Awal Tahun 2018, Para Penikmat P2SEM Bakal ‘Disikat’

0
1855
Awal tahun 2018, Kepala Kejati Jatim Maruli Hutagalung memastikan akan menerbitkan surat perintah penyelidikan kasus P2SEM.

Nusantara.news, Surabaya – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim segera mengeluarkan surat perintah penyelidikan untuk kasus mega korupsi P2SEM (Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat) 2008. Ada titik terang kasus ini akan dibuka lagi.

Tertangkapnya dr Bagoes Soetjipto Soelyoadikoesoemo sepertinya menjadi pintu masuk bagi Kejati Jatim untuk mengungkap siapa saja anggota DPRD Jatim periode 2004-2008 yang menjadi penerima aliran dana tersebut. Pasalnya, selama ini kasus P2SEM hanya menyasar para kroco-kroco penerima dana, dan bukan aktor utamanya. Dengan Bagoes bernyanyi ini, pihak Kejati bisa mengetahui aktor-aktor di belakang kasus P2SEM tersebut.

Baca juga: Buronan P2SEM Ditangkap, Begini Hebohnya Korupsi Jatim

Kepala Kejati Jatim, Maruli Hutagalung menyebut, surat perintah penyelidikan kasus P2SEM akan dibuka awal tahun 2018. “Kita mulai awal tahun. Karena kalau sekarang saya mengeluarkan masuk dalam tunggakan kalau enggak selesai karena ini akhir tahun. Nanti saya akan keluarkan surat perintah penyelidikan dulu ya. Penyelidikan, bukan penyidikan lho ya,” terang Kajati Jatim ini di sela-sela pemusnahan barang bukti miras di Mapolda Jatim, Surabaya, Kamis (21/12/2017).

Kasus P2SEM merupakan kasus korupsi paling heboh di Jatim. Dalam kasus tersebut, diduga melibatkan banyak anggota DPRD Jatim periode 2004-2009 dan beberapa pejabat tinggi di Pemprov Jatim.

Mekanisme pengucuran anggaran P2SEM dilakukan secara hibah yang diikat melalui Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD), sehingga berlakulah hukum perjanjian hukum perdata yakni Pasal 1666 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang merupakan pemberian Cuma-Cuma.

Saat itu kegiatan P2SEM dianggarkan dalam APBD melalui belanja hibah, kode rekening 51405001 sebesar Rp. 1.475.452.300.000 dan realisasi sampai dengan 31 Desember 2008 sebesar Rp. 1.283.926.009.927 (data dari laporan atas kepatuhan dalam kerangka pemeriksaan laporan keuangan provinsi jawa timur tahun anggaran 2008, oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Jatim tanggal 25 Mei 2009).

Namun demikian, ujung-ujungnya ternyata di lapangan program P2SEM ini banyak bermasalah, diselewengkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, mulai dari pelaksanaan program yang tidak jelas sampai dugaan LSM fiktif. Yang lebih mencengangkan rekomendasi yang dikeluarkan anggota DPRD Jatim untuk lembaga penerima ternyata banyak yang diperdagangkan.

Tidak sedikit para wakil rakyat itu melalui para makelar proposal momotong dana yang diperoleh, sebagai kompensasi diberikannya rekomendasi. Sudah menjadi rahasia umum, anggota dewan meminta bagian 70 %, 30 % sisanya untuk lembaga penerima. Mereka yang seharusnya menjadi pengontrol program pemerintah malah ikut-ikutan terlibat dalam pelaksanaan program.

Wajarlah jika dana miliaran rupiah tersebut kemudian hangus begitu saja. Dana hibah tersebut disebar untuk kemudian dibuat bancakan. Beberapa orang yang terlibat penggunaan dana P2SEM bahkan sudah ada yang divonis dan kini bebas, seperti mantan Ketua DPRD Jatim almarhum Fathorrasjid. Namun demikian, banyak pihak menilai pengusutan belum tuntas.

Maruli menuturkan, pihaknya akan memulai penyelidikan dari dr Bagoes yang kini sudah mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo. “Pasti (mulai) dari situ (dokter Bagoes), karena mantan ketua DPRD-nya (Fathorrasjid) yang sudah dihukum baru-baru ini meninggal dunia,” katanya.

Padahal, lanjut Maruli, kalau ada Fathorrasjid dan dr Bagoes akan lebih kuat lagi alat buktinya. “Jadi kuncinya ke dokter Bagoes, seperti Nazaruddin (saksi kunci berbagai kasus korupsi kakap ditangani KPK),” ujar Maruli.

Semasa hidup Fathorrasjid pernah menyebutkan beberapa anggota DPRD Jatim periode 2004-2009 yang terlibat korupsi P2SEM. Antara lain RB Rp 31 miliar dari fraksi PAN, AS Rp 18 miliar dari fraksi PKS, AJ Rp 17 miliar dari fraksi PKB, FA Rp 12,25 miliar dari fraksi PPP, ALS Rp 11,55 miliar dari fraksi Golkar, SH Rp 9,5 miliar dari fraksi Demokrat, AN Rp 5,580 miliar dari fraksi PKB, RH Rp 5,560 miliar dari fraksi Golkar, DM Rp 3,5 miliar dari fraksi PKB, dan RA Rp 2,5 miliar dari fraksi Demokrat. Selain nama-nama tersebut, disebutkan juga nama-nama mantan anggota DPRD Jatim yang turut mendapatkan dana hibah P2SEM senilai total Rp 225 miliar itu, seperti JW dari PDI-P.

Baca juga: Peran dr Bagoes dan Daftar Anggota DPRD Jatim Penikmat P2SEM

Menurut Fathorrasjid kala itu, mereka-mereka inilah penikmat utama dana hibah khususnya dari para anggota DPRD Jatim periode 2004-2009. Merekalah perekom dan juga penikmat hasil korupsi P2SEM, namun hingga sekarang belum tersentuh hukum. Perhitungan nilai dugaan penyelewengan dana hibah yang dinikmati para oknum tersebut, merupakan hasil investigasi dari tim Presidium Aliansi Masyarakat Jawa Timur dan Korban Politik P2SEM (Jatim-AM) yang saat itu diketuai Fathorrasjid.

Karena itu, dalam mengusut kasus P2SEM, Maruli menegaskan tidak segan-segan menindak siapapun pihak yang terlibat kasus P2SEM, termasuk pejabat di lingkungan Pemprov maupun anggota DPRD Jatim. “Siapapun yang terlibat (kasus P2SEM) akan kita tindak, baik dia pejabat tinggi atau siapa saja. Sepanjang ada indikasi kuat, kita akan tindak,” katanya.

Ditambahkan Maruli, apapun keterangan dr Bagoes nanti, pihaknya pasti akan menindaklanjuti. Bahkan jika dr Bagoes menyebut nama-nama pejabat terkait, maka pihaknya memastikan tidak akan tebang pilih dalam mengusut kasus P2SEM.

“Saya sudah bilang, kalau korupsi sama saya itu tidak ada tebang pilih. Siapapun yang terlibat dalam kasus P2SEM dan indikasinya kuat, pasti kita tangani,” tambahnya.

Maruli juga berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama memberantas korupsi. Jika ada informasi soal korupsi, masyarakat bisa melapor ke Kejati dan Kejari di seluruh Jatim. “Untuk para koruptor bertobatlah supaya negara ini menjadi bagus. Seharusnya pembangunan ini sesuai Nawa Cita Presiden RI Jokowi,” tukasnya.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here