Badut Pejuang Pendidikan, Berantas Buta Aksara

0
276

Nusantara.news, Surabaya – Tidak berlebihan jika ia disebut lelaki nyentrik. Selain mode berpakaiannya, sepeda motornya juga nyentrik ditambah sejumlah aksesories. Di atas setir dipasang kaca besar pelindung tubuh dari angin atau debu. Kedua kaca spionnya juga gaya kuno, bundar besar dan jadul.  Di belakang jok, ada tambahan pasangan besi yang bisa berfungsi untuk tempat barang atau lainnya. Meski tampak serius, penampilannya lumayan kalem. Terkadang ia suka mengeluarkan joke-joke yang membangkitkan tawa saat berbincang.

Baca juga: Demi Cerdaskan Anak Kaum Miskin (1)Keluar Masuk Kampung Mendongeng Tanpa Bayaran

Lelaki kelahiran Surabaya ini cepat akrab dengan lawan bicara. Bertandang ke kantor Redaksi Nusantara.news di Jalan Imam Bonjol Surabaya, ia mengenakan busana khas Jawa motif garis yang biasa dipasangkan dengan blangkon atau sering dijuluki sebagai pakain Si Doyok. Dia menyebut pakaian itu salah satu costum kesukaannya. Turun dari sepeda motor nyentriknya, senyum terus mengembang. Seakan tak ada kesedihan. Sepertinya hidup yang dijalaninya  tak ada beban. “Saya ya begini ini Mas, sambil menjulurkan tangan bersalaman”. Di ruang tengah, kedatangan Harris disambut Kepala Biro Nusantara.news Jawa Timur Catur Prasetya, reporter Agus dan Tudji. Setelah memberi salam kepada awak redaksi lainnya dengan semangat dia mengatakan hampir setiap hari berkeliling dari kampung ke kampung, utamanya kampung kumuh. Hal itu dilakukannya untuk melihat dan memetakan daerah-daerah minus yang, menurutnya, masih terdapat warga yang belum bisa baca tulis alias buta aksara. “Setelah dapat data warga yang masih buta aksara, saya tawarkan kepada warga di sana untuk belajar baca tulis. Tentu, sebelumnya saya lebih dulu bertanya dan izin RT,” kata Harris saat berbincang dengan Nusantara.news, Selasa (31/1/2017).

Setelah menyepakati waktunya, Harris biasanya datang dengan kostum dengan segebok buku-buku bacaan, dan menjelma jadi badut atau kadang berpakaian tokoh-tokoh pewayangan. “Tergantung selera, memakai kostum badut atau pewayangan. Tujuannya agar mereka senang, tidak canggung dan yang pasti untuk menghibur,” tambahnya. Harris menyebut tidak hanya anak-anak yang disasar untuk diajari membaca dan menulis. Orang dewasa bahkan wanita tua juga ikut disasarnya. Menurutnya, ibu-ibu tua yang masih buta aksara penting untuk diajari mengenal baca tulis. “Kemampuan membaca menulis itu penting, termasuk mereka yang sudah tua,” ucapnya. Setiap Hari Keliling, Cari Warga Buta Aksara Mengaku orang tuanya memiliki rumah di Bluru Permai Sidoarjo, meski begitu dia memilih kos di Surabaya, di bilangan Jalan Pelemahan. Alasannya, dekat dengan tempatnya bekerja di sebuah perpustakaan sekolah. Selepas jam tugas di perpustakaan, ia biasanya pulang sebentar ke rumah kos kemudian pergi lagi dengan mengendarai sepeda motor antiknya, keluar masuk kampung kumuh mencari ‘sasaran’ untuk diajar membaca menulis. “Karena saya yakin, meski Surabaya adalah kota besar pasti ada warganya yang masih buta aksara, dan mereka harus diajari agar bisa membaca dan menulis,” jelasnya. Setelah ada kesepakatan, hari berikutnya dia datang lagi dengan dandanan lucu, yang mengundang perhatian.

Baca juga: Demi Cerdaskan Anak Kaum Miskin (2)Keliling Mengajari Baca Tulis Sudah Diikrarkan Sejak Mahasiswa

Sejumlah buku bacaan pun dikeluarkan lengkap dengan kertas dan alat tulis. “Ayo ibu-ibu silahkan dibuka bukunya, huruf apa ini?,” ucap Harris Badut sambil menirukan gayanya sendiri saat tangannya menunjuk triplek putih bertuliskan huruf dan rangkaian kalimat-kalimat pendek, kepada Nusantara.News. “A, B, C, D, E … Air, Aku, Akan, Mandi, demikian bunyi sebagian penggalan kalimat-kalimat pendek yang sering diucapkannya dan kemudian serentak ditirukan oleh murid-murid orang tua dan anak-anak. Untuk menghidupkan suasana, sesekali dia melontarkan pertanyaan sambil menunjuk rangkaian huruf yang harus dijawab atau dibaca oleh ibu-ibu atau murid dadakan yang diajari. Kami bertanya, mengapa ia harus susah-susah keluar masuk kampung mengajar warga miskin buta aksara. Dengan lugas pria ini mengaku, selain telah berikrar sejak masih mahasiswa, dia menyebut sebagai panggilan jiwa. Tapi, sampai kapan?. “Sudah saya niati Mas, sampai tidak ada lagi mereka yang buta aksara. Karena kemajuan sebuah wilayah atau kota disebut maju, kalau warganya sudah tidak ada yang buta aksara,” tambahnya. Tanpa bayaran, bahkan mengeluarkan kocek pribadi. Kemudian, dengan diplomatis dia mengatakan, hidup di dunia tidak harus selalu mengejar kekayaan, jabatan, atau kedudukan penting. Bisa membahagiakan orang lain apalagi bisa mentransfer ilmu mengajari orang lain, adalah perbuatan mulia.

Ketika Nusantara.News menanyakan harapannya, termasuk kepada pemerintah, ia menyebut tidak ingin mendapat pujian dan popularitas. Namun, tanpa menjelekkan keberhasilan pemerintah dengan fakta yang ada, harusnya pemerintah dengan kesadaran melakukan perbuatan nyata mengentas warganya yang masih buta aksara. Tidak harus dengan berlomba membangun fisik, sementara pembangunan manusia atau warganya khususnya kemampuan membaca menilis diabaikan. Menurutnya, melihat kenyataan ini pemerintah bisa memetakan kemudian membentuk tim mengajar di kampung-kampung yang mendapat dukungan pemerintah. “Tujuan saya satu, warga harus cerdas, untuk bisa cerdas harus bisa membaca dan menulis,” tegasnya. Mengaku tidak bermaksud menggurui, dia mengajak masyarakat sekitar yang mendapati masih ada warga disekitarnya ada yang masih buta aksara, agar tergerak hatinya dan meluangkan waktu memberikan ilmu, khusnya membaca menulis. “Terus terang, saya trenyuh menemui ada orang yang masih buta aksara. Itu tugas kita semua untuk mengajari mereka agar bisa membaca dan menulis,” ajak lelaki yang lahir 18 Maret 1983 ini dengan serius. Benar yang dilakukan Harris, termasuk ajakan agar warga ikut peduli dan meluangkan waktu mengajari orang lain di sekitar tempat tinggalnya yang masih buta aksara. Negara juga harus turun tangan, karena kewajiban mencerdaskan bangsa adalah amanat konstitusi. Bagaimana di daerah Anda, apa masih banyak yang buta aksara?. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here