Badai Cempaka Datang, Pacitan Tergenang Banjir dan Longsor  

0
305
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pacitan sejak Senin (27/11/2017) hingga Selasa (28 /11/2017) mengakibatkan tanah longsor dan banjir di sejumlah kecamatan di Kabupaten Pacitan.

Nusantara.news, Pacitan – Kabupaten Pacitan dilanda banjir disertai longsor. Hujan dengan intensitas tinggi sejak Senin (27/11/2017) hingga Selasa (28/11/2017) dini hari, mengakibatkan rumah-rumah warga dan jalan raya tergenang air.

Banjir tidak merata atau menyeluruh di seluruh wilayah kecamatan di Pacitan. Banjir terjadi di beberapa spot atau titik di sejumlah kecamatan. Setidaknya ada empat kecamatan yang dilanda banjir besar.

Di antaranya di satu dusun di Desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo, di Desa Tambakrejo dan Desa Kebonagung, Kecamatan Kebonagung. Empat desa di Kecamatan Pacitan, yakni Desa Sirnoboyo, Sukoharjo, Kayen dan Kembang. Dan kondisi banjir paling parah berada di Kecamatan Pacitan dan Kebonagung.

Banjir Pacitan ini menjadi viral di media sosial setelah sejumlah akun mengunggah foto dan video. Seperti yang diunggah akun Facebook Ommy Basusena.

Di wilayah kota, air sempat menggenangi sejumah ruas jalan protokol dan alun-alun Kota Pacitan, seperti di depan kantor bupati, depan Masjid Agung. Aktivitas masyarakat lumpuh. SMPN I Pacitan memulangkan murid-muridnya pada pukul 09.00 karena cuaca buruk.

“Sejak subuh air sudah menutup jalan di depan Masjid Agung,” kata Annas Alvianto, warga Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan.

Miswadi, warga desa Sirnoboyo mengatakan saat ini dirinya sedang menunggu kedatangan evaluasi dari tim BPBD. “Rumah warga sudah terendam air, saat ini sedang menunggu evakuasi,” katanya, Selasa (28/11/2017).

Banjir selain disebabkan tingginya debit air hujan, juga disebabkan adanya tanggul di anak sungai yang jebol di Kebonagung. Tapi penyebab utamanya, debit air hujan yang lumayan tinggi lebih 100 milimeter bisa dikatakan ekstrem, dampak dari tropical cyclone (TC) di wilayah Jawa.

Tidak hanya banjir, longsor juga terjadi di beberapa titik. Laporan sementara yang diperoleh Nusantara.News, longsor terjadi di sebuah jalan di Kecamatan Arjosari, dan di Desa Mentoro, Kecamatan Pacitan. Longsor juga terjadi di pemukiman warga di wilayah Desa Karanganyar dan Desa Karangnongko di Kecamatan Kebonagung.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, Windarto menyatakan, akibat dari bencana banjir dan longsor di Pacitan, sedikitnya empat orang hilang hanyut terbawa arus banjir. Dua korban tewas ditemukan di Kelurahan Kayen, Kecamatan Pacitan. Sementara data yang masuk BPBD itu, dua yang hilang masih ditelusuri.

“Sementara ada korban yang sebelumnya berusaha menolong warga tapi malah hanyut, dua orang. Baru dicari ini, dari jam 03.30 pagi tadi, sepeda motornya sudah ditemukan tapi orangnya tidak ditemukan,” katanya saat dihubungi, Selasa (28/11/2017) pagi.

Kata Windarto, dua orang di Desa Klesem, Kecamatan Kevonagung yang dilaporkan hilang rumahnya tertimbun material longsoran, namun belum dipastikan apakah dua orang ini berada di dalam rumah.

Selama ini Kabupaten Pacitan memang dilewati beberapa sungai. Sungai Grindulu adalah sungai terbesar yang membelah Pacitan dan bermuara di Teluk Pacitan. Warga khawatir apabila sungai meluap dan tanggul jebol bisa menggenangi kota.

BPBD Kabupaten Pacitan mengeluarkan peringatan untuk menghindari tanggul Sungai Grindulu yang terlihat mulai tergerus dan sangat rapuh untuk menghalau banjir kiriman. Padahal, sudah ada laporan banjir kiriman dari Kecamatan Arjosari dan Tegalombo. Waduk Thukul di Arjosari sudah tidak mampu menampung debit air.

Saat ini permukaan Sungai Grindulu kian meninggi, dan cuaca dilaporkan masih hujan deras. Warga mulai membangun dapur umum untuk membantu korban banjir dan tanah longsor.

Sekretaris BPBD Pacitan (pengendali posko), Ratna Budiono mengatakan pihaknya belum mengetahui jumlah pasti rumah yang tergenang banjir. “Banjir sudah mulai sejak tadi malam, sekitar pukul 02.00 WIB di wilayah perkotaan dan Kebonagung,” kata Ratna, Selasa (28/11/2017) pagi.

Rencananya pihak BPBD Pacitan akan menggunakan drone untuk mengambil gambar dari ketinggian guna menghitung rumah yang terdampak banjir. Sebab ketinggian air yang masuk ke dalam rumah dan mengenang di jalan, kata Ratna diperkirakan mencapai sekitar 30-50 sentimeter. “Jumlah rumah yang tergenang belum dapat dipastikan. Pasukan assessment masih bergerak mengevakuasi warga dan mengantar logistik bantuan,” katanya.

Ditanya dampak dari longsor yang terjadi, Ratna belum dapat memberikan keterangan karena anggotanya masih berada di lokasi longsor. Sedangkan sejumlah jalan yang tertutup longsor sudah ditangani Balai Pengelola Jalan (BPJ) Provinsi Jatim dan nasional. “Longsor masih dalam tahap assessment, karena laporan masyarakat masih terus masuk,” imbuhnya.

