Awas, Serangan Wereng Mengancam Lumbung Padi Jawa Timur

0
328

Nusantara.news, Surabaya – Jawa Timur harus bersiap menghadapi serbuan hama wereng batang cokelat (WBC) yang mulai muncul di beberapa daerah. Jika tidak ada langkah antisipasi dini, ketahanan pangan di salah satu provinsi sentra beras nasional ini dapat tereduksi. Bukan tidak mungkin, desakan ekonomi yang terus meningkat memicu gejolak sosial.

Kekhawatiran yang terkesan berlebihan ini memang harus segera ditindaklanjuti. Sebab, serangan serangga yang rakus memakan batang padi muda sudah dilaporkan melanda 10.995 hektar lahan di Kabupaten Bojonegoro. Berdasarkan data Dinas Pertanian (Distan) setempat, serangan sejak Februari 2017 ini mengganggu pola tanam sekitar 20 persen dari total 69.979 hektar sawah pada musim tanam (MT) II kemarau ini.

Data ini diungkap Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Distan Bojonegoro Zaenal Fanani kepada wartawan, Rabu (7/6/2017). Akibat serangan hama wereng cokelat itu, diperkirakan produksi padi dimusim panen nanti menurun. “Serangan hama wereng masih berlangsung, kami belum bisa menghitung tingkat penurunan produksi,” jelasnya.

Bisa dibayangkan jika kondisi itu juga terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur. Selain butuh biaya tinggi untuk pembasmian, kecukupan insektisida sebagai solusi terkadang tidak encukupi. Hal ini diakui Zaenal. “Kalau ada petani meminta bantuan obat pembasmi wereng 50 liter, kami hanya bisa memberikan bantuan 10 liter. Saat ini stok obat pembasmi hanya tersisa 200 liter,” katanya menegaskan.

Seperti yang terjadi di Trenggalek, hama wereng sudah menurunkan hasil panen sekitar 75 persen dari masa panen sebelumnya. Kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan. Untuk hindari kerugian lebih besar, petani terpaksa membabati seluruh tanaman padinya untuk pakan sapi. “Untuk pakan sapi ketimbang rugi lebih besar. Sudah tujuh kali dikasih obat, tetap tidak mempan. Yang rusak seperti ini banyak sekali, terlebih jenis hibrida,” kata Kirom, petani asal Kecamatan Gandusari, Trenggalek beberapa waktu lalu.

Kirom merinci, satu kali pengobatan butuh biaya antara Rp40 ribu-Rp100 ribu, tergantung jenis insektisida yang digunakan. Namun itu tidak menjamin musnah 100 persen, hanya bisa mengurangi karena dipicu anomali cuaca sebagai salah satu faktor munculnya hama wereng. Kendati memasuki musim kemarau, hujan masih turun di beberapa daerah di Jawa Timur.

Selain itu, mulai menghilangnya musuh alami wereng seperti burung dan kumbang akibat penggunaan insektisida berlebih, juga turut menciptakan situasi kekosongan dalam proses pembasmian. Padahal wereng termasuk salah satu hama yang membandel. Satu cara mudah lagi sebenarnya bisa dilakukan. Yakni dengan mengistirahatkan lahan dari menanam padi sekali dalam satu tahun. Hanya saja, cara ini juga harus bersinergi antar daerah. Mengistirahatkan lahan dari tanaman padi akan percuma jika masih ada petani yang menanam padi di kawasan berdekatan.

Sinergi Kebijakan Langkah Ampuh Tekan Kerugian

Berdasarkan data Dinas pertanian Jawa Timur, produksi gabah kering masih stabil pada 2 tahun terakhir. Yakni mencapai 13.154.967 ton pada 2015 dan 13,5 juta ton setahun berikutnya. Namun hasil ini terancam bisa anjlok jika serangan WBC tidak segera diantisipasi di musim tanam kali ini. Apalagi menurut penelitian Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM), dalam 2 tahun terakhir hama dengan perkembangan populasi cepat dan selalu mengancam produksi padi di Indonesia ditempati WBC. Baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Dr. Ir. Sri Nuryani Hidayah Utami, MP., M.Sc, Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UGM, memprediksi tahun ini bakal lebih luas. Terutama jika ada langkah tidak bijak dalam penggunaan pestisida yang justru akan bisa mendorong terjadinya ledakan populasi dan luas serangan yang lebih tinggi di musim mendatang.

