AS Sebar Anti-rudal THAAD di Korsel, Cina Ingatkan Potensi Perang Nuklir

0
318
Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). (Foto: Reuters)

Nusantara.news, Seoul – Amerika Serikat mulai menyebar komponen awal dari sistem pertahanan anti-rudal canggihnya di Korea Selatan, Selasa (7/3). Penyebaran dilakukan sebagai respon atas peluncuran empat rudal balistik Korea Utara. Sementara itu, Cina tidak setuju dan marah, karena merasa menjadi objek dari sistem anti-rudal AS di Korsel itu. Cina juga mengingatkan potensi terjadinya perang nuklir di Semenanjung Korea.

Dalam sebuah pernyataan, Komando Pasifik AS mengatakan bahwa sistem anti-rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) bakal dikerahkan untuk melawan uji nuklir dan rudal balistik yang sedang berlangsung di Korea Utara (Korut).

“Tindakan provokasi lanjutan dari Korea Utara (Korut), dengan menyertakan sejumlah rudal dalam peluncuran kemarin, hanya mengkonfirmasi kehati-hatian dari keputusan aliansi kami tahun lalu untuk menyebarkan THAAD ke Korsel,” kata Komandan AS Pacific Laksamana Harry Harris sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (7/3/2017).

Sebetulnya, perjanjian penyebaran sistem rudal THAAD tersebut telah dicapai oleh Seoul dan Washington bulan Juli tahun lalu. Langkah itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan yang dipicu uji balistik dan nuklir berulang kali oleh Korut.

Sistem THAAD rancangan AS memiliki jangkauan sekitar 200 kilometer dan dirancang untuk mencegat rudal balistik jarak pendek, menengah dan intermediate pada tahap masuk terminal. Langkah AS telah dikritik oleh Cina dan Rusia sebagai langkah yang tidak patut dan tidak proporsional serta telah mempengaruhi kepentingan negara-negara lain.

Langkah AS menyebar sistem anti-rudal, dan sebelumnya melakukan pelatihan militer gabungan AS-Korsel, kemungkinan akan semakin memperdalam konflik di Semenanjung Korea antara Korea Selatan dan Utara.

Sebelumnya, empat rudal balistik milik Korut ditembakkan ke laut Jepang sebagai uji coba. Disusul kemudian dengan kemarahan Korsel dan Jepang. Pyongyang memang sebelumnya telah berjanji untuk melakukan pembalasan atas latihan militer Korsel yang dipandang sebagai persiapan perang.

Presiden AS Donald Trump tengah melakukan pertemuan dengan PM Jepang Shinzo Abe di Florida Amerika saat Korut melakukan uji rudal balistik bulan lalu. Trump saat itu, menyatakan akan melindungi Jepang atas gangguan Korut. AS juga menekan Cina agar bisa mengendalikan Pyongyang.

Selasa (7/3), Trump kembali melakukan komunikasi dengan PM Abe, membahas peluncuran rudal balistik Korea Utara pada Senin (6/3) pagi.

“Jepang dan Amerika Serikat menegaskan bahwa peluncuran rudal Korea Utara terbaru jelas melanggar resolusi PBB dan merupakan provokasi terhadap masyarakat regional dan internasional,” kata Abe saat saat melakukan jumpa pers, sebagaimana dilansir Reuters.

“Ancaman (Korea Utara) telah memasuki fase baru,” simpul Abe.

Jepang tengah bersiap untuk berlakukan status siaga tertinggi setelah Korut menembakkan empat rudal balistik secara bersamaan ke perairan di dekatnya.

“Tiga dari rudal jatuh ke zona ekonomi eksklusif Jepang, satu lainya jatuh sekitar 350 km sebelah barat dari prefektur Akita,” kata juru bicara pemerintah Yoshihide Suga, Selasa (7/3). Jepang masih menganalisis jenis rudal yang baru diluncurkan itu.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe kepada anggota parlemen mengatakan bahwa peluncuran tersebut jelas menunjukkan ancaman terbaru dari Korut dengan level yang lebih tinggi.

“Kemampuan nuklir dan rudal Korut ini benar-benar meningkat, dan mereka menjadi lebih sulit diprediksi. Rudalnya semakin dekat ke perairan dan wilayah Jepang,” kata Abe.

Korut diketahui meluncurkan 4 rudal balistik pada Senin pagi dari barat laut negara itu. Juru bicara Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (Korsel), Roh Jae-cheon mengatakan, rudal terbang sejauh 1.000 km ke Laut Timur, juga dikenal sebagai Laut Jepang.

“Kecil kemungkinannya jenis rudal balistik itu adalah rudal antar-benua,” katanya.

Menurut kantor kepresidenan Korsel, Trump juga telah berbicara dengan Presiden Korea Selatan Hwang Kyo-ahn membahas soal peluncuran rudal Korut terbaru, dan mengatasi ketegangan ini.

“Membalas tanpa ampun”

Pernyataan sangat berbahaya keluar dari pihak Korea Utara. Menurut kantor berita resmi negara itu KCNA, pihak Korut akan “membalas tanpa ampun” terhadap “penghasut perang” (AS) karena telah melakukan latihan perang gabungan dengan Korsel.

Presiden Korut Kim Jong Un telah memerintahkan Angkatan Darat Korut untuk bersiaga penuh dengan situasi terakhir yang bisa saja dapat memicu perang setiap saat.

Kebuntuan diplomatik dan ancaman perang nuklir

Menurut para diplomat, AS dan Jepang telah meminta pertemuan dengan Dewan Keamanan PBB tentang peluncuran rudal Korea Utara terbaru, pertemuan kemungkinan akan dijadwalkan Rabu (8/3).

Selain itu, sistem anti-rudal yang mulai disebar AS di Korsel juga pada akhirnya menyebabkan kebuntuan diplomatik antara Cina dan Korea Selatan.

Cina telah menutup hampir 24 toko ritel di Korea Selatan Lotte Group, yang pekan lalu menyetujui pertukaran lahan dengan militer negara itu untuk dipasangi sistem anti-rudal.

Media pemerintah Cina Global Times memperingatkan kemungkinan meletusnya perang di semenanjung Korea karena adanya latihan militer AS-Korea Selatan serta peluncuran rudal Korea Utara.

“Masyarakat Cina marah bahwa program nuklir Pyongyang telah menjadi alasan bagi Seoul untuk menyebarkan sistem anti-rudal THAAD,” kata editorial media tersebut.

Cina merasa menjadi objek penyebaran THAAD, dan mengatakan wilayahnya adalah target sistem radar jarak jauh itu, kendati Korea Selatan dan AS telah menyatakan bahwa sistem tersebut hanya ditujukan untuk membatasi provokasi Korea Utara.

Penyebaran THAAD di sejumlah titik di Korea Selatan bisa rampung dalam jangka waktu satu atau dua bulan. Apakah perang terbuka akan kembali meletus di semenanjung Korea? Semoga tidak. []

Baca juga:

Kembali Tegang dengan Korut, Korsel – AS Latihan Militer Rutin Skala Besar

Korut Uji Rudal, Jepang Marah, AS Hindari Eskalasi

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here