Awas, di Jatim Beredar Cabai asal Cina dan India

0
250

Nusantara.news, Surabaya – Wilayahnya diserbu cabai asal Cina dan India, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf langsung mengumpulkan stafnya serta memanggil Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur Ardi Prasetiawan dan Kepala Seksi Penyidikan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya, Retno Kurpaningsih, Kamis (23/2/2017).

Usai melakukan pertemuan, kepada wartawan Saifullah Yusuf mengatakan, Jawa Timur telah memiliki dash board yang anggotanya terdiri dari berbagai instansi, seperti Disperindag, Bea Cukai, BBPOM, Karantina dan lainnya. Tugasnya adalah untuk melakukan pengawasan masuknya produk-produk asing dari luar negeri ke Jawa Timur.

“Tugasnya mengawasi masuknya barang-barang impor, seperti kosmetik atau barang-barang kemasan maupun hasil pertanian, baik dalam bentuk olahan atau segar,” kata Saifullah Yusuf.

Sementara itu, menanggapi soal masuknya cabai asal Cina dan India, Gus Ipul panggilan akrab Saifullah Yusuf tidak menampik. Cabai asing asal Cina dan India diakui telah masuk ke sejumlah pasar tradisional di Jawa Timur. Namun, untuk jumlahnya belum diketahui dengan pasti. Serta aman untuk dikonsumsi masyarakat atau tidak. Soal itu, Gus Ipul kemudian meminta Kepala Disperindag Jawa Timur untuk menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi.

“Memang saat ini di pasar tradisional banyak beredar cabe kering impor dari Cina dan India. Itu menurut data di Disperindag. Kami (Disperindag Jatim) akan menelusuri dan menyelidikinya, apakah benar seperti itu. Apalagi, saat ini cabai rawit di Jawa Timur harganya masih tinggi Rp100 ribu per kilogram,” kata Ardi.

Setidaknya di tiga daerah di Jatim, yakni di Surabaya, Sidoarjo, dan Tulungagung yang ditemukan adanya peredaran cabai Cina dan India. Diprediksi, hasil pertanian itu juga telah merambah daerah lain di Jawa Timur.

“Akan kami cek, apakah cabai asal Cina dan India itu aman dikonsumsi atau tidak,” lanjut Ardi.

Ardi menambahkan, pihaknya juga akan menelusuri apakah peredaran cabai asal Cina dan India itu sesuai aturan atau tidak. Dikatakan, impor cabai asal Cina telah lama dilakukan, tetapi hanya untuk keperluan produksi, bukan untuk dikonsumsi masyarakat.

Dia juga menjelaskan, untuk menelusurinya dia akan merunut asal muasal cabai, apakah didatangkan untuk keperluan produksi atau untuk konsumen.

“Apakah cabai ini didatangkan untuk umum atau konsumsi. Tapi kalau cabai untuk produksi tapi dijual untuk umum, ini melanggar. Ini akan kita telusuri,” tambah Ardi yang duduk bersebelahan dengan Gus Ipul dan petugas dari BBPOM.

Jurus penelusuran akan dilakukan melalui Angka Pengenal Importir Umum (APIU) atau Angka Pengenal Importir Produsen (APIP). “Jika memang melalui APIU, beredarnya cabai itu tidak ada masalah. Sebaliknya jika cabai yang beredar dari APIP, itu bermasalah,” tegasnya.

Namun, saat ditanya pihak importir yang mendatangkan cabai baik dari Cina dan India, pihaknya belum menyebutkan. Termasuk berapa jumlah importir yang biasa mendatangkan komoditas pertanian dari luar negeri masuk ke Jawa Timur serta jumlah atau banyaknya, juga belum dijelaskan.

Dijelaskan, ada tiga jenis cabai yang beredar di pasaran dan menjadi komoditas utama kebutuhan rumah tangga, cabai rawit, cabai merah besar, dan cabai keriting.

“Teman-teman media perlu memahami, ada tiga jenis cabai, yakni cabai rawit yang harganya saat ini masih diatas Rp100 ribu, kemudian cabai merah besar harganya Rp40 ribu, dan cabai keriting harganya Rp28 ribu,” jelasnya.

Penting untu waspada, sebelum mengkonsumsi cabai asing asal Cina dan India, mengingat belum dapat dipastikan keamanan jika mengkonsumsinya. Yang perlu dilakukan adalah mengenali jenisnya. Cabai rawit kering asal Cina yang banyak beredar bermerk MEY, sedang yang dari India merknya PJ. Cabai asal India, oleh pedagang dibeli Rp58 ribu per kilogram kemudian dijual ke masyarakat Rp70 ribu per kilogram, sementara cabai asal Cina, pedagang pasar membelinya Rp42 ribu per kilogram, dijual ke masyarakat dengan harga antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

Sementara, Kepala Seksi Penyidikan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya, Retno Kurpaningsih, menyanggupi akan segera melakukan pengecekan di laboratorium BBPOM Surabaya, dan hasilnya akan diumumkan ke publik.

“Kita akan lakukan pengecekan, apakah cabai asal Cina dan India yang beredar ini layak untuk dikonsumsi atau sebaliknya. Secepatnya, hasil uji laboratorium akan kita umumkan,” kata Retno.

Beredarnya cabai asal Cina dan India di Jawa Timur ini tidak boleh dianggap remeh. Konsumen harus mendapat perlindungan, dan pemerintah juga harus cepat mengambil sikap dan penanganan. Harus ada kepastian komoditas pertanian dari negara asing ini aman untuk dikonsumsi. Yang tidak kalah pentingya adalah upaya untuk mengurai, mengapa bahan kebutuhan dapur ini bisa beredar, tanpa diketahui jumlah dan siapa yang mendatangkannya. Ada apa di balik ini semua? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here