Asal Usul Simbol ‘Singo’ Khas Kota Malang

0
180
Patung Singa di Taman Turnojoyo, Kota Malang (Sumber, Imgrum)

Nusantara.news, Kota Malang – Kota Malang terletak di dataran tinggi yang diapit oleh beberapa gunung di Jawa Timur, Arjuno, Panderman, Penanggungan dan Semeru. Kota Malang memiliki luas 145,28 km2 dengan penduduk 895.387 jiwa per 2016.

Dahulu Karasidenan Malang pada saat zaman kolonial Belanda mencakup area yang luas, meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kota Batu, Kota Malang, Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo Kini hanya tinggal kawasan yang disebut Malang Raya yakni yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Kota Malang identik dengan simbol dan lambang singa (red jawa: singo). Tidak hanya karena lambang singa digunakan pada salah satu tim sepakbola Kota Malang yakni Arema, namun terlebih dari itu simbol dan lambang singa memiliki sejarah rentetan yang panjang.

Salah satu hal yang mempengaruhi pemakaian simbol dan lambang singa yakni simbol salah satu kerajaan yang pernah berjaya dan termasyhur yang terletak terpusat di kawasan Malang, yakni Kerajaan Singhasari. Kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan terbesar dan cukup dikenal di penjuru Nusantara.

Kerajaan Singhasari ini merupakan cikal-bakal atau salah satu embrio dari Kerajaan Majapahit, yang merupakan kerajaan yang terluas kekuasaanya hingga luar negri peninggalannya, serta merupakan salah satu kerajaan yang disebut sebagai Nusantara II, karena majapahit dahulunya dapat menyatukan nusantara dibawah kekuasaannya setelah kerajaan sriwijaya makanya menjadi Kerajaan Nasional Nusantara II.

Beberapa peninggalan Kerajaan Singhasari pun meyisakan beberapa patung-patung singa, beberapa diantarannya ada pada dua candi yang berada di wilayah Malang dan dibangun pada masa Majapahit yakni, Candi Jago dan Candi Kidal juga terdapat patung sosok singa. Walaupun sedikit berubah, di relief candi Jago juga terdapat cerita mengenai singa sebagai lawan dari banteng.

Sosok singa yang ditampilkan pada candi ini biasa diasosiasikan sebagai penjaga dari sebuah kota atau kerajaan. Hewan ini diharap mampu menjadi simbol pelindung sebuah kota atau negara dari serbuan lawan serta menghalau serangan berbagai makhluk halus, menginga singa merupakan salah satu binatang yang memiliki kekuatan, bahkan disebut sebagai Raja Hutan Rimba.

Makna pemakaian simbol dan lambang singa, yang diartikan sebagai pelindung, kekuatan, dan keberanian yang kemudian hewan tersebut dijadikan identitas Malang. Bahkan, perilaku masyarakat Malang yang serba buka-bukaan dan lugas seakan menunjukkan bahwa mereka memiliki jiwa singa. Jadi tidak heran jika Malang identik sebagai kandang singa.

Menjadi Lambang Kota Malang

Kejayaan Kerajaan Singhasari yang kemudian pada masa kolonial Hindia Belanda, menduduki Malang mengambil simbol kota dengan simbol singa yang mendominasi simbol Kota Malang. Singkat cerita pada tahun 1 April 1914 Kota Malang resmi berkembang menjadi kota pemerintahan yang dibentuk oleh Kolonial Belanda kala itu. Lambang pertama dikenalkan pada tahun 1921 dan yang kedua pada tahun 1936. Lambang dan semboyan kota (Gemeente) Malang baru ditetapkan secara resmi pada 1937.

Bermula lambang Gemeente Malang (Kota Malang pada saat masa penjajahan) mulai dikenalkan pada tanggal 17 Juni 1921 yang berwujud dua ekor singa Belanda (De Nederlandsche Leeuw), yang dikarang oleh seorang ahli sejarah Belanda dari Batavia, Dr. Frederik de Haan.

Lambang Gemeente Malang terinspirasi dari Kerajaan Singhasari yang merupakan salah satu kerajaan kuno yang pernah berdiri di wilayah Malang pada abad XIII. Lambang Kota Malang tersebut berupa dua ekor singa Belanda yang mengapit sebuah perisai berwana dasar biru.

