Ayo, Debat Saling Serang

1
50

CUKUP sudah debat basa-basi seperti dalam Debat Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden tahap pertama. Dalam debat kedua nanti, sudah waktunya kedua capres saling menyerang.

Debat antarpasangan capres-cawapres 17 Januari lalu, terbukti mengecewakan. Tidak ada garis besar pemikiran kedua pasangan yang mampu menancap dalam ke pikiran publik. Kita tidak berburuk sangka, bahwa itu menunjukkan penguasaan masalah yang kurang lengkap dari kedua pasangan. Prasangka kita –mudah-mudahan benar—empat tokoh calon pemimpin itu masih bertenggang rasa, sehingga merasa tidak enak hati untuk menekan lawan.

Akibatnya, penonton tidak mendapatkan apa-apa dari perdebatan itu. Jangankan meraih simpati dari pendukung lawan, perdebatan yang dangkal itu jangan-jangan justru membuat pendukung sendiri menjadi ragu-ragu.

Karena itu, debat kedua pada 17 Februari mendatang, yang hanya diikuti oleh kedua calon presiden, bisa memulai tradisi debat yang menyerang. Jokowi dan Prabowo harus tampil lepas, saling menekan, dan tak perlu banyak basa-basi tepo seliro. Isu-isu strategis seputar tema debat, yaitu energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, harus terelaborasi. Seusai debat, penonton akan bisa menyimpulkan mana capres yang bisa diandalkan dan mana yang tidak.

Sebab, tak ada gunanya juga saling menjaga tepo seliro. Toh di luar panggung debat, mereka sudah seperti saling menerkam. Ketika mereka berdiri sendiri-sendiri di tempat terpisah, aroma pertarungan sudah sangat panas. Gaya Prabowo yang berapi-api kini sudah diladeni Jokowi dengan cara keras.

Namun saling melempar dan membalas pernyataan keras seperti ini justru tidak menghasilkan apa-apa. Sebab kecaman dan sanggahan disampaikan dalam ruang dan waktu terpisah. Pihak yang diserang tidak mendengar langsung, dan baru mendapatkannya dari perantaraan media, yang bisa saja telah mengalami degradasi dan deviasi kandungan pesan. Hal yang sama juga terjadi ketika jawaban atau sanggahan diberikan.

Nah, di saat berhadapan langsung dalam debat, serangan-serangan melumpuhkan itulah yang harus dilancarkan. Materi serangan, walaupun tentu saja harus terkait dengan tema debat, harus kuat dan memang diniatkan untuk membungkam lawan. Lawan debat harus dibuat tidak berkutik.

Apabila serangan seperti itu yang dilemparkan, yang diuntungkan adalah publik. Penonton akan bisa menilai apakah serangan dilengkapi dengan data dan fakta yang valid serta argumentasi dan diksi yang tepat, untuk ukuran pemimpin negara. Jika serangan tidak bermutu, ditopang pula argumentasi lemah dan pilihan kata yang tidak berkelas dan berkeadaban, maka publik akan memvonisnya tidak layak memimpin negara. Jika serangan mudah terlalu dipatahkan, orang pun akan menyimpulkan bahwa tong kosong memang selalu nyaring bunyinya. Sebaliknya, jika capres yang diserang tidak bisa mengelak, tak sanggup menyanggah, terdiam membisu tanpa daya, orang pun akan segera berkata tidak kepadanya.

Artinya, debat yang panas, tajam, komprehensif dan argumentatif adalah tontonan sekaligus tuntunan. Tontonan, karena memang beradu kata seperti itu memenuhi unsur-unsur show media televisi. Tuntunan, karena semua yang tersaji dalam debat, baik materi, cara penyampaian, argumentasi bahkan gestur kedua belah pihak, adalah sumber preferensi yang sahih dan kasat mata. Publik akan sangat terbantu dalam memberikan penilaian terhadap siapa yang harus dipilihnya dalam pilpres mendatang.

Debat kedua antara Jokowi melawan Prabowo ini akan menjadi pembuka sebenarnya dari head to head kedua capres. Karena pertarungan sesungguhnya ada di level capres, bukan di cawapres. Merekalah yang selama ini berperang kata. Ini adalah kompetisi yang menentukan “hidup mati” keduanya. Bagi Prabowo ini adalah pertarungan terakhir, dan untuk Jokowi tentu dia tak mau tercatat sebagai capres petahana pertama yang kalah.

Setelah Jokowi dan Prabowo bertarung all-out di debat kedua ini, debat berikutnya antarpasangan atau antarcawapres pasti akan mengikuti dengan gaya yang sama.

Dalam beberapa Tajuk Nusantara sebelumnya, kita pernah berpandangan bahwa debat kandidat mestinya dihindarkan dari simplifikasi publik yang cenderung menilai orang pandai itu adalah orang yang mahir beradu mulut. Terlalu dangkal jika pemimpin hanya diuji dari kemahirannya “bertengkar”. Toh banyak pemimpin yang hebat, tetapi tidak pandai berdebat. Padahal yang harus diuji dari seorang calon pemimpin adalah konsepsi, kepemimpinan dan kemampuan manajerial.

Namun, ternyata yang dibutuhkan publik tidak hanya itu. Ada sisi lain yang ditunggu: yakni sisi dramatik dari sebuah kompetisi politik. Dan efek dramatis itu akan tercapai ketika ada kandidat yang jatuh terkapar karena kalah bertengkar.

Efek substansial yang ditunggu adalah apakah ada pendukung yang mengalihkan dukungannya setelah debat selesai. Kalau itu yang terjadi, berarti debat memang mencapai sasaran.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here