Awas, Indonesia Bisa Terjebak Utang Seperti Negara-Negara PIGS

0
249
Portugal, Irlandia, Greece (Yunani) dan Spanyol adalah negara-negara yang hingga kini terjerat utang dan mengalami gagal bayar (default). Indonesia walaupun dinyatakan aman, namun setiap saat bisa saja terjerembab dalam big trap utang yang makin melilit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

Nusantara.news, Jakarta – Masih segar dalam ingatan Indonesia pernah terjerembab dalam krisis pada 1997-1998 sebagai dampak dari krisis moneter Asia. Belakangan ekonomi global melambat kembali, akankah Indonesia kembali terperangkap dalam kubangan krisis tersebut?

Kalau kita perhatikan, karakter krisis dari waktu ke waktu memiliki perbedaan yang menonjol. Pertama, pada 1997 terjadi krisis nilai tukar yang menghantam baht Thailand, won Korea, yen Jepang, peso Filipina, ringgit Malaysia, dolar Singapura dan rupiah Indonesia.

Indonesia terkena krisis paling lama dan paling dalam, sehingga rupiah terperosok dari Rp2.300 menjadi Rp17.000. Tapi karena krisis hanya melanda Asia, Indonesia masih bisa minta pertolongan ke Prancis, Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), dan Dana Moneter Internasioal (IMF).

Krisis nilai tukar 1998 diperparah dengan krisis politik, sehingga terjadi pergantian kekuasaan. Sejak saat itu hingga kini Indonesia belum terkena krisis lagi. Namun beban utang karena krisis moneter itu masih harus ditanggung hingga 2032 nanti.

Kedua, krisis KPR subprime mortgage di Amerika. Karakternya adalah krisis lokal Amerika lantaran Pemerintah George Walker Bush menerbitkan surat utang untuk membiayai KPR tanpa bunga bahkan tanpa down payment (DP). Alasannya pertumbuhan nilai harga KPR saat itu 20% per tahun, sehingga pengembang tidak perlu lagi mengejar marjin dari bunga maupun DP.

Akhirnya Amerika merasakan beban berat krisis itu hingga 2012, di mana lewat kebijakan mengguyur dolar AS ke pasar, kemudian diikuti kebijakan moneter Quantitative Easing (QE) atau menarik secara perlahan dolar AS yang sudah diguyur untuk menyudahi program membanjiri dolar AS ke pasar.

Selanjutnya diikuti kebijakan menaikkan suku bunga Fed Fund Rate, yang kemudian dikenal kebijakan currency war. Sambil membenahi krisis, Amerika juga menghantam mata uang yuan.

Ketiga, krisis Eropa 2013 sampai sekarang. Di mana hampir seluruh negara Eropa terperangkap utang, kecuali Jerman, Turki, dan Prancis. Tapi yang paling parah adalah Portugal, Irlandia, Greece (Yunani) dan Spanyol, yang kemudian lebih dikenal sebagai negara PIGS (mirip pig, babi).

Krisis ekonomi di Eropa sebenarnya sangat parah, tetapi karena tidak terjadi krisis politik, maka tidak begitu terlihat dari permukaan. Jika dilihat dari dekat segi angka-angka dasar ekonomi negara-negara besar di Eropa akan terungkap betapa besar lubang yang harus ditutupi melalui dana talangan. Inti dari krisis zona euro ini tak lain adalah ketidakmampuan negara membayar utang-utangnya.

Pengalaman Yunani

Guncangan pertama prahara ekonomi terbongkar ketika pemerintahan baru Yunani tahun 2009 mengetahui bahwa defisit anggarannya bukan 3,7% seperti diumumkan, tetapi sudah menyentuh angka 14% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Bisa saja hal ini terjadi di Indonesia ketika terjadi pergantian rezim.

Dengan kata lain, sistem perbankannya hampir gulung tikar. Dari sinilah diketahui bahwa utang pemerintah sudah menggunung sehingga negara seperti Yunani sudah di ambang kebangkrutan.

Kemudian obat baru disuntikkan berupa dana talangan dari IMF dan Eropa sebesar 110 miliar euro pada Mei 2010. Dana untuk membuat Yunani segar kembali sekaligus menghindari Eropa dari krisis parah ini luar biasa besarnya.

Namun, setahun setelah itu Yunani tampaknya benar-benar terjerembab, sulit bangun lagi. Gelombang kedua dana talangan disuntikkan lagi, bahkan melibatkan swasta untuk ikut menanggung beban krisis. Demikian juga Irlandia dan Portugal mendapatkan dana talangan untuk membantu agar pulih lagi.

Tampaknya utang yang melanda negara-negara yang tergabung dalam PIGS sudah mengarah pada gagal bayar (default). Khusus Yunani sudah dua kali mengalami default, sementara yang lainnya tinggal menunggu waktu.

Bagimana dengan Indonesia?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan utang negara masih dalam kondisi aman dengan rasio di bawah 30% terhadap PDB. Sri mengatakan utang pemerintah saat ini masih lebih rendah dari rata-rata yang dimiliki G20 atau negara yang memiliki perekonomian besar.

Rasio utang Indonesia saat ini mencapai 28% terhadap PDB dengan nilai nominal sebesar Rp3.672,34 triliun, sementara defisit ditargetkan sebesar 2,92%. Sehingga tiap warga negara Indonesia harus menanggung beban sekitar Rp14,24 juta.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pernah menyebutkan tiap warga negara Amerika Serikat kini menanggung utang pemerintah sekitar US$62 ribu (Rp824,6 juta) sementara di Jepang masyarakatnya memiliki utang sebesar US$82 ribu (1,09 miliar) per orang.

Menkeu mengatakan dengan defisit anggaran sekitar 2,92%, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat di atas 5%. “Stimulus fiskal mampu meningkatkan perekonomian sehingga utang tersebut menghasilkan kegiatan produktif,” kata dia.

Pemerintah merencanakan menambah utang sebesar Rp76,6 triliun menjadi Rp461,3 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2017. Pada APBN 2017 pemerintah mematok total pembiayaan utang Rp 384,7 triliun.

Utang yang bertambah untuk membiayai defisit anggaran yang di antaranya akibat subsidi energi yang membengkak  hingga Rp25,8 triliun. Pemerintah memperkirakan defisit naik menjadi 2,92% terhadap PDB atau naik Rp67 triliun menjadi Rp397,2 triliun.

Baik jumlah utang maupun defisit terhadap PDB sudah seleher dari batas yang ditolerir UU Keuangan Negara. Utang tidak boleh melewati 30%, sementara defisit tidak boleh melewati 3% dari PDB. Akankah Indonesia aman tenteram dengan jumlah utang yang dikatakan masih aman?

Atau justru setelah ganti rezim baru ketahuan bahwa sebenarnya utang luar negeri kita sudah tembus 50%, sebagaimana fakta yang mengejutkan terjadi di Yunani pasca pergantian kepemimpinan. Siapa yang bakal menanggungnya?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here