Bagaimana Wakaf Dimuliakan di Negeri Singa?

0
109
Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) berhasil menyulap lahan wakaf berupa masjid dan madrasah menjadi aset produktif, tanpa menghilangkan fungsi ibadah masjid dan madrasah yang tetap eksis. Semua proses tersebut dengan bantuan Warees Investment Limited, Ptd.

Nusantara.news, Jakarta – Wakaf telah terbukti menjadi pilar ekonomi yang kokoh dimasa Rasulullah Muhammad saw, lalu dilegalkan dan dipraktikkan langsung oleh sahabat Usman bin Affan lewat wakaf abadinya.

Titik kulminasi ketika wakaf menjadi pilar ekonomi khalifah Umar bin Abdul Azis, dimana wakaf telah menyejahterakan dua pertiga dunia. Sampai-sampai saking makmurnya, ketika itu tak satupun ummat Islam yang berhak menerima zakat, infaq dan shodaqoh, karena zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf (ziswaf) dikelola dengan penuh amanah dan profesional.

Sejak kejatuhan khalifah Usmani, konsep ziswaf tak lagi mendunia, terpuruk seiring jatuhnya pemerintahan Islam global. Sekarang, ketika sistem lain menjadi pilar ekonomi, ekonomi global selalu dibayang-bayangi krisis, krisis dan krisis. Seolah pilar ekonomi yang menopang dunia hari ini telah menjadi kutukan yang tak ada habisnya.

Di tengah situasi ekonomi global yang slowdown, bahkan di beberapa belahan dunia penuh prahara dan gejolak, Singapura, salah satu negeri yang mayoritas penduduknya non muslim justru menampilkan sesuatu yang unik. Yakni bagaimana mengelola wakaf secara profesional, menghasilkan dan membawa berkah.

Begini ceritanya…

Di Singapura ada yang namanya Majelis Ugama Islam Singapura atau yang lebih dikenal dengan MUIS. Kalau di Indonesia mungkin setara dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pemerintah Singapura hanya memberikan sekitar enam lahan luas buat masjid dan pesantren, tepatnya di kawasan Tanah Merah, Singapura. Di mata Pemerintah Singapura, cukuplah enam lokasi itu untuk menampung aspirasi ibadah 875.000 kaum muslimin Singapura atau 14,3% dari total penduduk Negeri Singa itu.

Seiring berjalannya waktu, MUIS punya gagasan cemerlang. Intinya, bagaimana membuat aset-aset tanah iddle, menganggur karena hanya digunakan hanya untuk sholat, belajar dan belajar. Lalu digagaslah lahan masjid dan madrasah itu menjadi aset produktif dibidang properti dan dikelola secara profesional oleh sebuah perusahaan real estate Warees Investment Limited Ptd.

Gagasan Warees di negeri kecil berpenduduk sekitar 5 Juta Jiwa itu, namun umat Islam Singapura yang minoritas memiliki aset wakaf yang cukup besar.

Pada 2010, nilai aset properti wakaf di Singapura mencapai SIN$500 juta (ekuivalen Rp3,5 triliun) dan menghasilkan surplus wakaf senilai SIN$3 juta (ekuivalen Rp21 miliar). Surplus wakaf tersebut disalurkan untuk operasional mesjid  (61%), pendidikan madrasah Islamiyah, dan kegiatan sosial lainnya,

MUIS sendiri, memiliki aktivitas dalam menghimpun dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Khusus untuk wakaf, MUIS memiliki fokus dalam memproduktifkan aset wakaf di bidang properti dan dikelola oleh sebuah perusahaan real estate, WAREES Investment Limited Ptd.

Aset wakaf yang dikelola oleh Warees sendiri kebanyakan berupa residensial (apartemen, perumahan), ruang komersial (perkantoran, pusat bisnis), dan masjid yang jumlahnya sekitar 69 masjid. Salah satu program sosial yang dikelola MUIS juga ada pemakaman muslim yang bernama tanah perkuburan islam Cha Chu Kang.

Somerset Bencoolen, misalnya, aset wakaf berupa layanan sewa apartmen dengan ruang ritel dan perkantoran yang terintegrasi dengan masjid. Salah satu manfaat sosial dari pengembangan bersama antara Warees dan Wakaf.

Di lokasi, tepatnya 11 Beach Road, sebuah aset sosial berupa Gedung perkantoran berlantai enam, yang telah memenangkan penghargaan sebagai strategi investasi keuangan Islam yang cerdas. Sehingga, manfaatnya terus mengalir kepada yang lemah (dhuafa) di Singapura dan sekitarnya.

Meskipun umat Islam di Singapura minoritas, namun begitu cerdas menggagas dan mengoptimalkan potensi yang ada. Wakaf produktif, adalah di antara potensi yang masih demikian terbuka untuk dikembangkan.