“Oleh karena itu, langkah dini sesuai dengan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) perlu diterapkan untuk mengurangi risiko terjadinya ledakan WBC dan virus yang ditularkannya,” kata Sri Nuryani dalam acara FGD tentang Pengelolaan Hama Wereng Batang Coklat beberapa waktu lalu.

Warning ini tentu saja harus jadi perhatian seluruh pengambil kebijakan. Baik di tingkat pusat hingga daerah. Sebab, anomali cuaca yang jadi pencetus dasar masih bakal terjadi. Beberapa langkah tersebut dirumuskan dalam tindakan pencegahan jangka pendek di awal musim kemarau 2017 serta jangka menengah dan panjang.

Jangka pendek, terang Sri Nuryani, misalnya pemantauan di daerah yang telah dilakukan pengendalian dengan pestisida baik kimia sintetik, nabati, maupun mikroba untuk mengevaluasi hasil sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengendalian kalau diperlukan di masa mendatang. Pemantauan di daerah-daerah sekitar daerah serangan untuk memantau penyebaran, khususnya di hamparan-hamparan yang baru saja tanam, eradikasi tanaman dan singgang yang terserang oleh virus yang terbawa oleh WBC dan lain-lain.

Karena itu, varietas baru yang tahan serangan wereng jadi kebutuhan utama saat ini. Saran ini sudah ditindaklanjuti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur dengan proaktif mempersiapkan demplot atau lahan percontohan pertanian padi unggul di 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur.

Wakil Ketua HKTI Jawa Timur Eko Puguh, pada DPP HKTI versi Jenderal (Pun) TNI Moeldoko,  Jumat (9/6/2017), menegaskan pihaknya membuka peluang kerjasama pengembangan bibit padi unggulan dengan target awal untuk 20 hektar. “Berapapun pengajuan akan kami layani. Tapi akan lebih baik jika minimal bisa mencapai 20 hektar. Ini sesuai cakupan luas lahan yang bisa ditangani satu tenaga ahli pertanian yang ditugaskan di lapangan mendampingi petani,” katanya.

Puguh memastikan, saat ini telah 40 persen lebih daerah di Jatim yang mengajukan dan mulai mengembangkan padi organik M400 melalui jaringan gapoktan-gapoktan. Dijelaskan, padi varietas M400 mampu menghasilkan gabah kering sawah rata-rata 9 ton pada lahan satu hektare sawah dengan masa/durasi tanam 90 hari.

Dibandingkan padi varietas biasa ditanam petani yang rata-rata memakan waktu/durasi tanam 109 hari dengan volume produksi gabah kering sawah sekitar 5 ton, Puguh mengklaim hasil tanam padi varietas M400 jauh lebih menguntungkan petani. Jika HPP gabah kering sawah saat ini Rp3.700 per kilogram, harga beli HKTI untuk produksi M400 adalah Rp4.100 per kilogram. “Kalikan saja masing-masing dengan kapasitas produksi per hektar,” katanya.

Puguh lalu menunjukkan simulasi hasil panen antara padi varietas biasa dibanding varietas M400. Hasilnya berdasar simulasi, padi biasa hasil panen jika diuangkan (Rp3.700 x 5 ton) total hasil kotor Rp18,5 juta. Dipotong biaya produksi yang katakanlah sekitar Rp7 juta berarti hasil bersih petani adalah Rp11,5 juta.

Dengan volume produksi mencapai rata-rata 9 ton dan harga pembelian Rp4.100 per kilogram dengan asumsi saat ini, petani bisa meraup hasil panen dalam hitungan kotor mencapai Rp36,9 juta, atau jika diminimalkan volume produksi 8 ton maka hasil penjualan gabah kering sawah mencapai Rp32,8 juta.

Sinergi lintas sektoral memang sangat diperlukan untuk tidak lagi mengulang krisis ketahanan pangan di negeri ini seperti yang terjadi beberapa dekade lalu. Melalui lirik lagu “Potret Panen + Mimpi (Wereng)”, Iwan Fals menggambarkan serangan hama wereng pada 1988 yang sempat membuat gejolak nasional. Sebagai bangsa yang makanan pokoknya nasi, kekurangan stok beras akibat menurunnya produksi beras memicu dampak beruntun.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here