AS Sebut Ada Pembersihan Etnis Rohingya, Ini Buktinya

1
234
Momtaz Begum, warga Rohingya yang dibakar rumahnya. Tiga anak lelakinya tewas dan seorang anak perempuannya disiksa FOTO Reuters

Nusantara.news, Washington – Secara resmi, akhirnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyebutkan operasi militer tentara Myanmar terhadap warga Rohingya di Rakhine Barat bagian utara, sebagai pembersihan etnis. Untuk itu Pemerintah AS akan menerapkan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung atas terjadinya “kejahatan kemanusiaan yang sangat mengerikan” itu.

Demikian pernyataan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson kepada wartawan, Rabu (22/11) kemarin. “Situasi di negara bagian Rakhine utara merupakan pembersihan etnis terhadap Rohingya,” tegasnya.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson berbicara kepada media saat konferensi pers setelah bertemu Aung San Suu Kyi di Naypyidaw pada 15 November 2017. Foto AFP

“Amerika Serikat juga akan meminta pertanggungjawaban dengan menggunakan hukum AS, termasuk kemungkinan sanksi kepada mereka yang bertanggung jawab atas dugaan penyiksaan yang telah memaksa ratusan ribu Rohingya mengungsi ke Bangladesh,” ucap Tillerson sebagaimana dikutip dari Reuters.

Memang, sebelumnya pemerintah AS terkesan gamang menyikapi konflik dalam negeri Myanmar. Sebab, secara geopolitik Myanmar adalah negara yang bisa menghubungkan daratan China dan Samudera Hindia tanpa melalui Selat Malaka. Kalau Myanmar jatuh ke tangan China, negeri tirai bambu itu bisa langsung mengancam kepentingannya di Asia Selatan.

Namun sekarang tampaknya AS mengubah pendiriannya. Itu juga tidak terlepas dari desakan mitra-mitranya Kanada, Uni Eropa dan Australia untuk meningkatkan tekanan kepada pemimpin militer dan sipil Myanmar yang sejak tahun 2012 berbagi kekuasaan di negara yang sebelumnya bernama Burma itu. Sebelum ini selama lebih dari setengah abad Myanmar dikendalikan oleh rezim militer.

Secara resmi, sejumlah Organisasi penggiat hak-hak azasi manusia (HAM) telah menuduh militer Myanmar melakukan pembunuhan, pemerkosaan massal dan pembakaran, terhadap warga Rohingya setelah pemberontak Rohingya melancarkan serangan terkoordinasi ke 30 pos polisi dan sebuah pangkalan militer pada 25 Agustus. Akibatnya, tercatat lebih dari 600 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

“Penyiksaan oleh mereka yang berasal dari militer, pasukan keamanan dan warga biasa Burma ini telah menyebabkan penderitaan mengerikan dan memaksa ratusan ribu pria, wanita dan anak-anak meninggalkan rumah mereka,” ungkap Tillerson.

Mengulangi kecaman AS terhadap serangan pemberontak, Tillerson mengatakan provokasi apa pun, termasuk serangan pemberontak, tidak bisa menjadi alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan mengerikan seperti dialami Rohingya.

Pemerintahan Myanmar pimpinan peraih Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, mendapatkan tekanan internasional yang hebat akibat responnya terhadap krisis Rohingya, kendati diakui tak bisa mengendalikan militer yang menjadi mitra berbagi kekuasaan.

“Ini situasi yang tidak sepenuhnya dalam kendali kekuasaan dia, tetapi jelas kami mengandalkan dia untuk menunjukkan kepemimpinannya dan juga bekerja lewat pemerintahan sipil dengan militer guna mengatasi krisis ini,” kata seorang pejabat senior AS.

Pembersihan Etnis

Sebagaimana dilaporkan Reuters, tentara Myanmar disebut-sebut pelaku utama pembakaran perkampungan warga Rohingya di Rakhine. Reuters juga telah mengumpulkan gambar-gambar korban kejahatan kemanusiaan yang berhasil melintasi perbatasan.

Diantara korban terdapat nama Ansar Allah, lelaki berusia 11 tahun. Bocah itu kakinya ditembak tentara Myanmar. “Mereka memberongi kami dengan tembakan saat rumah kami terbakar,” ucap ibunya, Samaria. Peluru sebesar setengah telunjuk jari bersarang di kakinya. “Saya tidak bisa berhenti berpikir, mengapa Tuhan menempatkan kami dalam situasi berbahaya itu?” keluh ibunya.

