Ayam Penyet Pandanarum, Pedesnya Ngangenin

0
1030
Ayam Penyet Pandanarum

Nusantara.news, Jakarta – Puluhan orang rela berjejal antri di sekitar lelaki yang nguleg cabe sambil goyang-goyang pantat, lainnya ada yang sabar menunggu hidangan di meja-meja sederhana, sebagian lagi tampak lahap mencuil paha atau dada ayam yang remuk bercampur sambal.

“Ïya mas. Kalau nggak hujan rame begini,” terang Wahyu Effendi (35) alias Pendi yang berdagang ayam penyet sejak 4 tahun yang lalu. Pelanggannya rata-rata anak muda, tapi tak jarang pula lelaki setengah baya membawa keluarganya makan di sini.

Wahyu Effendi sang pemilik (paling kiri) bersama dua orang karyawannya

Begitulah selintas kesibukan Pendi berdagang Ayam Penyet Pandanarum yang menempati trotoar sebuah toko, tak jauh dari Bank BNI, Jl Raya Kebayoran Lama. Pendi memulai usahanya dari gerobak kecil. Sekarang menggunakan motor roda tiga made in China yang telah dimodifikasi menjadi tempat  menaruh dagangan sekaligus memasak.

“Begini lebih praktis, meskipun modalnya lumayan juga, motor sama modif sekitar Rp.40 juta,” beber Pendi yang sekarang hanya sibuk mengawasi kelima karyawannya.

Gerobag motor seharga Rp40 juta yang membuatnya tak lagi repot

file:///C:/Users/Andy/Downloads/ayam_penyet_2.jpgTapi sepertinya modal gerobag motor Rp 40 juta bagi Pendi tidak seberapa. Dengan omset 50 ekor ayam per malam, ditambah lagi ada bakso tusuk, ati rempela, kecambah, terong, pete, dan ikan-ikan segar khususnya bawal, lele dan nila, omsetnya per malam mencapai Rp 5 – 6 juta.

“Kalau sekarang gempor juga, mas. Harga cabai Rp 150 ribu, padahal semalam setidaknya habis 7 Kg cabai rawit merah dan belum yang lain-lain. Keuntungan nggak sampai 50 persen. Orang datang ke sini yang dikejar sambal. Paling banter untung 20 persen sudah bagus,” sebut Pendi yang ternyata asli Tegal, padahal segala bumbu racikan ayam penyetnya dibuat ala Surabaya. Kok bisa?

Ternyata itu berawal dari perkenalannya dengan seorang Chief (juru masak) asal Surabaya. Karena temennya itu  masih bekerja di sebuah restoran ternama, singkat cerita keduanya patungan. Karena Pendi mengelola semuanya maka dia kebagian saham 70 persen, sedang temennya 30 persen.

Pendi dan kelima karyawannya yang rata-rata digaji Rp 100 ribu per malam hafal dengan beberapa pelanggannya. Sebagian besar yang datang memang pelanggan. Paling tidak, seminggu sekali mereka menikmati ayam penyet Pendi yang dikenal pedes, renyah, gurih dan empuk.

Suasana pelanggan yang tampak lahap menikmati hidangan beratap tenda

Ëmang sih, pedes banget. Tapi ngangenin,” tutur Sinta seorang pelanggan yang mengaku seminggu bisa dua kali makan di ayam penyet ini. Kadang hanya berduaan dengan tunangan, kadang mengajak temen-temennya yang lain. Maklum, Sinta bekerja di Supermarket Pasar Kebayoran Lama yang pulang jam 9 malam.

Ayam Penyet Pandanarum, seperti yang tertulis di spanduk yang menempel di gerobag motornya memang buka di atas jam 7 malam dan tutup sekitar jam 1 dini hari. Lokasinya di Jl Raya Kebayoran Lama, tepatnya dari Pasar Kebayoran Lama ke arah Rawabelong sekitar 300 meter. Tak jauh dari warung buah di kiri jalan.

Tapi kalau datang jam 8-an malam jangan harap cepat dilayani, karena mesti menunggu antrian, baik antrian dibungkus yang kadang ada yang pesan sampai 10 bungkus atau antrian makan di tempat yang bisa membutuhkan waktu seperempat jam.

“Habis mau gimana lagi? Emang sengaja datang ke sini untuk ayam penyet. Habis, enak sih,” ujar Syaukani yang tinggal di Radio Dalam, sabar menunggu pesanan sambil mengusap-usap layar selulernya.

Soal harga jangan khawatir. Sangat standar. Ayam dan nasi hanya Rp15 ribu, ditambah es teh manis dan tahu atau tempe Rp20 ribu, kalau tambah terong harganya Rp5000 dan pete yang tidak selalu ada Rp8 hingga 10 ribu. Kadang-kadang ada jengkol segala.

Artinya, makan malam di ayam penyet Pandanarum berdua ngajak istri, tunangan atau temen tapi mesra, kalau pesennya standar Rp50 ribu masih ada kembalian. Kalau bawa uang Rp100 ribu masih bisa kok bungkusin untuk calon mertua. Apalagi kalau calon mertua hobi banget sambel. Pas.

“Habis, pedesnya memang ngangenin sih,” ucap Sinta yang saya pikir datang sendiri, tapi ternyata sedang menunggu jemputan “Satpam”, hehe [].

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here