Atasi Kepadatan, Kemenhub Integrasikan Alur Pelayaran Barat-Timur Tanjung Perak

0
92
Warga berfoto dengan latar belakang kapal pesiar MS Artania yang sandar di dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (1/4). Kapal pesiar tersebut mengangkut sekitar 1.260 wisatawan asing yang akan berkunjung ke sejumlah tempat wisata di kota Surabaya. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/pd/17

Nusantara.News, Surabaya – Integrasi menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi jalur maritim. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalu Direktorat Jenderal Perhubungan Laut saat ini tengah membahas rencana penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS) yang terintegrasi dengan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).

“Yang paling utama adalah harmonisasi dan dukungan dari pemangku kepentingan agar nantinya penetapan APTS tersebut dapat dimanfaatkan oleh semua pihak untuk satu tujuan yaitu peningkatan kapasitas dan keselamatan pelayaran di perairan Timur Surabaya,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Rabu (26/4/2017).

Rencana integrasi dua alur pelayaran tersebut dibahas dalam diskusi dengan sejumlah pemangku kepengan terkait dan dibuka oleh Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, Captain Hari Setyobudi di Jakarta.

“Melalui FGD ini diharapkan agar pemerintah bisa mendapatkan masukan terhadap rencana penetapan APTS terkait dengan pengelolaan Alur Pelayaran Timur Surabaya (APTS), khususnya dalam mendukung keselamatan dan keamanan pelayaran serta kelancaran bagi kapal-kapal yang akan keluar maupun masuk di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,” ujar Hari.

Hari menjelaskan bahwa APBS merupakan alur pelayaran yang menghubungkan kapal-kapal yang akan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak dari Laut Utara Jawa, sedangkan APTS merupakan penghubung pelabuhan-pelabuhan di APBS dengan pelabuhan di Jawa Timur antara lain Pelabuhan Pasuruan, Probolinggo, Panarukan, Kalbut, Branta, Kalianget, dan Banyuwangi serta Pelabuhan di wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur.

Terkait dengan hal tersebut, ia mengatakan bahwa saat ini Kementerian Perhubungan sedang menyusun rancangan Keputusan Menteri Perhubungan tentang Penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya.

Adapun latar belakang pentingnya penetapan APTS dimaksud dikarenakan lalu lintas kapal yang keluar masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak sudah sangat padat dan dapat membahayakan keselamatan pelayaran.

Tercatat sedikitnya 50 unit kapal per hari yang keluar masuk di kolam Pelabuhan Tanjung Perak melalui Alur Pelayaran Barat Surabaya. “Artinya, per bulan ada sedikitnya 1.500 unit kapal yang melintas di Alur Pelayaran Barat Surabaya. Betapa riskannya jika terjadi sesuatu yang membahayakan pada Alur Pelayaran Barat Surabaya,” ujarnya.

APBS masih menjadi satu-satunya akses keluar dan masuk kapal ke Pelabuhan Tanjung Perak. Tentunya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada lalu lintas kapal di alur tersebut, maka kepentingan perniagaan di Pelabuhan Tanjung Perak secara keseluruhan akan terganggu.

Karena itu, sejumlah pihak menilai perlu membuka jalur lalu lintas alternatif menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak untuk mengurai kepadatan lalu lintas kapal di APBS.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut A Tonny Budiono, mendukung peningkatan keselamatan pelayaran di wilayah perairan Surabaya melalui pembukaan atau penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya. “Penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar dapat bermanfaat bagi para pengguna jasanya,” ucapnya.

Dengan penetapan Alur Pelayaran Timur Surabaya dimaksud bisa mengurangi kepadatan pada Alur Pelayaran Barat Surabaya sebagai akses keluar-masuk lalu lintas kapal ke Pelabuhan Tanjung Perak dan juga mewujudkan keteraturan, kelancaran serta keselamatan Lalu-Lintas Pelayaran guna mendukung perekonomian di Kawasan Indonesia Bagian Tengah dan Bagian Timur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here