Australia pun Mengusik WNA yang Menjadi Senator di Negaranya

0
137
Lucy Gichuhi asal Kenya yang berhasil menjadi Senator dari negara bagian New South Australian FOTO Jamhuri News

Nusantara.news, Canberra – Sejumlah senator di Australia diduga berkewarganegaraan ganda, dan ini jelas bertentangan dengan perundang-undangan setempat. Di antara Senator itu antara lain Katy Gallagher, Doug Cameron, Arthur Sinodinos dan Peter Georgiou. Tercatat 22 Senator lainnya telah melepas kewarga-negaraan asalnya.

Australia, seperti halnya Amerika Serikat dan Kanada, adalah negeri para pendatang yang sangat multi etnis. Ras dari mana pun ada di sana. Tidak mengeherankan apabila ada Senator Australia berwajah Kaukasoid (Eropa, Timur Tengah, India), Niger (Afrika, Melanesia), Mongolid (Asia Timur) dan berbagai variannya. Namun pada umumnya mereka telah melepas kewarganegaraan asalnya.

Katy Gallagher, senator asal Partai Buruh yang terpilih dari daerah Ibukota Australia, tidak menampik kalau sebelumnya dia juga warga negara Inggris. Namun proses pelepasan kewarganegaraan Inggris, aku Gallagher, telah dia lakukan sebelum proses pendaftaran calon senator ditutup.

Oleh karenanya Gallagher menolak mengajukan dirinya ke Pengadilan Tinggi untuk diputuskan oleh Hakim Pengadilan Tinggi setempat apakah dirinya memenuhi syarat atau tidak.  Sebab, lanjutnya, dia telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melepaskan kewarganegaraan Inggris yang dia dapat dari ayahnya.

Gallagher menegaskan, dirinya telah mengajukan pelepasan kewarganegaraan Inggris sebelum pendaftaran calon Senator ditutup. Tapi sayang, hingga dirinya terpilih Gallagher mengaku belum mendapatkan surat balasan dari Kementerian Dalam Negeri Inggris hingga 16 Agustus 2016 atau dua bulan setelah pencalonan ditutup.

Menjawab kegaduhan di publik Australia tentang Senator berkewarga-negaraan ganda, Perdana Menteri Australia Malcolm Tumbull yang mewakili kekuatan politik koalisi liberal, mendesak politisi Partai Buruh seperti Senator Gallagher yang tak melepaskan kewarganegaraan lain sebelum Pemilu harus diajukan ke Pengadilan Tinggi untuk memutuskan kelayakannya sebagai anggota Parlemen.

Tapi Senator Galagher tetap kukuh dengan pendiriannya, bahwa dia telah mengambil semua langkah penting untuk melepaskan kewarganegaraan Inggris, termasuk membayar biaya administrasi yang diwajibkan. Bahkan penasehat hukumnya yang ahli kewarganegaraan Inggris sudah memastikan bahwa dia sudah mengambil semua langkah yang diperlukan.

Maka Gallagher meskipun di akun Facebook miliknya tidak yakin dirinya akan mendatangi Pengadilan Tinggi, namun nasibnya selaku Senator diserahkan sepenuhnya ke Majelis Kehormatan Senat. Gallagher juga menambahkan, kendati ibunya lahir di Ekuador pada 1943 dari orang tua berkebangsaan Inggris namun dirinya tidak pernah menjadi warga negara Ekuador.

Pertarungan Politik

Selain Gallagher, di Partai Buruh ada anggota Senat lainnya yang bermasalah dengan kewarganegaraan. Senator itu bernama Doug Cameron yang diduga masih menjadi warga negara Lithuania. Padahal Cameron yang lahir di Skotlandia telah melepaskan kewarganegaraan Inggrisnya sebelum mencalonkan diri menjadi anggota Parlemen Australia.

Merujuk pada formulir yang diserahkan ke pantia pendaftaran Pemilu, kakek dari ibu Cameron adalah warga negara Lithuania yang merantau ke Skotlandia sebelum ibunya lahir pada 1915. Tahun 2016 lalu Lithuania mengubah Undang-Undang yang memungkinkan kewarganegaraan ganda kepada diaspora Lithuania yang orang tua atau kakek neneknya meninggalkan negara itu sebelum 1940.

Menjawab tudingan itu, Senator Cameron menjawab santai tudingan yang berkembang di sejumlah media Australia. “Untuk menjadi warga negara Lithuania seseorang (yang berasal dari diaspora Lithuania) harus mengajuan. Dan saya dapat memastikan saya tak pernah mengajukan permohonan kewarganegaraan Lithuania,” jawab Cameron.

Ternyata, isu kewarganegaraan dobel yang “digoreng” koalisi Liberal dan Nasionalis Australia yang sedang berkuasa untuk menyerang Partai Buruh yang sekarang berstatus oposisi di Parlemen, ibarat memercik air di dulang menciprat di muka sendiri, juga mengenai mitra koalisinya dari Partai Liberal dan Partai One Nation.

Arthur Sinodidas dari Partai Liberal Demokrat dan Peter Georgiou dari Partai One Nation, ditengarai keduanya sama-sama memiliki orang tua asal Yunani yang memungkinkan keduanya juga warga negara Yunani dari garis keturunan.

Anggapan itu pun dibantah oleh Senator Sinodidas yang memastikan bahwa dirinya telah mendapat nasehat hukum yang mengonformasikan dia bukan warga negara Yunani dan tak berhak untuk mendapat kewarganeraan itu.  Sebagai bukti, Sinodidas pun mengunggah surat dari Kedutaan Yunani di akun Twitter miliknya.

Hal serupa dilakukan Senator Georgiou yang juga mempublikasikan dokumen dari Keduataan Besar Yunani yang menegaskan dirinya bukan warga negara dari negeri “Seribu Dewa” itu.

Pentingnya Dokumen

Sebelumnya ada satu Senator asal Partai Demokrat Liberal yang diduga berkewarganegaraan ganda. Namanya David Leyonhjelm. Tapi setelah diselidiki, dokumen dari keluarga Leyonhjelm termasuk kakek dan neneknya semua lahir di Australia.

Senator Leyonhjelm memang dibesarkan secara single parents oleh ibunya. Suatu saat dia menulis, “Saya pernah bertanya ke ibu saya, apakah ayah saya benar-benar ayah kandung saya? Tapi dia tampak tersinggung dan sejak itu saya tidak bertanya lagi.”

“Saya menduga, jangan-jangan saya dilahirkan tanpa ayah,” cetus Leyonhjelm.

Terlepas dari semua pembelaan para anggota Parlemen di negeri multi-etnis itu, tapi pemerintah Australia sudah memutuskan, semua anggota Parlemen tanpa pandang bulu memiliki waktu hingga Selasa (5/12) hari ini untuk mempresentasikan dokumen kewarganegaraannya.

Selain itu ada 23 anggota Parlemen Australia yang sudah melepaskan kewarganegaraan asingnya, masing terbanyak dari Inggris (11 orang), Irlandia (2), Italia (2), Fiji (2), Selandia Baru (2) Belgia (1), Kenya (1), Iran (1), dan Malaysia (1).

Dan memang, persoalan kewarganegaraan dobel untuk para pejabat publik bukan dianggap hal yang remeh di hampir semua negara, termasuk Australia. Bagusnya, dokumen kewarganegaraan Australia tertata rapi, bagaimana dengan Indonesia yang amburadul terlebih setelah korupsi e-KTP menggemparkan publik? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here