuk menekan Pyongyang dari segi ekonomi atau militer. Di antara langkah-langkah yang dipertimbangkan adalah menjatuhkan “sanksi sekunder” terhadap bank-bank Cina dan perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis dengan Pyongyang.

Namun menurut review internal, sebagaimana dilansir Reuters, Gedung Putih sudah mempertimbangkan “aksi militer langsung,” kata pejabat AS yang tidak disebut namanya.

Pengamat tidak setuju dengan pilihan aksi militer, mereka percaya bahwa tindakan militer justru akan memicu balasan yang lebih parah dari Korut, dan korban yang besar akan berjatuhan, baik di pihak Korsel, Jepang serta di antara tentara AS yang ditempatkan di sana. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here