Di tengah perisai, digambar setangkai bunga teratai berwarna putih, bunga tersebut bermakna ‘Sari’ dan seekor singa ‘Singha’ sehingga bila kedua kata itu digabungkan akan menjadi Singhasari. Bunga teratai dan singa itu mengambang di atas air yang tampak bergelombang.

Tangkai bunga teratai tersebut tepat berada di tengah-tengah singa yang berjalan gagah dengan menjulurkan lidahnya yang berwarna merah. Hal tersebut melambangkan arti nama Malang yang konon berarti melintang, menghalangi atau menghalang jalan. Kemudian ditambahkan sebuah semboyan dalam Bahasa Latin yang berbunyi Malang ‘Nominor Sursum Moveor’ yang berarti Malang Kotaku Maju Tujuanku (Staadsgemeente Malang 1914-1939: XLVII).


Lambang tidak resmi Stadsgemeente Malang pada tahun 1921 (Sumber: Wikipedia)

Selang beberapa waktu, Hooge Raad van Adel (Dewan Tinggi Bangsawan) menolak mahkota desain awal, dikatakannya karena tidak sesuai dengan kebiasaan umumnya dan beberapa komposisi lambang tersebut. Menurut mereka jenis mahkotadesain awal tersebut tidak dapat diterima karena mahkota pada lambang harus berbentuk sama dengan semua kota lainnya.

Hooge Raad van Adel juga menolak semboyan ‘Malang Nominor Sursum Moveor’ dicantumkan. Akhirnya lambang Gemeente Malang tersebut diganti dengan mahkota sebagaimana lambang-lambang kota yang digunakan oleh Belanda tanpa adanya semboyan ‘Malang Nominor Sursum Moveor’.  Setelah diganti, Dewan kota (Gemeenteraad) akhirnya mengadopsi desain baru.


Lambang tidak resmi Stadsgemeente Malang pada tahun 1930, Perombakan pada
Mahkota dan hiangnya Semboyan  (Sumber: Wikipedia)

Adapun, usulan menyusul untuk menyempurnakan lambang Stadsgemeente Malang. Usulan terbaru yang diberikan yakni pada gambar di bagian perisai. Perisai yang sebelumnya bergambar singa yang berdiri ditengah teratai dan dibelakangnya ada setangkai bunga teratai berwarna putih yang mengambang diatas air.

Usulan perubahan perisai pada
Lambang Stadsgemeente Malang (Sumber: Wikipedia)

Perisai tersebut dirubah menjadi seekor singa yang sedang berjalan dengan lidah berwarna merah menjulur. Di bagian pojok kiri atas terdapat setangkai bunga teratai yang berwarna hijau dengan latar warna putih.

Dalam diskusi dan perdebatan yang lumayan panjang, akhirnya pada 7 Juni 1937, Hooge Raad van Adel menyetujui semboyan ‘Malang Nominor Sursum Moveor’ dicantumkan di lambang Kota Malang tersebut. Hal ini diketahui dengan ditetapkannya lambang Stadsgemeente Malang dengan surat keputusan Stadsgemeenteraad  tanggal 7/6/1937 No. AZ 407/43 dan disahkan Gouvernement Besluit dd. 25 April 1938 N. 027 dengan semboyan ‘Malang Nominor Sursum Moveor’.

Lambang resmi pertama Kota Malang  tersebut berupa perisai berwarna biru dengan mahkota kuning emas berdasar merah dibawahnya sedang dibawa oleh dua ekor singa. Ditambahkan pita yang menjuntai yang berbunyi ‘Malang Nominor Sursum Moveor’,

Terdapat setangkai bunga teratai di atas potongan gelombang berwarna perak dengan seekor singa berlidah merah di depannya. Di atas perisai terdapat mahkota emas terdiri atas tiga daun dan dua mutiara. Makna lambang ini merupakan bagian dari kerajaan Belanda, singa di dalam perisai adalah simbol kepahlawanan dan bunga teratai putih berarti kesucian.

Lambang resmi Stadsgemeente Malang tahun 1937 (Sumber: Wikipedia)

Gejolak rakyat Indonesia dalam dinamika perebutan kekuasan ditangan penjajah, akhirnya rakyat Indonesia meraih kemerdekaan atas penjajahan Kolonial Hindia Belanda. Berakhirnya perang kemerdekaan tersebut dengan semangat menyingkirkan apa saja yang berbau kolonial, Dewan Kota Malang mengubah lambang Kota Malang.

