Aspal Campur Limbah Plastik di Ruas Gempol – Bangil

0
98
Ujicoba jalan aspal campur plastik di Gempol-Bangil

Nusantara.news, Surabaya – Provinsi Jawa Timur menjadi lokasi ke lima, tempat uji coba teknologi aspal campur plastik setelah sebelumnya dilakukan di Bali, Bekasi, Makassar dan Solo. Lokasi uji gelar aspal campur plastik itu dilakukan di ruas jalan nasional Gempol Batas Kota Bangil tepatnya di kilometer 35 + 800 hingga 36 + 800.

Pejabat Pembuat Komitmen Gempol – Bangil – Pasuruan – Probolinggo, Purnyoto, menyebut, sebuah kehormatan karena ruas Jalan Gempol, sampat Batas Bangil sebagai pilot project gelar aspal campur limbah plastik.

Ini merupakan hal yang positif karena limbah plastik yang selama ini dianggap sampah dan tidak dimanfaatkan dengan baik, ternyata bisa dijadikan bahan campuran aspal, dan memiliki kekuatan yang handal.

“Proses pencampuran aspalnya sama dengan aspal hotmix biasa namun kita tambahkan campuran limbah plastik yang sudah di cacah-cacah, memang ada peningkatan biaya sekitar 10 persen, dan dari segi ketahanan meningkat 40 persen,” terang Purnyoto, Selasa (1/11/2017).

Ia menambahkan dalam 1 ton aspal membutuhkan 3,9 kg limbah plastik yang sudah di cacah. Limbah plastik sebagai bahan tambah pada campuran aspal dry process 6 persen terhadap berat aspal. Saat ini limbah plastik yang digunakan masih berasal dari Pulau Jawa dan Bali, dimana proses pengolahan limbah dilakukan di Bandung.

Bahan limbah plastik yang digunakan dalam campuran beraspal panas dibatasi hanya untuk jenis kantong kresek (LDPE/Low Density PolyEthylene) yang telah melalui proses pencucian dan pencacahan. Cacahan limbah plastik yang akan digunakan harus kering, bersih dan terbebas dari bahan organik dengan ukuran maksimal 9,5 mm.

Proses penambahan limbah plastik di Asphalt Mixing Plant (AMP) dilakukan melalui lubang kontrol pugmill. Untuk mempermudah pemasukkan limbah plastik caranya dikemas ulang perkantong dengan takaran berat per-batch campuran aspal.

Proses pencampuran limbah plastik menjadi aspal, mulai dari mencampurkan limbah plastik dengan agregat panas (±1700C). Kemudian diaduk selama 10 detik hingga bahan limbah plastik dapat menyelimuti permukaan agregat. Setelah pengadukan agregat dan limbah plastik, selanjutnya dilakukan pengadukan basah dengan menambahkan sejumlah aspal panas (1600C) selama 35 detik. Campuran beraspal panas dengan bahan limbah plastik telah siap dimobilisasi ke lapangan untuk dilakukan penghamparan dan pemadatan seperti campuran beraspal panas pada umumnya.

Pengolahan plastik untuk campuran aspal

Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi, Rezeki Peranginangin saat menjadi narasumber membahas Diseminasi Hasil Litbang PUPR dengan Tema Penerapan Terbatas Teknologi Aspal Plastik (31/10), kemarin menyampaikan kalau pada umumnya limbah plastik berasal dari domestik dan industri yang jumlahnya setiap tahun meningkat, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi suatu negara.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (2016) menyebutkan, sampah di Indonesia di dominasi oleh kantong plastik atau kresek dan plastik tidak laku atau residu jumlahnya mencapai 62 persen.

“Pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan tambahan pada campuran beraspal panas adalah sebagai salah satu solusi bagi permasalahan limbah plastik yang merupakan wujud dari kepedulian terhadap lingkungan,” kata Rezeki.

Ditambahkan, potensi pemanfaatan limbah plastik dalam campuran aspal sangat besar karena saat ini Indonesia memiliki 49.640 Kilometer jalan Nasional, 38.039 dan kilometer jalan Provinsi dan 346.229 kilometer jalan di kabupaten/kota, sedangkan komposisi aspal campur plastik ini membutuhkan tiga ton kantong kresek untuk setiap satu kilometer jalan lebar tujuh meter dengan spesifikasi standar.

Ini, tentu dapat diterapkan seiring dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, karena dalam perencanaannya Indonesia akan membangun jalan sepanjang 2.600 kilometer yakni jalan nasional, serta 1000 kilometer jalan tol dan pekerjaan pemeliharaan di semua wilayah dengan kebutuhan aspal sekitar 1,5 juta ton per tahun.

Diperkirakan, penggunaan limbah plastik sekitar 6 persen dari kadar aspal. Sebanyak 50 persen probabilitas konstruksi memanfaatkan teknologi jalan limbah plastik. Dari keduanya, potensi penggunaan limbah plastik untuk konstruksi jalan adalah 0,45 juta ton per tahun.

Salah satu bahan tambah yang umum digunakan untuk memodifikasi campuran beraspal panas adalah polimer. Sementara, kantong plastik yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan polimer dari jenis plastomer dan berpotensi untuk digunakan sebagai bahan tambah pengerasan jalan. Selain meningkatkan kinerja campuran beraspal, pemanfaatan limbah plastik juga sangat besar manfaatnya untuk lingkungan dengan berkurangnya sampah plastik.

Penelitian pemanfaatan limbah plastik untuk bahan campuran aspal sudah dimulai sejak 2008, dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Dan atas inisiasi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, penelitian ini dilanjutkan kembali pada awal tahun 2017. Referensi penelitian serupa juga telah dilakukan di India.

Berdasarkan hasil kajian di laboratorium tahun 2017, campuran beraspal panas dengan bahan tambah limbah plastik menunjukkan peningkatan nilai stabilitas Marshall sebanyak 40 persen dan lebih tahan terhadap deformasi dan retak lelah pada kadar limbah plastik tertentu dibandingkan dengan campuran beraspal panas standar.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here