Bahaya, Angka Putus Sekolah di Madura Tertinggi se-Jatim

0
200

Nusantara.news, Surabaya – Dewan Jawa Timur prihatin dengan tingginya angka putus sekolah di pulau Madura 2015-2016 mencapai 1.600 siswa tak bisa melanjutkan pendidikan. Tingkat nasional, Jawa Timur merupakan provinsi kedua tertinggi angka putus sekolah mencapai 4.682 siswa setelah provinsi Jawa Barat.

Anggota Komisi A DPRD Jatim Syafiuddin Asmoro mengungkapkan banyak faktor yang mempengaruhi angka putus sekolah di pulau garam tersebut. Salah satunya adalah faktor ekonomi dan pembangunan yang tidak merata di Jawa Timur. Belum lagi kesadaran dan minat belajar yang kurang, banyaknya nikah usia muda dan harus mengikuti jejak orang tua untuk mencari nafkah daripada meneruskan sekolah.

Tidak hanya itu, Syaifuddin memprediksi angka tersebut bakal naik seiring kondisi ekonomi Jatim yang masih naik turun, terutama perekonomian di pulau garam. Dinas Pendidikan Jatim merilis data siswa putus sekolah di Madura pada tahun 2014-2015 mencapai 1.302 anak, rinciannya adalah jenjang SD/MI berjumlah 657 siswa, SMP/MTs sebanyak 500 siswa, dan SMK/SMA/MA sebanyak 145 siswa. Faktor utama penyebab putus sekolah adalah ekonomi.

“Tahun 2016 angkanya sudah menembus 1.600 anak putus sekolah untuk tamat SMP. Mereka enggan untuk melanjutkan ke jenjang SMA/SMK, kami minta Pemprov Jatim perhatian terhadap mereka dengan membuat Balai Latihan Kerja (BLK) atau kegiatan yang mendorong untuk peningkatan ekonomi terhadap anak putus sekolah,” jelasnya, Kamis (6/4/2017) kepada wartawan di Surabaya.

Tidak hanya itu, politisi asal Gerindra juga mendesak agar Pemprov bersinergi dengan Pemkab untuk mendirikan BLK di Madura. Balai ini sangat mendesak untuk berdiri agar anak-anak yang putus sekolah memiliki skill untuk masuk dunia kerja. Apalagi tidak menutup kemungkinan sejumlah perusahaan akan masuk di Madura.

“Setiap reses, saya selalu turun di pondok pesantren. Ini karena sejumlah ponpes masih mengandalkan lulusannya bisa hafal Kitab Kuning dan sejenisnya. Padahal di sisi lain, ilmu dunia juga penting untuk mendapatkan pekerjaan dengan layak. Apalagi tidak menutup kemungkinan para pengusaha masuk ke Madura,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi A DPRD Jatim dari Partai Demokrat, H. Hisan. Menurutnya, untuk mengubah mindset masyarakat Madura tentang pentingnya pendidikan memang membutuhkan waktu yang sangat lama. Karenanya, para Wakil Rakyat dari dapil XI tidak henti-hentinya menyosialisasikan tentang sekolah itu penting.

“Kita tahu kalau masyarakat Madura merupakan orang yang memiliki kemauan keras dan gigih dalam bekerja. Ini akan lebih baik jika mereka ini dapat sekolah tinggi,” tegas politisi asal Partai Demokrat.

Dan yang terpenting, tambah Hisan, dengan dialihkannya pengelolaan SMK/SMA ke Pemprov Jatim, siswa dengan mudah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pasalnya, Pemerintah akan memberikan gratis bersekolah jika siswa berasal dari keluarga tidak mampu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here