Ayo Bangkit! Prestasi Olahraga Indonesia Jangan Terpuruk Terus

0
77

Nusantara.news, Jakarta – Prestasi olahraga nasional benar-benar memprihatinkan pasca reformasi. Entah sebutan apalagi yang pantas disandangnya selain dari kata “terpuruk” – “melorot” dan “anjlok”. Prestasi terburuknya saat ini semakin menjadi-jadi diperlihatkan manakala menjelang penutupan SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Senin (28/8), Indonesia berada di urutan lima dengan perolehan 32 medali emas.

Hingga pukul 18.30 WIB, kemarin,  kontingen Indonesia telah meraih 37 medali emas, 62 medali perak dan 81 medali perunggu. Tim merah putih masih terus berusaha mengumpulkan kepingan medali di SEA Games 2017. Namun, hingga saat ini, Indonesia masih belum bergeser dari posisi kelima klasemen sementara, dengan total perolehan 180 poin. Selasa (29/8/2017).

Pemerintah sudah mencanangkan target 55 medali emas untuk meraih di posisi empat. Target tinggal target. Kenyataan berbicara lain. Masih jauh ketertinggalan Indonesia dengan Singapura yang telah meraih 55 medali emas. Mengapa Indonesia bisa tertinggal jauh dengan Singapura? Kok, kian terpuruk olahraga Indonesia?

Atlet wushu Indonesia Lindswell Kwok memegang medali ketika upacara penyerahan medali wushu nomor Taijijian putri di KLCC, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (21/8). Lindswell mempersembahkan emas kelima untuk Indonesia dengan mengumpulkan nilai 9.68. (Foto: ANTARA)

Pada SEA Games ke-29 ini, Kontingen Indonesia mengirim 530 atlet resmi untuk mengikuti 36 cabang olahraga. Tapi, sayangnya, ada beberapa cabang yang dijagokan, seperti bulu tangkis dan cabang renang justru meleset target emasnya. Bayangkan, betapa mirisnya mendengar Singapura bisa menggondol 48 medali emas. Dengan selisih 16 medali emas dengan Singapura, Indonesia memang kian sulit menempati posisi di peringkat empat.

Jika dibandingkan saat SEA Games dua tahun lalu di Singapura, kendati Indonesia meraih 47 medali emas, namun Indonesia pun masih mentok di peringkat lima. Padahal,  saat SEA Games 2013 di Myanmar, walau Indonesia meraih 65 medali emas, posisinya berada di peringkat empat.

Judoka Indonesia Iksan Apriyadi menunjukkan medali emas usai menjuarai final judo -73 Kg putra SEA Games XXIX Kuala Lumpur di KLCC, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (26/8/2017). (Foto: ANTARA)

Prestasi olahraga Indonesia memang mengalami penurunan sejak reformasi. Padahal, SEA Games yang digelar sejak 1959, di mana Indonesia mulai turut serta sejak SEA Games 1977 di Kuala Lumpur, Indonesia mampu meraih juara umum. Kemudian, pada ajang selanjutnya berturut-turut, yakni pada 1979, 1981, 1983, Indonesia mampu menunjukkan taringnya menjadi nomor satu yang menggungguli Thailand yang sempat mendominasi dahulunya.

Memang, saat di SEA Games 1985 di Bangkok dan 1995 di Chiang Mai, sempat dikalahkan oleh Thailand, tetapi toh, Indonesia kembali menunjukkan kejayaannya di perhelatan yang sama pada 1987, 1989, 1991, 1993 dan 1997. Sempat menjadi kebanggaan nasional prestasi Indonesia yang 10 kali menjadi juara umum, namun  disayangkan setelah reformasi, justru prestasi altletnya semakin hancur-hancuran. Waktu SEA Games di Palembang dan Jakarta 2011, sempat Indonesia Berjaya kembali, namun, setelah itu, prestasinya melorot tak karuan.

Penyebab Merosotnya Prestasi

Kenapa dulu bisa berprestasi tapi sekarang malah anjlok? Di zaman Orde Baru, pembinaan olahraga Indonesia terintegrasi mulai dari pusat hingga ke daerah. Inilah mengapa Indonesia dahulu lebih siap menghadapi event-event olahraga, salah satunya karena dukungan anggarannya dari pemerintah pun maksimal. Dibandingkan dahulu, sekarang ini, dukungan anggaran dari pemerintah tidak signifikan. Menurut Sesmenpora Gatot S Dewa Broto, saat di zaman Orde Baru, tak satu pihak pun berani menentang atau protes jika pemerintah telah menetapkan besaran angka anggaran yang telah disetujui.

Adalah hal yang paling menyedihkan ketika mengingat faktor lainnya seperti jauh tertinggalnya pembangunan infrastruktur olah raga di tanah air dibandingkan dengan sejumlah negara di wilayah Asia Tenggara. Padahal, dahulunya, sebelum negara-negara Asia Tenggara lainnya belum lagi memiliki sarana latihan olahraga, Indonesia lebih dulu telah mendirikan sekolah khusus untuk para atlet berprestasi di Ragunan, Jakarta.

