Bagi-Bagi Sembako, Ahok-Djarot Main Kayu di “Injury Time”

0
115

Nusantara.news, Jakarta, – Kubu Basuki-Djarot kehabisan akal dalam berkampanye. Pasalnya, beberapa lembaga survei menilai,  rata-rata menunjukkan elektabilitas pasangan Anies – Sandi lebih unggul. Oleh karena itu, adanya kepanikan tim sukses Basuki – Djarot tidak menutup kemungkinan mereka menghalalkan kecurangan dan pelanggaran, baik dalam berkampanye maupun pada saat pencoblosan.

Adanya money politic,  pendistribusian paket sembako bertruk-truk ke beberapa wilayah untuk dijadikan ‘bujukan’ kepada warga agar pada hari H Pilkada, mereka mencoblos pasangan Basuki – Djarot, adalah pemandangan yang semakin transparan belakangan ini.

Kecurangan yang dilakukan pasangan calon Gubernur DKI nomor 2 semakin deras bahkan tanpa tedeng aling-aling lagi mereka mendistribusikan sembako dengan konvoi truk ke beberapa wilayah yang dianggap mumpuni untuk membujuk warganya. Buktinya, belum lama ini, Panwaslu telah menangkap dua orang bernama Yuli – Sarto yang diduga relawan Ahok-Djarot. Kedua orang ini dipergoki sedang membagi-bagikan paket sembako kepada warga Duri Kepa, Jakarta Barat.

Di beberapa wilayah juga banyak oknum relawan Ahok-Djarot yang ketahuan dan tertangkap basah, di antara mereka langsung ditangkap dan dilaporkan ke Panwaslu. Nyata-nyata dari tangan Yuli-Sarto saja diamankan barang bukti 11 karung berisi paket sambako. Selain itu, disita pula tumpukan brosur dan spanduk kampanye pasangan nomor urut dua, pada Minggu, 15 April 2017.

Dari kedua orang ini, selain sembako, Panwaslu juga menyita sejumlah foto copy kartu keluarga dan KTP warga. Dengan ‘metode’ serahkan dulu foto copy kartu keluarga dan KTP sebagai syarat mendapatkan paket sembako, Yuli-Sarto dianggap telah melanggar dan melakukan kecurangan dalam mengkampanyekan pasangan Basuki-Djarot. Panwaslu Jakarta Barat sendiri masih melakukan penyelidikan mengenai adanya unsur pidana dalam kasus pelanggaran tersebut.

Bagi tim sukses kampanye pasangan calon (paslon) Ahok-Djarot, setelah melihat elektabilitasnya yang semakin melorot tajam  dari berbagai lembaga survei, mungkin menjadi panik sehingga mereka apa boleh buat berprinsip bahwa pilkada DKI 2017 hanya bisa dimenangkan dengan melakukan berbagai kecurangan secara masif, termasuk pengadaan DPT palsu.

Lihat saja mukanya Ahok, tidak sesumringah dulu lagi ketika kampanye pilkada pada putaran pertama. Wajah kuningnya semakin pucat. Kata seorang ahli membaca wajah, hal itu menunjukkan tingkat grogi yang tinggi .

Semakin tinggi tingkat kecurangan merupakan satu petunjuk semakin lemah tingkat kepercayaan diri tim sukses paslon. Melorotnya kepercayaan diri paslon terefleksi pada tindakan-tindakan berbagai kecurangan di lapangan. Bagi-bagi paket sembako, membodoh-bodohi warga yang lanjut usia dengan mengatakan bahwa Anies-Sandi itu cagub nomor dua agar nanti dicoblos nomor dua.

Menurut aktivis 77/78 Abdurrahim Krisna, adanya penggandaan DPT palsu yang ditemukan oleh Bawaslu DKI hingga 650 ribu, hampir 10% dari jumlah pemilih yang 7 juta, adalah untuk menaikkan jumlah pemilih Ahok menjadi sekian persen.