Tepatnya pada 30 Oktober 1951, DPRD Kotapraja Malang mencabut dan mengganti dengan yang baru berdasar SK DPRD No. 51 dan disahkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 237 tanggal 29 November 1954.

Dikukuhkan lambang baru Kotapraja Malang berupa burung Garuda berwarna kuning emas yang membentangkan sayapnya. Di dadanya tergantung perisai berwarna hijau yang berlukiskan Tugu dengan untaian padi dan kapas pada kanan kirinya, disertai harimau, dan bungai teratai putih yang berkembang. Di bawah telapak kaki harimau terdapat pita yang berjuntai dengan semboyan Malang Namaku Maju Tujuanku.

Mulai dari sini, Tugu menjadi sorotan dan identitas baru bagi Kota Malang. Sejarah Tugu Kota Malang adalah simbol perjuangan arek-arek Malang mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang kala itu di bombardir oleh Belanda pada saat Agresi Militer I. Di monumen Tugu tersebut perang agresi kegigihan arek-arek malang tak sedikit pejuang yang gugur di kawasan monumen tugu tersebut.

Lambang Kotapraja Malang pada tahun 1951 (Sumber: Wikipedia)

Lambang Singa Berganti Tugu

Seiring bergulirnya waktu, peringatan 50 tahun berdirinya Kotapraja Malang pada 1964, terjadi pergantian lambang yang tetap hingga seperti saat ini. Lambang Kota Malang berganti dengan simbol Tugu dan Bintang disertai semboyan Malangkuçeçwara.

Keputusan itu dituangkan dalam keputusan DPRD No. 7/DPRDGR tertanggal 10 April 1964. Semboyan itu diusulkan oleh Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, seorang sejarawan terkenal.

Malangkuçeçwara berasal dari kata mala, angkuśa dan iśwara. Mala berarti segala sesuatu yang buruk atau kotor, kecurangan, kepalsuan, atau bathil; angkuśa berarti menghancurkan atau memusnahkan; dan iśwara berarti nama lain dari Śiwa atau Tuhan.

Lambang Kota Malang yang ditetapkan pada 1970-sekarang

Jadi, terjemahan bebas semboyan tersebut adalah Tuhan menghancurkan yang batil, atau menegakkan kebenaran. Kata Malangkuçeçwara karena kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkuçeçwara.

DPRDGR mengkukuhkan lambang Kotamadya Malang dengan Peraturan Daerah (Perda) No. 4/1970 tertanggal 14 Juli 1970. Lambang Kotamadya Malang baru secara final tersebut berupa perisai bersudut lima dengan warna merah putih. Dasar perisai berwarna hijau, bintang bersudut lima berwarna kuning, dan monumen Tugu di tengah berwarna biru serta pita putih dengan semboyan Malangkuçeçwara.

Sedangkan, arti warna pada lambang Kota Malang yaitu Merah Putih melambangkan bendera nasional Indonesia, Kuning melambangkan keluhuran dan kebesaran, Hijau melambangkan kesuburan, dan Biru Muda melambangkan kesetiaan pada Tuhan, negara dan bangsa.

Segi lima berbentuk perisai bermakna semangat perjuangan kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Bintang adalah salah satu lambang dalam Garuda Pancasila yang berarti Ketuhanan Yang Maha Esa. Terdapat Tugu Kemerdekaan di tengah-tengah lambang. Lima lingga dan bambu runcing mengandung pengertian kebesaran Pancasila kesatuan dan persatuan yang kokoh.

Eksistensi lambang singa meskipun sudah tidak dipakai lagi pada simbol kota, namun tetap hidup di jiwa masyarakat Malang. Lambang dan simbol singa kembali dipakai sejak digunakan oleh Arema, yakni salah satu Tim Kesebelasan Sepakbola Kota Malang,yang kemudian juga dipakai sebagai julukan tim yakni ‘Singo Edan’. Arema lahir di Malang pada 11 Agustus 1987, Penggunaan lambang singa juga sebenarnya juga dengan alasan yang cukup sepele karena tanggal lahir dari Arema yang dinaungi rasi bintang Leo.

Logo Tim Kesebalasan Sepakabola Arema Malang

Namun berkat hal itu justru simbol singa yang dipakai Arema semakin melekat dengan masyarakat dan sejarah Malang, mengingat antusiasme masyarakat yang tinggi dengan sepakbola dan Malang pada zaman dahulu kala merupakan pusat salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, yakni Kerajaan Singhasari. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here