Hal ini, memang diakui oleh atlet bulu tangkis Ivana Lie yang merupakan alumni jebolan sekolah atlet Ragunan. Dia mengatakan, justru sekolah olah raga seperti di Ragunan itulah yang kemudian hari kembangkan oleh Thailand dan Singapura yang juga menambahkannya  dengan ilmu pengetahuan dan pembenahan manajemen di sana-sini. Dari sana, mereka berhasil mencetak pemain-pemain muda berbakat di segala cabang olahraga.

Atlet jalan cepat Indonesia, Hendro, bersujud setelah memasuki garis finis pada final jalan cepat 20.000 meter putra SEA Games XXIX di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (22/8/2017). Hendro berhasil menyabet emas dengan catatan waktu satu jam 32 menit 11 detik. ( Foto: ANTARA)

Kini, di Indonesia, kondisinya malah terbalik. Banyak tempat pusat latihan para atlet sudah tidak memadai. Sehingga para atlet latihannya ke mana-mana. Sarana pusat latihan atlet Indonesia kalah menterengnya dengan yang ada di Singapura dan Malaysia. Kesedihan atlet nasional ini masih ditambah lagi yang nasibnya selalu saja dari tahun ke tahun dirundung kekurangan dana, uang saku, bantuan alat, terlambat dalam jadwal latihan, yang bolos. Inilah gambaran betapa buruknya manajemen penanganan atlet olahraga di tanah air.

Kini, di Thailand sudah memiliki enam pusat olahraga, untuk Indonesia yang dikatakan negara besar, membangun pusat pembinaan olahraga terpadu saja malah mangkrak hingga kini. Tidak heran jika masyarakat menuduh anggaran pemerintah untuk pembangunan dunia olahraga di tanah air dijadikan proyek bancakan. Hambalang adalah contoh kasus yang membuat pembangunan sarana pusat pembinaan olahraga itu menjadi terlantar.

Dalam kasus Hambalang ini, mantan Menpora Andi Malarangeng menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan sarana dan prasarana olahraga di Hambalang, Jabar, yang merugikan negara lebih dari Rp400 milyar. Andi disangkakan melanggar pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 UU nomor 31 1999 yang diubah menjadi UU nomor 20 tahun 2001 tentang korupsi. Keterlibatan Andi justru diungkap oleh tersangka lain, M Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat yang pernah ‘bernyanyi’ Andi Malarangeng menerima dari perusahaannya senilai Rp 5 miliar. Begitu pula dengan kasus bangunan Wisma Atlet Jakabaring, di mana negara dirugikan Rp 54 Miliar.

Minimnya anggaran dari pemerintah untuk dana program seperti Indonesia Emas (Prima) misalnya, tentu saja menyulitkan atlet dan pengurusnya. Anggaran Indonesia Emas tiap tahunnya rata-rata sekitar Rp 500 miliar. Bandingkan dengan Malaysia, menggelontorkan anggaran untuk program setingkat Indonesia Emas tiap tahun besarannya sekitar Rp 3 triliun. Betapa jauhnya ketertinggalan Indonesia.

Tim Panahan Putri Indonesia Dellie Threesyadinda, Triya Resky Adriya, dan Rona Siska Sari berhasil mengalahkan Thailand dengan skor yang sangat tipis 225-222, dan merebut peringkat ketiga di National Sports Complex, Malaysia, Kamis (17/8/2017).

Apa Penyebab Merosotnya Prestasi Olahraga di Indonesia?

Mungkin bisa disimak hasil riset Paramadina Public Policy Institute pada 2010  tentang beberapa faktor penurunan prestasi Indonesia dalam bidang olahraga yang penelitiannya  berjudul “Mendorong Prestasi Olahraga Melalui Kebijakan Pendanaan dan Fiskal” ini. Riset ini memaparkan fakta-fakta tentang mengapa merosotnya prestasi olahraga di Indonesia.

Dalam paparan hasil risetnya, Paramadina Public Policy Institute menyatakan, di antaranya Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi merosotnya prestasi

Profesi atlet tidak atraktif bagi anak bangsa
1. Kecuali sepakbola dan bulutangkis,  profesi atlet tidak cukup menarik bagi anak bangsa di negeri ini. penyebabnya mudah ditelusuri, antara lain ketidakjelasan jalur karir di bidang-bidang olahraga lainnya. Dilihat dari pembinaan karir pascapensiun, bahkan seluruh cabang olaraga mengalami hidup yang tidak jelas. Banyak atlet terlantar semasa pascapensiunnya. Tentulah ini juga bagian betapa tidak menariknya berkarir di dunia olahraga di tanah air.

Alih-alih dipecut terus demi mengharumkan nama bangsa, tetapi setelah pensiun hidupnya  malah nelangsa. Cocok dengan pepatah “habis manis sepah dibuang”. Mestinya ‘didaur ulang’, disalurkan pada hal yang bermanfaat, misalnya, disalurkan menjadi pelatih di sekian tempat pusat pelatihan olahraga nasional. Tapi,  bagaimana mau menyalurkan. Lagi-lagi, pusat pelatihannya sangat terbatas.

