B.M. Diah dan Kisah Teks Proklamasi di Keranjang Sampah

0
259
B.M . Diah dan Teks Proklamasi

Nusantara.news, Jakarta – Nama B.M. Diah tentu sudah tidak asing lagi di telinga rakyat Indonesia. Sama seperti Sajuti Melik (pengetik naskah proklamasi), Fatmawati (istri Bung Karno yang menjahit bendera merah putih), terlebih Soekarno dan Hatta (perumus teks proklamasi sekaligus proklamator), Diah adalah tokoh yang terlibat di seputar peristiwa proklamasi kemerdekaan. Namun siapa sangka, di balik teks proklamasi yang kita kenal sekarang, yang selalu dibaca setiap upacara peringatan kemerdekaan Indonesia, tersimpan kisah lain yang tersembunyi tentang jasa besar B.M. Diah. Sebab, dari sana sejarah proklamasi menemukan keautentikannya.

Siapa B.M. Diah? Dia adalah seorang tokoh pers, pejuang kemerdekaan, dan saksi perumusan teks proklamasi. Nama lengkapnya Burhanuddin Muhammad Diah, orang mengenalnya B.M. Diah. Ia lahir di Kutaraja, Aceh, pada 7 April 1917. Dia pula yang diberi tugas oleh Bung Hatta untuk menyebarkan berita proklamasi ke seantero negeri.

Pada saat menjelang proklamasi kemerdekaan, B.M. Diah dikenal sebagai tokoh golongan muda yang radikal dengan organisasi yang dipimpinnya yaitu Gerakan Angkatan Baru ’45. Nasibnya memang “agak sial”, karena dia tidak menghadiri upacara mahapenting: pembacaan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 di rumah Soekarno, pagi hari. Padahal dia berada di dalam kejadian malam sebelumnya, saat teks proklamasi disusun. Diah terkecoh pergi ke Lapangan Ikada (Lapangan Monas sekarang) untuk menyaksikan pembacaan proklamasi, yang ternyata berpindah tempat secara mendadak.

Sebelumnya, di rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol no. 1 itulah naskah proklamasi terpendek di dunia dirancang, ditulis, diedit, dicoret, dibetulkan lagi, ditulis lagi, lalu diketik. Rancangan proklamasi hasil tulisan tangan Soekarno itu terlihat sangat tergesa-gesa dan memang penuh corat-coret untuk menampung banyak keinginan isi kepala orang yang hadir, yang sarat dengan kepentingan dan ide.

Setelah selesai dirancang dan ditulis tangan oleh Soekarno, naskah itu diketik oleh Sajuti Melik agar terlihat lebih rapi dan mudah dibacakan saat proklamasi kemerdekaan diumumkan keesokan harinya. Setelah diketik, naskah asli proklamasi kemerdekaan diremes-remes dan dibuang ke keranjang sampah. Toh, buat apa disimpan? Sudah ada yang lebih bagus hasil ketikan Sajuti Melik?

Naskah proklamasi. Atas: naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno yang ditemukan B.M. Diah di tong sampah. Bawah: Naskah Proklamasi yang telah diedit dan diketik oleh Sajuti Melik.

Ternyata tidak seperti itu bagi B.M. Diah yang hadir saat naskah asli itu diketik ulang. Dia kemudian memungut kembali naskah asli itu dari keranjang sampah dan mengantonginya. Mungkin karena kesadaran sejarah yang mengalir dalam tubuhnya itu, membuat dia memungut kembali sampah berupa naskah asli proklamasi kemerdekaan yang sudah dibuang.

“Naskah proklamasi yang didikte Bung Hatta dan ditulis tangan oleh Bung Karno itu sempat dikuwel-kuwel dan dibuang setelah Bung Sajuti Melik mengetik naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Suami saya mengambil naskah draft itu, dirapikan dan diselipkan ke buku catatan yang dibawanya,” kenang Herawati Diah, istri B.M. Diah, semasa hidupnya.

