Jelang Pertemuan Donald Trump-Xi Jinping

Bagai Bertemunya Minyak dan Air

0
125

Nusantara.news Pertemuan dua pemimpin negara besar Amerika Serikat dan Cina dinilai seperti pertemuan dua sosok kontradiktif. Satu Presiden Trump, merupakan sosok yang blak-blakan dan cenderung “kurang ajar” dengan lontaran twit-twit pedasnya di akun twitter miliknya. Satu lagi, Presiden Xi Jinping adalah sosok yang berhati-hati dan penuh perhitungan. Pertemuan keduanya, ibarat minyak dan air, dua karakter yang berbeda.

Trump terlahir sebagai sosok pengusaha, maestro di bidang properti dan real estate, bintang reality show, dan puncaknya mendapat peruntungan di dunia politik dengan terpilih sebagai Presiden AS.

Sementara Xi Jinping mewakili sosok pangeran Cina. Dia memang seorang ‘pangeran’ ayahnya Xi Zhongxun, tokoh utama dalam revolusi komunis Cina yang kemudian dibersihkan oleh Mao Zedong.

Trump merupakan sosok yang sering mengumbar sensasi, baik di media konvensional maupun media sosial. Dia juga beberapa kali secara terbuka menunjukkan permusuhan dengan media. Bahkan, pada titik tertentu perilaku Trump dianggap kurang beretika. Misal, ketika menolak berjabat tangan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel di hadapan awak media, padahal Merkel saat itu tamu kenegaraan di Gedung Putih.

Xi adalah orang yang dibesarkan di negeri komunis, ayahnya kawan dekat Mao Zedong, pemimpin kharismatik Cina hampir tiga dekade hingga kematiannya. Xi tidak “bermain” Twitter, karena platform media sosial tersebut diblokir di Cina, sehingga relatif tidak banyak sikapnya yang dapat diketahui khayak, sebagaimana Trump.

Apakah pertemuan kedua pemimpin besar tersebut pada 6-7 April akan menuai sukses bagi kerja sama kedua negara? Masih banyak yang meragukan.

Pasalnya, jelang beberapa hari sebelum pertemuan, Trump dalam pernyataannya kepada Financial Times masih saja “menyalahkan” Cina soal nuklir Korea Utara. Trump mengatakan AS akan mengambil tindakan sepihak untuk menghilangkan ancaman nuklir dari Korut jika tidak menerima jaminan dari Cina.

Bahkan Trump akan menjadikan negosiasi perdagangan dengan Cina sebagai barter insentif untuk Cina jika mau menghentikan nuklir Korut. AS sudah lama menuding Cina sebagai pemasok bahan baku, termasuk uranium, guna pengembangan nuklir Korut. Korut juga merupakan sekutu utama perdagangan dengan Cina.

“Cina memiliki pengaruh besar atas Korut. Dan China akan memutuskan untuk membantu kami terkait Korea Utara, atau tidak,” kata Trump.

Dalam twit-nya Kamis (30/3) Trump mengatakan bahwa pertemuan dengan Xi Jinping akan menjadi pertemuan yang “sulit”.

Trump dan Jinping mungkin memiliki satu kesamaan, yaitu retorika mereka tentang memulihkan kebesaran negara mereka masing-masing, di mana Cina dan AS sama-sama mengalami kemerosotan ekonomi.

Lima bulan setelah terpilih sebagai Presiden AS, Trump tampaknya masih menunjukkan sikap rivalitas yang tinggi terhadap Cina. Dia masih menuduh Cina sebagai penyebab kerugian ekonomi AS karena terjadi defisit perdagangan dan masih menuding Cina tidak serius mengendalikan pengembangan senjata nuklir Korut yang menurut Trump jelas-jelas melanggar perjanjian PBB.

Agenda utama dalam pertemuan Trump-Jinping di resor pribadi Trump, Mar-a-Lago Florida adalah mengenai masalah perdagangan, nuklir Korea Utara, dan konflik Laut Cina Selatan.

Peran sang menantu

Bukannya mengandalkan ahli Asia Timur, Presiden Trump justru mengandalkan sang menantu yang juga  penasihat seniornya, dan sekarang diangkat sebagai Kepala Kantor Inovasi Gedung Putih, Jared Kurshner dalam bernegosiasi dengan Cina. Beberapa pembantu Trump percaya, meski Kushner bukan ahli tentang Cina, Kushner mampu menjembatani pembicaraan antara Trump dan Jinping pada Kamis dan Jumat nanti.