Pebulu tangkis Indonesia Jonatan Christie memperlihatkan medali emas ketika upacara penganugerahan seusai mengalahkan pebulu tangkis Thailand Khosit Phetpradab pada final tunggal putra bulu tangkis SEA Games XXIX di Axiata Arena, Kompleks Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (29/8/2017).(Foto: ANTARA)
  1. Pendidikan dan olahraga tidak terbangun secara terpadu
    Cara pandang sebagian masyarakat Indonesia tersosialisasi dengan baik bahwa olahraga bisa dijadikan sebagai karir yang membanggakan dan menjanjikan. Bagaikan dua kutub magnet yang saling berlawanan, pendidikan dan olahraga bukan paduan yang pas, makanya sulit sekali untuk mewujudkannya.
  1. Minimnya dana untuk pembinaan olahraga
    Di Australia, Thailand dan Singapura, anggaran dana olahraga mereka mencapai masing-masing mencapai 0,1%, 0,2%, dan 4,2% dari pendapatan negara. Sementara di Indonesia hanya 0.08%. itu pun belum dikurangi biaya operasional kementrian seperti gaji pegawai. Bayangkan, atlet dicekik plus disuruh berprestasi.  Anggaran dana olahraga di Kemenpora sangat kecil. Tahun lalu, malah terkena potongan anggaran, yang pastinya pasti berimbas pada penyaluran anggaran untuk pembinaan para atlet.
  1. Pihak Swasta Belum Terlibat optimal dalam pembinaan olahraga
    Jika membandingkan dengan perkembangan olahraga di negara lain, iri rasanya karena di dalam setiap event olahraga, banyak perusahaan besar kaliber dunia mensponsori berbagai turnamen olahraga yang digelar. Mereka mau mendukung karena dunia olahraga luar sudah berubah menjadi industri.

Di Indonesia, malah sebaliknya. Selain pengurus dan pembinanya bertengkar terus, kepengurusan seringkali mempolitisasi keadaan, maka tidak salah jika ada stigma yang mengatakan, “ kalau di luar negeri atletnya yang kaya raya, di Indonesia, malah pengurusnya yang memperkaya diri”. Di Indonesia, saling jegal satu sama lain di dalam kepengurusan pembinaan atlet merupakan hal yang biasa. Juga anggaran pemerintah untuk pembinaan dan pembangunan sarana pelatihan atlet sebagai bancakan, bukan berita isapan jempol belaka.

Di sisi lain, sebenarnya banyak pihak swasta ingin lebih membantu perkembangan olahraga di Indonesia. Tetapi sayang, kisruhnya dunia olahraga Indonesia justru menghilangkan minat swasta untuk turut ambil bagian membangun prestasi olahraga di tanah air. Bukannya mengembangkan “mental berprestasi”, sebaliknya, kurang perhatiannya pemerintah masalah anggaran, juga mental pengurusnya yang selalu dirundung kisruh membuat pihak swasta belum bisa memandang olahraga di Indonesia mampu dijadikan ladang bisnis yang menggiurkan.  Makanya jangan heran, jika pihak swasta menganggap olahraga di Indonesia buka tempat bisnis yang menjanjikan.

Lifter Indonesia Deni mencium barbel seusai berhasil melakukan angkatan “clean and jerk” angkat besi putra nomor 69 kg SEA Games XXIX Kuala Lumpur di MITEC, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (29/8/2017). Deni berhasil meraih medali emas dengan total angkatan 312 kg. (Foto: ANTARA)

Inggris dan Amerika merupakan contoh yang sukses membangun industri olahraganya. Kedua negara tersebut membangun olahraga secara khusus.  Pengelolaan olahraga dengan manajemen yang baik inilah yang banyak menarik minat generasi muda ingin berprofesi menjadi atlet. Di samping itu pun, banyak perusahaan swasta yang ingin bergabung menginvestasikan modalnya di situ.

  1. Sarana dan prasarana olahraga yang minim
    Harus diakui, Indonesia belum memiliki lapangan sepakbola yang baik. Begitu pula dengan sarana olahraga lainnya. Kalau pun ada sarana yang baik, itu hanya terpusat di Jawa. Kurangnya perhatian Pemerintah terhadap fasilitas pendukung olahraga yang baik membuat bidang ini makin tidak menarik minat generasi muda. Apalagi, di zaman generasi milenia ini, banyak generasi mudanya tidak bisa dicekoki dengan doktrin kebangsaan melulu tanpa adanya harapan di masa depan bagi karir mereka.
  1. Strategi, peran dan prioritas dari pemerintah.
    Sudah seharusnya pemerintah menjadi organisasi induk untuk mengelola olahraga di Indonesia. Bagaimanapun juga porsi perhatian bagi olahraga masih kurang bila dibanding dengan bidang lain. Program pembinaan dan pengelolaan masih perlu disempurnakan. Faktor ini selalu berada pada akhir setiap siklus pengembangan bidang apapun. Semua upaya baik dari atlet—dalam kasus ini dan swasta pada akhirnya bermuara pada inisiasi pemerintah.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here