Masjid-masjid dan madrasah dirobohkan, lalu dibangun properti 25 lantai, ada yang 50 lantai, lalu lantai 1 disulap menjadi ballroom yang siap disewakan, lantai dua berfungsi sebagai masjid dan kelas. Sementara mulai lantai 3 hingga lantai atas disewakan dalam bentuk office tower.

Mulanya Warees memiliki satu dua tower, karena lahan tanah yang dikuasai luas, maka properti milik Warees pun bertambah. Adapun cara membangun properti di lahan MUIS tersebut, MUIS minta back up Pemerintah Singapura agar memberikan endorsement berupa obligasi ataupun back up pinjaman bank.

Untuk mencicil pinjaman atau obligasi yang di-endorse Pemerintah Singapura, dari hasil sewa aset produktif tadi.

Hari ini, Warees telah mengelola 130 aset properti, dimana 61 aset properti di bawah kendali MUIS dan 69 aset properti di bawah kendali Mutawalli. Adapun nilai dari ke-130 aset properti tersebut mencapai SIN$782 juta atau setara Rp8,13 triliun.

Aset properti tersebut dikelola lewat mekanisme wakaf, dimana sebagian hasil dari aset produktif dinisbahkan untuk fakir miskin dan dhuafa. Sementara sebagian lagi digunakan untuk pertumbuhan aset properti tersebut untuk pengembangan dana wakaf.

Terinspirasi Usman bin Affan

Tentu saja pengembangan wakaf secara profesional oleh Warees Investment Limited Ptd. patut diacungkan jempol. MUIS sendiri terinspirasi wakaf abadi yang dijalankan oleh khalifah Usman bin Affan.

Usman yang semula hanya mewakafkan sumurnya, lalu sumur itu berkembang menjadi perkebunan kurma, lalu hasilnya ditabung dalam rekening bernama Usman bin Affan. Sebagian hasilnya dibagikan kepada fakir miskin dan dhuafa, sebagian ditabung untuk pengembangan investasi berikutnya.

Kerajaan Saudi Arabia selain terus memelihara hasil sumur dan kebun Usman, juga mulai mengembangkan hotel Usman bin Affan dengan perkiraan pendapatan sebesar Rp150 miliar per tahun.

Wakaf abadi Usman bin Affan kini mulai ditiru oleh kaum muslimin Singapura lewat upaya membuat aset produktif berupa properti.

Disamping mengembangkan aset produktif yang ada, MUIS juga mengutip zakat infak dan sedekah sekitar 1%. Warga muslim yang berpenghasilan SIN$1000 sebulan, menyisihkan sebesar SIN$10 untuk disetorkan ke MUIS. Mereka yang berpenghasilan SIN$5000, bisa menyetor ke MUIS SIN$50, tidak terasa, namun hasilnya maksimal.

Mengapa warga muslim Singapura dengan sukarela menyisihkan hasil kerjanya kepada MUIS? Tentu saja ada dasarnya.

Dalam surat al Baqoroh ayat 267 Allah mengatakan: “Wahai orang-orang yang beriman infaqkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian hasil bumi yang kamu usahakan.”

Ayat ini merupakan perintah berinfaq. Wujudnya bisa wakaf tunai maupun wakaf aset.

Dalam surat Ali Imron ayat 92 Allah berfirman: “Kamu tidak akan pernah mendapt kebaikan sebelum menginfaqkan sesuatu yang paling kamu cintai.” Konsep berinfaq yang terbaik, yakni dengan uang ataupun dengan aset.

Ketika Umar bin Khattab membeli kebun di Khaibar yang subur dan banyak airnya, Rasulullah saw mengatakan, “Tahan pokoknya, sedekahkan hasilnya.” Inilah yang menjadi dasar pengembangan wakaf.

Dan Usman bin Affan yang merekonstruksi perintah Allah dan Rasulullah paling ideal dan berhasil, yakni lewat pengembangan wakaf sumur. Dari sumur berkembang menjadi kebun kurma, hasilnya disimpan dalam rekening bank bernama Usan bin Affan.

Aset dari wakaf abadi Usman bin Affan semakin berkah, karena sebagian hasilnya untuk fakir miskin dan kaum dhuafa. Sebagian lainnya dikembangkan untuk tabungan dan pengembangan investasi. Alhasil, wakaf itu menjadi pilar ekonomi yang kokoh dan menyejahterakan.

Sangat menarik, Singapura yang bukan negeri Islam, berhasil meniru pengembangan aset non produktif menjadi aset produktif lewat manajemen wakaf paling modern. Singapura telah memuliakan wakaf sebagai instrumen dan pilar ekonomi alternatif.

Semoga Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia dapat mewarisi manajemen wakaf modern. Aamiin….[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here