Bisa dibayangkan, seandainya B.M. Diah tak memungut dokumen penting itu, barangkali naskah asli proklamasi akan sama nasibnya seperti teks autentik Supersemar yang hingga kini masih raib. Pun, berbagai catatan sejarah nusantara lainnya yang tak terurus. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa bangsa kita memang tak pandai menghargai sejarah. Padahal bangsa yang besar, seperti juga kata Bung Karno, adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Hal itu dibuktikan dengan merawat arsip dan sumber sejarah agar generasi mendatang tak kehilangan identitasnya.

Tak pelak, masih banyak sejarah bangsa kita diliputi kegelapan. Peristiwa G30S/PKI gelap. Supersemar gelap. Kini, kita juga amat kesulitan melacak catatan kuno tentang jejak para leluhur dan falsafah agung nusantara yang tidak saja karena bangsa kita malas membaca, juga keberadaan naskah tersebut justru tersimpan di berbagai negara. Sebagai contoh, kisah kebesaran Laksamana Malahayati, riwayat detail Pangeran Diponegoro, ataupun kedigdayaan raja-raja nusantara, kesemua data itu anehnya sangat mudah ditemukan di negara lain seperti Cina, Belanda, Inggris, dan Malaysia.

Rasanya kita perlu berkaca menghargai sejarah dan kearifan lokal kepada Singapura dan Amerika Serikat. Sebagai negara maju, kedua negara tersebut tidak mengabaikan kesadaran sejarah bangsanya. Mereka memiliki perpustakaan megah  dan museum modern yang memuat dokumen-dokumen sejarah dari masa “purba” hingga kontemporer. Belanda pun demikian, mengarsipkan dengan rapi sejarahnya sejak masih berbentuk republik sampai menjadi kerajaan selama kurang lebih seribu tahun. Salah satunya terarsip di Nationaal Archief yang terletak di Den Haag. Jika dibentangkan, panjang dokumen baik berupa tulisan, foto, peta dan lain sebagainya ini bisa mencapai 110 kilometer! Sebagai  perbandingan, jarak Jakarta-Bandung sekitar 146 kilometer.

Tidak hanya arsip negaranya yang tersimpan rapi, tetapi juga naskah-naskah kuno milik bangsa Indonesia. Jika dijejer panjangnya bisa mencapai 12 km. Kebanyakan, naskah-naskah yang berada di sana tergolong adikarya, warisan berbagai kerajaan di Nusantara.

Sementara di Inggris, menurut sejarawan Peter Carey, diperkirakan terdapat 500-600 jenis naskah kuno nusantara yang tersebar di sejumlah kota, antara lain di London, Manchester, dan Oxford. Angka itu belum terhitung naskah-naskah kuno Indonesia yang tersimpan di Perpustakaan Berlin, Jerman,  dan di sejumlah negara lainnya. Semua naskah-naskah itu, hampir dapat dipastikan kondisinya terawat dengan sangat baik dan dapat diakses dengan mudah.

Ironisnya, ketika pemerintah Inggris berbaik hati ingin mengembalikan naskah-naskah kuno tersebut, pemerintah Indonesia menolak. Tidak jelas, apakah penolakan itu karena dalam tumpukan catatan kuno tersebut tidak “bernilai uang”, atau karena tak sanggup merawatnya. Yang pasti, sekali lagi, negara kita tak pandai menghargai sejarah. Tak memandang penting catatan masa lalu.

Kembali ke naskah proklamasi tulisan tangan yang diselamatkan B.M. Diah, karena takut akan dibuang kembali, naskah tersebut disimpan selama 49 tahun dan baru diserahkan kepada Pemerintah pada tanggal 29 Mei 1992. Dari pendiri koran Merdeka (1 Oktober 1945) inilah, keautentikan teks proklamsi itu tetap terjaga hingga kini.

Lebih dari itu, penghargaan terhadap dokumen sejarah seperti teks, foto, peta, film, dan sejenisnya, selain sebagai pembentuk identitas dan penanda sebuah bangsa besar, juga berfungsi menjadi ‘kaca spion’ bagi perjalanan bangsa dan negara Indonesia ke depan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here