Badai Tembin Sapu Sebuah Desa, Hanya Masjid yang Tersisa

0
728
Badai tembin yang mengobrak-abrik Filipina bagian Selatan, seperti Zamboanga, Mindanao dan Palawan. Tercatat setidaknya ada 230 korban tewas

Nusantara.news, Mindanao – Sebuah bendungan bobol dihantam badai tropis Tembin, di Lanao del Norte, Provinsi Mindanao, Filipina, pada Sabtu (23/12) dini hari. Akibatnya banjir menerjang sejumlah desa di Semenanjung Zamboanga. Puluhan ribu penduduk mengungsi. Tercatat 230 orang tewas.

Desa Anungan nyaris lenyap diterjang bongkahan kayu, batu dan lampur yang terbawa arus sungai yang meluap akibat bobolnya bendungan. Rumah-rumah penduduk dan sarana umum di desa itu seperti tiang listrik nyaris rata dengan tanah.

“Hanya sebuah masjid yang tetap berdiri kokoh di sana,” ungkap Arturo Simbajon, seorang relawan bantuan kesehatan yang datang ke sana saat badai mulai reda.

Di tengah malam orang-orang berlarian keluar rumah, cerita Arturo menirukan kesaksian sejumlah korban yang masih hidup, mereka mulai cemas dengan air sungai yang mulai pasang menggenangi pelataran rumah. “Mereka tidak menyangka air menerjang dari belakang,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters.

Warga mengungsi menyeberangi genangan setinggi perut dan dadanya

Hingga berita ditulis, di tengah perayaan Natal sejumlah warga Filipina yang mayoritas beragama Katolik, para relawan masih sibuk berjuang menyelamatkan korban di sejumlah daerah terpencil. Laporan akhir menyebutkan korban tewas sudah mencapai 230 orang.

Jumlah korban baru bisa dipastikan, ungkap Reuters, setelah daerah-daerah terpencil yang terkena bencana bisa dijangkau oleh tim bantuan kemanusiaan. Mengutip keterangan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Zamboanga Manuel Luis Ochotorena, diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah.

“Banyak daerah di Semenanjung Zamboanga yang terputus dari aliran listrik dan komunikasi, sejumlah kota terputus dari dunia luar akibat jembatan ambruk, banjir dan longsor,” ujarnya.

Perbedaan Data

Memang, data antara satu petugas dan petugas lainnya, terutama data korban tewas, berbeda-beda. Dewan Pengurangan Resiko dan Manajemen Resiko Nasional Filipina pada Minggu (26/12) menyebutkan sedikitnya 123 orang tewas dan 159 hilang.

Sebelumnya lewat akun Twitter, CEO Palang Merah Filipina menyebutkan 156 orang ditemukan tewas. Di saat yang bersamaan Badan Penanggulangan Bencana Nasional menyebut korban tewas hanya 75 orang.

Badai Tembin akan terus bergerak hingga ke wilayah Thailand

Badai tropis Tembin di Filipina juga dikenal dengan sebutan Vinta, selain menerjang semenanjung Zamboanga juga mengobrak-abrik Pulau Balabac yang terletak di ujung selatan Provinsi Palawan.

Sebelumnya, warga memang sudah diingatkan mewaspadai tiupan angin kencang dan hujan deras di sejumlah wilayah Filipina Selatan. Peringatan itu diumumkan di sejumlah wilayah yang masuk Provinsi Mindanao dan Pelawan.

Awalnya Tembil menyerang Semenanjung Zamboanga pada Jumat atau Sabtu dini hari. Derasnya hujan yang digambarkan mencapai ukuran 5,5 inci mengakibatkan jebolnya bendungan yang menerjang rumah-rumah penduduk di bawahnya.

Pemakaman di Tengah Badai

Sejumlah video yang diabadikan masyarakat setempat menunjukkan betapa dahsyatnya banjir setelah bendungan dibobol badai. Tampak sejumlah orang saling berpegangan berusaha menyeberangi sungai yang mulai meluap sebelum banjir lumpur datang menerjang mereka.

Gambar lain yang dipublikasikan oleh Agency France-Press (AFP) mengabadikan peristiwa saat regu penyelamat mengarungi air setinggi pinggang pada Jumat (22/12) tengah malam mengantar penduduk mengungsi ke tempat yang lebih aman di Kota Davao dan Cagayan de Oro.

Akibat banjir petugas penyelamat telah mengungsikan lebih dari 70 ribu warga di Filipina Selatan, dan 50 ribu di antaranya tinggal di tempat penampungan, demikian bunyi rilis bersama Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah pada Sabtu (23/12) lalu.

Kala itu CEO Palang Merah Filipina Richard Gordon menyebut lewat Twitter ada 291 orang hilang dan 86 lainnya terluka.

Regu penyelamat dari lembaga non profit Pusat Islam Al Jalis As-Salih, tutur Soheimen M Agal selaku sekretaris di lembaga itu, juga menyebutkan sejumlah warga di Lanao del Norte tampak sejumlah warga melakukan upacara penguburan jenasah kerabatnya yang meninggal dunia, bahkan ketika badai tropis belum mereda, pada Sabtu (23/12) lalu.

Lanao del Norte memang sebuah distrik yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam kepercayaan Islam seseorang yang meninggal dunia mesti harus segera dikuburkan. Oleh karenanya meskipun badai masih mengancam keselamatannya mereka tetap bergegas menguburkan anggota keluarganya yang meninggal dunia.

Berdasarkan pantauan BMKG setempat, badai tropis Tembin mulai bergerak ke barat, kira-kira antara Palawan dan Kinibalu Malaysia di ujung utara Pulau Kalimantan. Tembin akan mengakibatkan hujan deras di ujung selatan Palawan yang sebagian besar mencakup wilayah terpencil yang dikepung hutan lebat dan perkebunan kelapa sawit.

Badai itu menyeret angina kencang berkecepatan maksimum 105 Km per jam yang akan mengarungi Laut China Selatan dan mengintai sejumlah wilayah di Vietnam.Dalam satu bulan terakhir, Tembin adalah badai kedua yang menyerang Filipina. Sebelumnya badai Urduja sudah lebih dulu menyerang wilayah Visayas yang menewaskan sedikitnya 27 orang.

Karena memang, Filipina yang berada dalam perbatasan antara wilayah tropis dan sub-tropis setiap tahunnya paling tidak diterjang 20 angin topan. Bahkan tahun 2013 lalu, Topan Haiyan setidaknya menewaskan 8 ribu warga Filipina dan 200 ribu keluarga kehilangan rumah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here