AS Minta Peran China Lebih Besar Perangi Terorisme

0
130
Presiden China Xi Jinping. Foto: REUTERS

Nusantara.news, Washington Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin pemerintahannya berada paling depan dalam upaya pemberantasan terorisme global. Trump membuat aturan-aturan yang ketat, seperti membatasi imigran dari negara-negara mayoritas Muslim hingga pelarangan laptop dalam penerbangan ke AS. Ketika kebijakannya diprotes, oleh China misalnya, Trump menuding China tidak berperan besar terhadap pemberantasan terorisme global. Ancaman teroris terhadap China juga relatif rendah ketimbang di Amerika.

Oleh sebab itu, Amerika Serikat ingin China terlibat lebih jauh dalam mendukung perang global melawan terorisme serta upaya untuk mengalahkan Negara Islam (ISIS) termasuk di Irak, demikian dikatakan seorang pejabat senior AS pada hari Senin (19/6) menjelang perundingan keamanan tingkat tinggi antara Washington dan Beijing, Rabu (21/6) sebagai dikutip Reuters.

Susan Thornton, asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Timur, mengatakan bahwa China hanya mengambil peran yang terbatas dalam upaya melawan terorisme, meskipun tampaknya akhir-akhir ni semakin tertarik.

“Kami ingin melihat mereka (China) lebih maju dan mengambil tanggung jawab lebih,” kata Thornton kepada wartawan di Washington, saat persiapan pertemuan diplomatik tentang pertahanan antara AS dan China.

“Mereka memiliki banyak kepentingan, misalnya di Irak, dan kami pikir mereka harus melakukan lebih banyak berkontribusi pada usaha koalisi internasional untuk mengalahkan ISIS (negara Islam),” katanya.

Thornton mengatakan Beijing, yang bukan merupakan anggota koalisi, sebetulnya saat ini semakin terpengaruh oleh terorisme, seperti yang terlihat dalam pembunuhan baru-baru ini terhadap dua warga China di Pakistan.

“Beijing telah mengirimkan ‘sinyal’ untuk lebih terlibat,” kata Thornton.

“Kami ingin berdiskusi dengan mereka tentang apa yang bisa kami lakukan lebih jauh, tentu dengan cara menyediakan sumber daya bagi pemerintah yang berjuang melawan terorisme dan mencoba membantu pembangunan kapasitas bagi pemerintah dan pasukan keamanan di berbagai Tempat,” tambahnya.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang mengatakan pada sebuah konferensi pers di Beijing pada hari Selasa (20/6) bahwa China dan Amerika Serikat merupakan sama-sama korban terorisme.

“Kerja sama itu untuk kepentingan kedua belah pihak,” katanya.

Perundingan hari Rabu akan melibatkan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dan juga diplomat tertinggi China, Penasihat Negara China Yang Jiechi, dan Jenderal Fang Fenghui, pemimpin Tentara Pembebasan Rakyat.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan mereka akan fokus pada upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Korea Utara untuk menghentikan program nuklir dan misilnya, namun juga mencakup bidang-bidang seperti kontra-terorisme dan persaingan teritorial di kawasan strategis Laut Cina Selatan.

China dan terorisme

Terkait  isu terorisme dan perang global untuk melawannya, nama China seakan jarang terdengar, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan atau front utama perang tersebut, yaitu negara-negara di Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Tenggara. Meskipun demikian, bukan berarti China tidak tersentuh oleh gerakan terorisme global. China juga mengalami teror di dalam negerinya, kendati tidak sesering yang dialami negara-negara Eropa, Amerika atau negara Asia lainnya. Teror di China kerap dilakukan kelompok gerakan separatisme Turkistan Timur (nama lain dari Xinjiang) dan radikalisme Islam.

Dalam sejarah, isu terorisme terkait dengan komunitas Uyghur di Xinjiang yang bermula pada tahun 80-an dan memanas tahun 90-an. Namun selama ini, China sebagaimana negara-negara lain di kawasan ini selalu berusaha menjaga agar isu terorisme dan upaya penanggulangannya tidak menjadi isu internasional karena menyangkut integritas teritorial dan kedaulatan negara.

Namun peristiwa 9/11 di New York telah menambah dimensi baru isu terorisme di China, yakni faktor Al-Qaeda dan keterkaitannya dengan gerakan politik di Xinjiang. Sejak tragedi 9/11, China telah menyatakan empat organisasi sebagai gerakan terlarang, yaitu: the Eastern Turkistan Islamic Movement, the Eastern Turkistan Liberation Organization, the World Uygur Youth Congress, dan the East Turkistan Information Centre, yang diindikasikan terkait Al-Qaeda. Bahan pemerintah AS telah memasukkan the Eastern Turkistan Islamic Movement ke dalam daftar organisasi teroris PBB atas permintaan pemerintah China.

Selain mencoba menggalang dukungan diplomatis secara internasional untuk memerangi terorisme di dalam negeri, sebetulnya pemerintah China juga melakukan berbagai manuver internasional dalam isu separatisme yang bersinggungan dengan terorisme, misalnya dengan mendukung langkah-langkah Rusia di Georgia. Dukungan Rusia menjadi hal penting bagi China dalam memerangi terorisme di Xinjiang karena terkait kredibilitas Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang merupakan desk antiteror di China.

Desakan AS agar China terlibat lebih jauh dalam pemberantasan terorisme cukup beralasan. China punya potensi kuat sebagai superpower baru, sudah semestinya ikut berperan aktif dalam menangani keamanan global, yang selama ini AS menganggap bebannya selalu di pundak AS. Selain itu, penanganan China terhadap terorisme di dalam negeri, terlepas sejumlah kontroversi melanggar HAM dan lain-lain, dianggap berhasil dalam menekan angka terorisme di China.

Di luar itu, AS mungkin menginginkan agar China bersama-sama dengan AS dan negara besar lainnya, seperti Rusia, mengeluarkan anggaran yang proporsional dalam upaya pemberantasan terorisme global yang sekarang sudah merembet ke Asia Tenggara seperti terjadi di Filipina. Ini jika dilihat dari keluhan-keluhan presiden AS yang baru, Donald Trump, mengenai anggaran militer AS yang menurutnya terlalu besar dan membebani anggaran negara untuk “mengamankan” dunia seperti di Timur Tengah. Apakah China mau? Sangat tergantung, jika ada kepentingan China di sana mungkin saja mau, tinggal bagaimana AS “memaksa” dengan cara-caranya, agar China merasa berkepentingan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here