Bacabup Jombang: PDIP Gagal Menjaring Calon Kuat

0
156

Nusantara.news, Jombang– Setelah dua minggu melakukan penjaringan bakal calon bupati (Bacabup), Selasa (16/05) PDIP Jombang secara resmi menutup pendaftaran. Tercatat ada lima orang yang mendaftar. Beberapa nama kuat seperti Nyono W. Suharli dan Sadarestuwati tidak ikut mendaftar.

Adapun kelima pendaftar 2 diantaranya dari kader partai yakni Marsaid (ketua DPC PDIP Jombang) dan Wulang Suhardi (Sekretaris DPD PDIP Jombang). Sementara untuk dari luar kader yaitu Gutomo, pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Abdul Khodir (Politisi Demokrat Jombang) serta Iwan Setiabudy (pengusaha).

“Hingga penutupan hari ini, ada 5 bakal calon yang sudah mendaftar. Dua dari internal dan 3 dari eksternal PDIP,” kata Iwan Setiawan, sekretaris tim penjaringan kepada media di Sekretariat DPD PDIP Jombang, Selasa (16/05).

Selanjutnya, panitia akan melanjutkan pada tahapan seleksi administrasi. Seleksi ini akan dilaksanakan selama dua hari, kemudian dilanjutkan dengan sesi wawancara. “Setelah itu semua selesai, seluruh proses administrasi dan wawancara, maka akan diserahkan sesuai nama-nama tersebut ke DPP PDIP untuk diajukan. Keputusan final akan dilakukan oleh tim DPP,” jelasnya.

Hasil pemilu legislatif 2014 menempatkan PDIP sebagai pemenang di Kabupaten Jombang dengan memperoleh kursi sebanyak 9, namun untuk bisa berlaga dalam pilkada PDIP tidak memenuhi syarat 20%, partai ini masih kekurangan satu kursi. Hal ini membuka peluang PDIP berkoalisi dengan partai lain. Namun sayangnya, dilihat dari pelaksanaan penjaringan calon bupati dan wakil bupati menunjukkan bahwa partai banteng moncong putih itu kurang diminati.

Penjaringan yang dilakukan PDIP Jombang memang dibayangi hasil sejumlah Pilkada serentak tahap II di berbagai daerah yang tidak menguntungkan PDIP. Banyak calon mereka yang kalah bahkan calon dalam posisi petahana pun juga kalah, seperti Rano Karno di Provinsi Banten dan yang paling fenomenal adalah kekalahan Ahok-Jarot di DKI Jakarta.

Namun demikian, Ketua DPC PDIP Jombang Marsaid optimis bahwa hasil seperti pilkada serentak tahap II  itu tidak akan terulang. “Sejumlah calon kami memang ada yang kalah. Itu menjadi pelajaran bagi kami. Dan untuk Jombang, kami yakinkan bahwa PDIP memiliki soliditas yang kuat untuk memenangkan calon yang diusung. Ketika sudah turun rekomendasi dari DPP, kami memiliki soliditas untuk menjalankan rekomendasi itu,” kata Marsaid beberapa waktu lalu.

Marsaid juga menyatakan, dalam memenangkan calon yang diusung, partainya sudah membangun komunikasi politik dengan berbagai pihak. Baik dengan partai lain, tokoh agama maupun ormas (organisasi kemasyarakatan). “Kader PDI-P mayoritas Nahdlatul Ulama (NU). Kami juga berkomunikasi baik dengan NU,” tandasnya.

Tak hanya komunikasi dengan ormas, PDIP juga akan memaksimalkan kekuatan kader internalnya. “Kader-kader kami petarung semua. Kami juga memiliki kursi terbanyak di DPRD. Semuanya akan bertarung untuk memenangkan calon dan menyukseskan kepemimpinannya ke depan,” lanjutnya.

Namun, keyakinan Marsaid berbanding terbalik dengan fakta yang terjadi dalam penjaringan Bacabup Jombang, beberapa nama beken yang disebut-sebut bakal maju dalam pilkada seperti Nyono W. Suharli (Bupati Jombang), Munjidah Wahab (Wakil Bupati Jombang), Sadarestu Wati (Kader PDIP, Anggota DPR Pusat, adik mantan Bupati Suyanto) dan Warsubi (Kepala Desa Mojokrapak) ternyata tidak ikut mendaftar.

Terkait penjaringan yang dilakukan PDIP, Bupati Jombang Nyono W. Suharli menilai, setiap partai memiliki mekanisme sendiri-sendiri dalam memilih bakal calon bupati. “Kan, PDIP mempunyai mekanisme sendiri untuk menentukan. Nah, tentu mekanisme tersebut harus diikuti. Tidak menutup kemungkinan, bakal ada nama lain yang dianggap punya elektabilitas tinggi, dan lebih layak diusung sebagai bakal calon bupati dari PDIP. Jadi, jika saya tidak diusung dan tidak didukung pun, tidak apa-apa,” terang Nyono, Selasa (16/5).

Jika kemungkinan itu terjadi, pihaknya bakal melakukan komunikasi dengan partai lain agar syarat minimal kursi dari partai pengusung dapat terpenuhi. Namun, dirinya belum bisa memastikan apakah isu tersebut benar adanya.

“Jika itu benar, maka kami akan berkoalisi dengan partai lain. Tapi semua kemungkinan masih bisa terjadi, termasuk kemungkinan kita akan berkoalisi dengan PDIP. Siapa bilang tidak mungkin,” lanjutnya.

Meski begitu, Nyono tak akan menolak jika PDIP tertarik mengusung dirinya sebagai bakal calon bupati. “Jika ternyata mengusung saya, ya Alhamdulilah. Karena semakin banyak partai pengusung, tentu saya sangat bersyukur. Ternyata banyak partai yang mendukung saya untuk maju dalam Pilbup nanti. Tetapi Pilkada masih lama, jadi semua kemungkinan masih bisa terjadi. Sehingga, kita minta agar semua pihak tidak beropini berlebihan,” terangnya.

Sementara itu, Sadarestuwati mengaku akan ikut kebijakan partai. “Saat ini, DPC sedang membuka pendaftaran. Nantilah kabar-kabar. Sebagai Kader saya akan ikuti kebijakan partai,” kata Estu kepada media Kamis (11/5).

Meski demikian, Estu mengaku tetap melakukan komunikasi dengan konstituen di Dapil 8 yang meliputi Mojokerto, Jombang, Nganjuk dan Madiun. Komuikasi ini tidak lepas karena dirinya saat ini sebagai anggota DPR RI. “Komunikasi dengan teman-teman masih intens. Kan, dalam rangka sebagai anggota DPR-RI. Untuk ke Pilkada Jombang nanti dulu. Nanti pasti saya kabari,” kilahnya.

Adik kandung mantan bupati Jombang Suyanto itu juga mengatakan, internal PDIP Jombang masih melakukan proses penjaringan calon. Calon tersebut berasal dari internal PDIP dan dari luar PDIP. Namun, dari hasil penjaringan itu oleh DPC PDIP Jombang akan diajukan ke DPP PDIP. Setelah itu, DPP PDIP akan melakukan fit and proper test kepada calon-calon yang masuk. “Dari situ, nanti akan keluar rekomendasi. Saya sebagai kader partai akan mengikuti garis partai,” jelasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here