Banyak spekulan mengatakan, adanya pengunduran sidang pembacaan tuntutan jaksa terhadap Ahok yang akan dilakukan setelah pilkada seperti yang diusulkan Kapolda Jaya, merupakan skenario kecurangan dari pihak paslon ini. Kecurangan lainnya juga bisa dimainkan oleh oknum aparat KPU DKI dan sistem teknologi infromasinya. Maka, dari kondisi seperti inilah masyarakat harus ekstra waspada terhadap adanya kemungkinan kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan pilkada DKI putaran kedua esok hari. Bagi masyarakat pinggiran Jakarta tentu saja sangat rentan terhadap adanya ‘serangan fajar’ alis bagi-bagi duit secara door to door.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA dan Median membuktikan elektabilitas cagub-cawagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat berada di bawah pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Walaupun kenyataan tersebut masih dianggap tidak terlalu mengkhawatirkan pihak Ahok-Djarot tetapi langkah-langkah membagi-bagikan paket sembako dengan konvoi puluhan truk, sekali lagi membuktikan bahwa paslon nomor 2 ini tengah dihinggapi rasa was-was dan kekalapan. Sehingga, langkahnya semakin tidak terkontrol, apalagi pihak aparat seolah melindungi sepak terjang mereka.

Di saat-saat terakhir menjelang pencoblosan pada Rabu besok, aksi bagi-bagi sembako ini adalah upaya penyelamatan yang coba dilakukan.

Menurut lembaga Campaignesia Network (CN), elektabilitas Anies-Sandi melejit sebesar 58,1 persen, sedangkan Ahok-Djarot hanya pada posisi 39,2 persen, serta yang belum menentukan pilihan hanya 2,7 persen. “Jika pemilihan dilakukan hari ini, maka Anies-Sandi akan memenangkan Pilkada DKI Jakarta,” kata Direktur CN Achmad Aniefy Jr, yang melakukan Survei Pemilihan Gubernur dan Wagub DKI Jakarta yang dilakukannya pada 9-15 April 2017 dengan responden sejumlah 525, dengan teknik multistage random sampling.  

Dalam temuan-temuan laporan kecurangan dan pelanggaran pilkada 2017, masyarakat banyak yang bertanya,  apa tindakan Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu) yang harusnya aktif menangani tindak pidana pilkada?  Buktikan kalau Gakkumdu aktif bekerja untuk menangani kecurangan-kecurangan yang terjadi pada kampanye Pilkada 2017 putaran kedua. Adanya bagi-bagi sembako di mana-mana yang diduga dilakukan pihak cagub yang panik karena elektabilitasnya menurun tajam, mestinya Gakkumdu siap menangani pelanggaran tersebut.

Sanksi apa yang pantas dijatuhkan kepada peserta pilkada jika jelas-jelas ketahuan melakukan kecurangan dan pelanggaran dalam kampanyenya? Berapa lama proses yang dibutuhkan untuk menjatuhkan sanksi tersebut? Bagaimana jika salah satu pihak peserta pilkada menang tetapi ketahuan melakukan kecurangan yang sangat prinsipil dalam proses pilkada?

Pimpinan Bawaslu RI Nasrullah menyadari, dalam catatan Bawaslu,  hampir dipastikan penanganan penegakan hukum pidana pemilu praktis sangat lemah, disebabkan kurangnya dukungan terhadap regulasi yang tidak maksimal dalam pidana pemilu. Selain itu, pola kerja ego sektoral pada masing-masing institusi masih ada.

Untuk itu, katanya, Bawaslu berharap tidak ada lagi paradigma berpikir sempit dalam rangka penegakan pidana pemilu, tantangan ini harus dijawab oleh kita semua untuk meyakinkan kepada publik dalam hal penangan pidana pemilu hingga Sentra Gakkumdu mampu memberikan kontribusi yang berarti kepada masyarakat luas.

Masyarakat perlu mewaspadai pula adanya ‘orang bayaran’ yang berani pasang badan untuk ‘menghalalkan’ kemenangan Ahok di berbagai wilayah Jakarta. Mereka yang berani pasang badan ini bukanlah simpatisan murni, melainkan orang-orang bayaran, bahkan tugas mereka juga mempengaruhi pemilih-pemilih silent.

Sebaliknya, kampanye Anies-Sandi lebih efektif dan program kerjanya lebih bisa diterima oleh masyarakat Jakarta. Sedangkan elektabilitas Ahok-Djarot lebih rendah karena adanya kasus hukum yang menjerat Ahok. jika melihat segmen pemilih muda (usia 17-24 tahun), Anies-Sandi lebih unggul dibandingkan kompetitornya. Kenyataan ini menunjukkan, kaum muda Jakarta lebih suka dengan program-program unggulan yang ditawarkan Anies-Sandi, seperti program kewirausahaan OK OCE yang memang menjadi unggulan Anies-Sandi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here