Peran Kushner, di tengah berkurannya peran Menlu Rex Tillerson, dianggap pas dan pihak Cina pun merasa nyaman, karena bagaimanapun Xi Jinpin adalah “pangeran” Cina yang masih melihat link dinasti. Kushner, walaupun menantu tapi posisinya saat ini ibarat “pangeran” di Gedung Putih.

Hanya saja, peran Kushner sebagai perantara dalam pertemuan ini dipertanyakan, karena  dikhawatirkan membawa konflik kepentingan. Pasalnya, perusahaan keluarga Kushner sedang melakukan negosiasi dengan perusahaan Cina untuk berinvestasi ratusan juta dolar di properti unggulan milik keluarganya, 666 Fifth Avenue di Manhattan.

Rabu lalu, di tengah sorotan negatif publik, perusahaan Kushner menyelesaikan negosiasi dengan perusahaan Cina Anbang Insurance Group.

Cina sejak Trump terpilih telah meretas jalur diplomasi lewat “sang pangeran” Kushner. Menurut sejumlah pejabat Kushner dan Duta besar Cina, Cui Tiankai-lah yang menyetujui pertemuan kedua pemimpin itu di Mar-a-Lago, Florida.

Bahkan, sebagaimana dilaporkan Washington Post, duta besar telah mengirimkan kepada Kushner draf pernyataan bersama yang akan dikeluarkan oleh Cina dan AS pasca-pertemuan penting itu.

Peran sentral Kushner, selain sifatnya yang khas karena semestinya peran ini diambil Menlu Tillerson, juga menunjukkan hubungan yang erat antara Kushner secara pribadi dan Cina yang sudah dibangun sejak awal.

Kushner pertama kali menunjukkan pengaruhnya terkait Cina, pada awal Februari ketika dia dan Dubes Cui mengatur sebuah panggilan telepon antara Trump dan Xi Jinping untuk memperbaiki hubungan kedua pemimpin. Dalam pembicaraan, Trump berjanji menghormati kebijakan “Satu Cina” yang telah empat dekade diakui oleh AS, meskipun sebelumnya Trump mengatakan bahwa “Satu Cina” bisa dinegosiasikan.

“Sejak era (Henry) Kissinger, Cina telah tergila-gila untuk mendapatkan dan mempertahankan akses ke Gedung Putih,” kata Evan S. Medeiros, direktur senior untuk Asia di pemerintahan Obama. “Memiliki akses ke keluarga presiden dan seseorang yang mereka lihat sebagai pangeran itu lebih baik,” tambahnya.

Oleh karena itu, sejak panggilan telepon pertama Trump ke Xi Jinping, Dubes Cina untuk AS, Cui terus memupuk kedekatan dengan keluarga Kushner. Pada bulan Februari, ia mengundang Ivanka Trump dan putrinya, Arabella untuk menghadiri resepsi di Kedutaan Besar China guna merayakan Tahun Baru Imlek.

Mar-a-lago dan Diplomasi Golf

Tempat pertemuan di resor pribadi Trump di Florida dianggap dapat mencairkan suasana ketegangan antara kedua pemimpin negara besar itu. Pihak Cina lah yang mengusulkan agar pertemuan dilaksanakan di resor, bukan di Gedung Putih.

Mar-a-lago resort

Pertemuan serupa juga pernah terjadi antara Presiden Trump dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe yang berjalan selama dua hari dengan sangat hangat dan santai.

Tapi mungkin tidak bisa disamakan. Banyak hal berbeda dari pertemuan Trump-Abe dan Trump-Jinping. Jepang, jelas-jelas merupakan sekutu abadi Amerika, sementara Cina selama ini adalah rivalnya.

Abe dan Trump menghabiskan pertemuan dengan bermain golf, sebuah kebiasaan Trump dalam melakukan lobi bisnis, yang kebetulan juga disukai Abe. Sementara Xi Jinping tidak terbiasa bermain golf sebagai bagian dari gerakan anti-korupsi di Cina, dia bahkan menindak pejabat yang bermain golf. Agaknya tim pertemuan harus mencari cara lain untuk mengisi kegiatan selama 25 jam keberadaan Presiden Xi Jinping di resor Mar-a-Lago.

Presiden AS Donald Trump bermain golf di resor Mar-a-lago, Florida

Kamis, Trump dan istrinya Melania, akan menjadi tuan rumah menerima Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan untuk makan malam bersama. Semestinya, suasana pertemuan akan lebih hangat dan menghasilkan kesepakatan yang menurut istilah Menlu Tillersor “win-win”, tapi bukannya Trump sudah kerap membuat kejutan yang tak pernah diduga-duga? Kita tunggu saja, apakah air dan minyak bisa menyatu di Mar-a-Lago? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here