Babak Baru Jakarta: Saatnya Akhiri Dendam Politik

0
92
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno seusai pelantikan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta.

Nusantara.news, Jakarta – Para pemimpin datang dan pergi. Ada yang dikenang ada yang dinegasi. Ada yang menjadi inspirasi, ada pula yang tak membekaskan apa-apa. Kepada pemimpin DKI yang baru, Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi), kita pantas mengucap selamat datang. Selamat bekerja dengan penuh dedikasi. Adapun kepada yang pergi, Djarot Saiful Hidayat (juga Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok), warga Jakarta layak pula mengucapkan selama jalan dan berterima kasih atas pencapaian Ibukota selama ini.

Kita berharap pasangan Gubernur-Wakil Gubernur Anies-Sandi, yang telah dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara (16/10), akan menjadi pasangan yang dikenang karena memenuhi mimpi dan asa warga Jakarta. Kita juga berharap pasangan pemenang ‘pilkada Jakarta rasa pilpres’ yang disebut banyak pihak berlangsung paling keras sepanjang pilkada ini, kepemimpinannya akan terpatri di banyak hati.

Anies-Sandi dan Keriuhan saat serah terima jabatan di Balaikota

Anies-Sandi, selain punya modal suara 58% pada pilkada Jakarta, keduanya punya rekam jejak baik yang bisa membawa optimisme bagi kemajuan Jakarta di hari-hari mendatang, setidaknya lima tahun ke depan. Anies merupakan tokoh protagonis yang di dalam dirinya melekat semua atribut yang diidamkan semua orang: mantan aktivis mahasiswa, intelektual muda jebolan Amerika, sebagai intelektual rektor Universitas Paramadina, tokoh muda berpengaruh yang diakui dunia, dan seabrek peran positif lainnya. Pendek kata, Anies tak pernah kehilangan panggung, ia selalu mampu menjaga citra sebagai intelektual moderat dan non-partisan.

Sementara wakilnya, Sandi, adalah saudagar yang kekayaannya di atas Rp3 triliun, melebihi calon kepala daerah mana pun di Indonesia, bahkan calon presiden sekalipun. Secara materi, ia mestinya telah selesai dengan dirinya. Sehingga, jabatan hanya dimaknai sebagai pengabdian, bukan alat menumpuk fulus. Lebih dari itu, Sandi juga menyatakan akan mundur dari seluruh bisnis yang selama ini ia geluti agar tak ada konflik kepentingan. Semoga ini tak hanya menjadi pemanis bibir atau keindahan cakap belaka.

Sebagai gubernur dan wakil gubernur baru, Anies-Sandi memiliki potensi untuk membentuk struktur, kultur, dan proses sosial yang baru. Perannya sebagai kepala daerah yang baru juga memberi harapan tentang kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat kebanyakan. tentunya, mereka harus menjadi antitesis dari sebagian laku dan gaya kepemimpinan Ahok-Djarot yang masih dipandang negatif. Sebaliknya, Anies-Sandi juga harus melanjutkan apa yang baik yang sudah dirintis Ahok-Djarot.

Karena itu, ada sejumlah catatan yang harus dituntaskan Anies-Sandi secepatnya. Pertama, tugas utama dan pertama yang harus dikerjakan Anies-Sandi adalah merajut kembali benang silaturahim yang sempat terurai. Bagaimanapun pertarungan panjang di pilkada Jakarta kemarin menyisakan luka bukan hanya di kalangan elite, tapi lebih lagi di kalangan warga. Akan lebih baik, dalam masa-masa awal pemerintahannya Anise-Sandi lebih memperhatikan emotional healing warga yang mungkin belum sembuh.

Anies-Sandi harus segera menunjukkan secara serius niat baik (good will) dan niat politik (poltical will) untuk menjembatani semangat ‘rekonsiliasi’ warga DKI yang terpolarisasi sedemikian dahsyat akibat perbedaan pandangan dan pilihan politik. Baik pendukung Anies-Sandi maupun Ahok-Djarot, termasuk yang tak menentukan pilihan di Pilkada, kesemuanya adalah rakyatnya Anies-Sandi yang haus dirangkul dan dimajukan kesejahterannya, serta dijaga perasaannya.

Kedua, Anies-Sandi dituntut bekerja cepat untuk merealisasikan janji-janji kampanyenya. Kebijakan-kebijakan populisnya untuk mewujudkan ibukota yang lebih baik tentu patut didukung sekaligus dikawal dan dikritisi. Tercatat, total ada 23 janji Anies-Sandi yang dilontarkan pada kampanye pemilihan gubernur lalu. Di antara janji besar itu adalah penghentian proyek reklamasi di Teluk Jakarta, pembangunan rumah dengan uang muka  (down payment/DP) 0 persen, serta mencetak 200.000 pengusaha baru lewat program OK-OCE (One Kecamatan One Center for Enterpreneurship).

Kiprahnya akan disorot banyak pihak: kesuksesan dan kegagalan menjalankan program kerjanya, mau tidak mau akan dibandingkan dengan kinerja pemerintahan Ahok dan Djarot. Kunci utama Anies-Sandi hanya pembuktian bahwa mereka mampu tampil lebih baik. Karena jika tidak, kepercayaan dan harapan warga Jakarta akan sirna.