Selain itu ada dua bocah dua bersaudara, Mohamed Heron dan Mohamed Akter. Terdapat luka bakar serius di tubuhnya kedua bocah malang itu. Berdasarkan penuturan pamannya, tentara Myanmar menjatuhkan roket ke desa mereka. Dua saudara anak ini meninggal dunia.

Kenyataan itu sudah pasti tidak sesuai pernyataan resmi militer Myanmar. Pekan lalu militer Myanmar merilis hasil pemeriksaan internal yang hasilnya, tidak ada satu pun kesalahan dilakukan oleh serdadunya sebagaimana bukti yang dituduhkan. Padahal faktanya, berdasarkan penyelidikan sejumlah Lembaga HAM internasional, PBB berkesimpulan kejadian di Myanmar sebagai “contoh buku teks tentang pembersihan etnis”.

Anwara Begum

Tidak percaya? SImak pengalaman Anwara Begum yang rumahnya terbakar saat dia terbangun. Perempuan 36 tahun itu keluar dari kobaran api yang melelehkan pakaian nilon yang meleleh di lengannya. Sang suami pun menggotongnya selama delapan hari untuk berjalan hingga tiba di sebuah kamp pengungsi Bangladesh. “Saya pikir saya akan mati, saya berusaha tetap hidup untuk anak-anak saya,” ucapnya sambil berlinang air mat.

Ada juga kesaksian Imam Hossain (42), Ketika puang dari mengajar di sebuah sekolah Islam di desanya dia diserang oleh tiga orang bersenjatakan pisau. Esok harinya dia menyuruh istri dan kedua anaknya pergi bersama-sama penduduk lainnya mengungsi ke Bangladesh. Hossain sendiri menyusul dan sudah tiba di kamp pengungsi Cox’s Bazar. Tapi dia belum nemenukan keluarganya.

“Saya ingin bertanya kepada pemerintah Myanmar mengapa mereka melukai orang Rohingya? Mengapa umat Buddha membenci kami? Mengapa mereka menyiksa kami? Apa yang salah dengan kami?” protes Hossain sebaimana dikutip Reuters.

Nur Kamal

Lain lagi cerita Nur Kamal (17). Luka di kepalanya didapat dari tentara Myanmar yang menyerang dirinya saat bersembunyi di rumahnya. “Mereka memukul kepala saya awalnya dengan gagang senapan dan kemudian dengan pisau,” kenangnya.

Sedangkan Abdurrahman saat bersama pengungsi lainnya berusaha melarikan diri disergap oleh penyerang tak dikenal menggunakan golok. Tiga jari kakinya terluka akibat serang itu. Toh begitu dia masih sanggup berjalan selama 2 hari hingga mencapai kamp pengungsi. “Masa depan kami tidak bagus. Allah harus membantu kami. Masyarakat Internasional harus bersikap,” pinta Abdurrahman.

Ada lagi Momtaz Begum, perempuan usia 30 tahun yang bersaksi, tentara datang ke desanya dan minta uang. “Saya mengatakan kepada mereka saya miskin dan tidak memiliki apa-apa. Salah satu dari mereka mulai memukuli saya, mengatakan, ‘Jika anda tidak punya uang, maka kami akan membunuh anda,'” beber Momtaz kepada Reuters.

Apa yang terjadi kemudian. Mereka menguncinya di dalam rumah dan membakar rumahnya. Ketika api padam dia temukan tiga anak lelakinya tak bernyawa. Anak perempuannya pun terlihat luka-luka habis dipukuli dan berdarah. “Apa yang bisa saya katakan tentang masa depan, jika sekarang kami tidak memiliki makanan, rumah, keluarga. Kami tidak dapat memikirkan masa depan. Mereka juga telah membunuh itu.”

Begitulah kejinya tentara Myanmar kepada warga Rohingya. Jadi sudah betul apabila pemerintah AS menyebut ada pembersihan etnis di Rohingya. Semoga dengan pernyataan AS itu Aung San Suu Kyi membuka mata hatinya, membolehkan dunia membantu pemulangan warga Rohingya ke desanya. Tentu saja dengan jaminan tidak ada lagi kejahatan kemanusiaan yang serupa.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here