Banjir Paksa 4.200 Warga Mengungsi

Akibat dari banjir dan longsor yang melanda, Kabupaten Pacitan kini menjadi prioritas Pemkab Pacitan. Dapur umum dan tempat pengungsian disiapkan untuk para pengungsi.

Menurut laporan, sebanyak 4.200 warga meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke tempat aman. “Saat ini jumlah pengungsi ada sekitar 4.200 warga,” ujar Ratna.

Dikatakan Ratna, para pengungsi rata-rata berasal dari empat kecamatan yang terdampak banjir yakni Ngadirojo, Kebonagung, Pacitan, dan Arjosari. Sebenarnya warga menganggap banjir yang melanda Pacitan sudah biasa. Mereka bahkan ada yang menolan untuk mengungsi. Namun pihak BPBD tetap mengkhawatirkan kondisi banjir yang semakin besar dan tinggi. Karena itu ribuan warga terpaksa harus diungsikan.

“Sebagian warga menganggap banjir ini biasa, tetapi mereka kami ungsikan karena banjir semakin besar dan tinggi,” kata Ratna.

Di dalam kamp pengungsian, untuk sementara ada tiga tempat lokasi yang digunakan. Tiga-tiganya berada di Kecamatan Pacitan. Tempat pengungsian berupa tenda-tenda yang didirikan di lokasi atau tempat yang bebas banjir. Sementara ada warga yang berinisiatif mengungsi ke balai desa, masjid, dan lokasi-lokasi lain yang bebas dari banjir.

“Sebenarnya bagus juga warga berinisiatif mengungsi ke titik-titik bebas banjir. Tetapi untuk pendistribusian makanan juga agak berat karena mereka tersebar di banyak titik,” lanjutnya.

Tiga dapur umum menjadi tumpuan untuk masalah logistik atau konsumsi warga. “Untuk data lain kami belum menghitung. Saat ini kami fokus pada pengungsi. Yang penting pengungsi bisa makan,” tandasnya.

Sementara itu beredar pemberitahuan cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam pesan WhatsApp. Dalam lembaran tersebut diberitahukan cuaca ekstrem terjadi di Jatim mulai 26 sampai 28 November 2017.

BMKG juga merilis telah terdeteksi Siklon Tropis Cempaka di dekat pesisir selatan Pulau Jawa. Pertumbuhan siklon tropis ini diketahui Senin (27/11/2017) pukul 19.00 WIB. Dampak yang ditimbulkan dari siklon cempaka adalah terjadinya hujan lebat disertai angin yang akan terjadi di hampir seluruh wilayah Jawa, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.

Angin kencang yang menyertai hujan bisa mencapai 30 knot dan berpotensi terjadi di perairan utara Jawa Timur hingga ke Pulau Kangean. Selain itu angin kencang ini juga hampir menyeluruh terjadi di beberapa wilayah Jawa hingga ke Selat Bali, Laut Sumbawa, Serta kawasan lainnya.

Begitu juga potensi gelombang setinggi 2,5-6 meter juga berpotensi terjadi di perairan Selatan Jawa Timur l, Laut Jawa Bagian Timur, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat, Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga Selatan Jawa Tengah

Diperkirakan Siklon Tropis Cempaka masih akan bertahan dalam dua hingga tiga hari ke depan. Untuk itu masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang pohon tumbang dan jalan licin. Aktivitas penerbangan di beberapa bandara di Pulau Jawa juga berpotensi terpengaruh akibat hujan dan angin kencang.

Dengan kondisi gelombang laut yang cukup tinggi masyarakat dan kapal-kapal yang melintas diimbau juga tetap waspada dan siaga terutama nelayan tradisional yang beroperasi di perairan selatan Jawa.

Untuk wilayah Jawa Timur sendiri, cuaca ekstrem tersebut disebabkan 3 hal, di antaranya satu, tekanan rendah di Selatan Jawa mengakibatkan area belokan angin yang menyebabkan peningkatan pertumbuhan awah hujan. Dua, aliran masa udara basah dari barat menyebabkan kondisi udara di sekitar Jawa Timur menjadi sangat tidak setabil. Ketiga, interaksi kedua fenomena tersebut dengan kondisi cuaca lokal mengakibatkan beberapa potensi cuaca ekstrem di sekitar wilayah Jawa Timur.

Akibat fenomena alam ini sejumlah wilayah berpotensi hujan lebat. Di antaranya Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Gresik, dan Batu. Selanjutnya, Ngawi, Pamekasan, Sampang, Bangakalan, Sumenep, Ponorogo, dan Bojonegoro. Lalu, Jombang, Lumajang, Magetan, Nganjuk, Kota Malang, Kab Malang, Madiun, Kota Madiun, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Kediri, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Mojokerto. Juga wilayah Jombang, Kab Kediri, Kota Kediri, Trenggalek, Jember, Bondowoso, Pacitan, Tulungagung, Kota Blitar, dan Kab Blitar.

Potensi bencana angin kencang dan puting beliung di daerah Surabaya, Lamongan, Sidoarjo, Gresik, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep, Pacitan, Trenggalek, Malang, Mojokerto, dan Jombang. Untuk potensi terjadinya puting beliung pada sore dan menjelang malam hari.

Sedang potensi gelombang tinggi di perairan di daerah Perairan Kepulauan Masalembu, Perairan Pulau Bawean, Laut Jawa Bagian Timur, Perairan Selatan Jawa Timur, Samudera Hindia Selatan Jawa Timur.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here