Ketiga, Anies-Sandi harus membangun komunikasi yang baik dengan para mitranya, baik dengan DPRD maupun daerah-daerah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Untuk yang satu ini, tampaknya Anies-Sandi punya modal keluwesan komunikasi politik jika dibandingkan dengan Ahok yang konfrontatif dan cenderung “tak mau kalah”. Dengan membangun komunikasi vertikal (dengan DPRD), akan terbangun proses cek and balances yang sehat, sekaligus menghilangkan aksi “jegal anggaran ataupun program”. Oleh karenanya, transparansi menjadi penting. Program e-budgeting, e-palning, e-catalog, hingga e-Musrembang yang sudah ada patut dipertahankan. Sedangkan pola hubungan horizontal (dengan daerah penyangga) mutlak diperlukan mengingat masalah Jakarta mustahil bisa diselesaikan tanpa melibatkan komunikasi dan langkah-langkah bersama Pemda sekitarnya.

Djarot Tak Hadiri Pelantikan Anies-Sandi

Sebanarnya, publik berharap konflik warisan Pilkada Jakarta itu akan berkesudahan dan semua bisa kembali move on jika semua pihak, utamanya elite, menunjukkan sikap ksatria dan saling menghormati. Karenanya, para elite perlu menunjukkan teladan lewat ucapan dan laku hidup. Upaya-upaya menyejukkan sejatinya dilakukan pasca mengakhiri “pertarungan”, apalagi di tengah kondisi masyarakat yang hampir terbelah. Salah satunya, saling berkunjung dan bertemu, termasuk menghadiri pelantikan sang pemenang kontestasi.

Namun, amat disayangkan sikap kenegarawanan itu tak ditunjukkan Djarot. Mantan gubernur pengganti Ahok ini, tidak menghadiri proses serah terima jabatan dengan gubernur dan wakil gubernur baru. Djarot memilih berlibur bersama keluarga di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Gelagat ini sebenarnya sudah terlihat sejak awal. Ketika ditanya wartawan soal kehadirannya, Djarot hanya menjawab “Lihat saja nanti, saya belum tahu”.

Djarot tak menghadiri pelantikan Anies-Sandi dan memilih berlibur bersama keluarga di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

sebelumnya, Djarot juga tak hadir saat penetapan gubernur dan wakil gubernur terpilih Anies-Sandi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, 5 Mei 2017 lalu. Alasannya, Djarot harus menghadiri acara pembukaan Musyawarah Kerja Nasional 1 Himpunan Pengusaha Nadliyin.

Berbeda dengan Djarot, pada saat lengser dari kursi Gubernur DKI karena kalah dari pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ahok dalam Pilkada Jakarta 2012, Fauzi Bowo justru mengundang Jokowi dan Ahok ke Balaikota, dua hari sebelum pelantikan (5 Oktober 2012). Di teras Balaikota, keduanya berpelukan, saling menempelkan pipi, dan bersalaman.

”Hidup Jokowi!” Hidup Fauzi Bowo!” Pekik beberapa orang yang hadir.

Setelah bercakap-cakap sebentar, Fauzi kemudian memandu Jokowi melihat beberapa ruangan di kantor gubernur, lalu dilanjutkan ke Balai Agung. Di ruang itu, pria yang akrab disapa Foke itu mengenalkan satu per satu pejabat yang hadir kepada Jokowi. Di depan para pejabat, Fauzi bersyukur dapat memandu Jokowi mengenalkan tempat kerja dan pejabat yang nanti akan menjadi mitra kerja. Tak hanya itu, untuk menyambut gubernur baru, sejumlah pilar dan dinding di Balaikota juga dipercantik dan dicat ulang.

Contoh pendidikan politik juga ditunjukkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menyambut presiden terpilih Joko Widodo di Istana Merdeka, pada Minggu (19/10/2014) silam. Beberapa menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II juga tampak menyambut Jokowi. SBY layaknya tuan rumah mempersilakan tamunya, mengajak berkeliling, menunjukkan ruangan-ruangan di Istana Merdeka. SBY menyebut pertemuan itu sebagai tur singkat/orientasi lingkungan Istana.

Presiden SBY menjelang purnatugas memang telah menyampaikan niatnya untuk membuat tradisi baru dengan seremonial penyambutan presiden baru. Sebelumnya, serangkaian acara penyambutan pergantian dari mantan presiden ke presiden baru belum pernah ada. “Saya telah berencana akan sambut dengan penuh penghormatan presiden terpilih. Saya merencanakan sebuah tradisi baru, pada tanggal 20 Oktober,” ujar Presiden SBY, saat itu.

Pertemuan antara pemimpin lama dengan pemimpin terpilih merupakan lembaran baru dalam sejarah politik di Tanah Air yang mendorong budaya transisi kepemimpinan yang baik dan saling menghargai. Tradisi baik ini, juga memberikan pendidikan politik yang beradab bagi segenap rakyat dan tentu saja perlu dilanjutkan. Tak elok merawat kesumat dan dendam politik.

Akhirnya, terlepas dari apa pun, kepada pemimpin baru Jakarta diucapkan selamat bertugas. Semoga Anies-Sandi segera membawa perubahan dan terobosan yang dirasakan manfaatnya oleh publik Jakarta. Semua berharap, slogan Anies Sandi: “Maju Kotanya, Bahagia Warganya,” menjadi kenyataan.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here