Bahaya, Rupiah Dekati Angka Psikologis Rp15.000

0
162
Nilai tukar rupiah dari hari ke hari terus melemah, hari ini rupiah diperdagangkan di posisi terendah Rp14.729 per dolar AS akibat pengumuman data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang membaik.

Nusantara.news, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah hari ini semakin mengkhawatirkan, rupiah sore ini sempat menyentuh level Rp14.729 per dolar AS, rekor terendah dalam tiga tahun terakhir. Akankah rupiah menembus level Rp15.000 di bulan September?

Reuters melaporkan pada perdagangan hari ini rupiah bergerak pada kisaran Rp14.660 hingga Rp14.729. Ini adalah pergerakan tertinggi dalam tiga tahun terakhir, dimana pada 24 September 2015 rupiah sempat menyentuh level tertinggi di Rp14.855.

Namun pada penutupan pasar, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi massif sehingga rupiah menguat kembali ke level Rp14.670. Dengan demikian hari ini rupiah melemah 0,14% dibandingkan hari sebelumnya, atau nomor tiga terlemah setelah yuan China yang terkoreksi 0,25% dan rupee India yang terkoreksi 0,22%.

Namun jika dibandingkan posisi akhir Desember 2017, depresiasi rupiah merupakan terbesar kedua setelah rupee India. Rupiah terdepresiasi 7,53%, sedangkan rupee terdepresiasi 9,72%.

Ternyata, rupiah tak hanya terdepresiasi terhadap dolar AS, tapi juga terhadap beberapa uang negara tetangga. Pada perdagangan kemarin, rupiah terkoreksi terhadap kurs dolar Singapura di level Rp10.738,6 per dolar Singapura. Ini merupakan rekor terlemah sepanjang masa kurs mata uang Singapura terhadap rupiah. Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah sudah melemah sekitar 5,74% terhadap dollar Singapura.

Selain itu, rupiah melemah terhadap dollar Australia, meski tidak terlalu dalam. Sepanjang tahun ini, rupiah melemah 1,08% terhadap aussie. Kemarin, rupiah ditransaksikan di level Rp10.704 per dolar Australia.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menjelaskan tekanan yang terjadi pada rupiah dipicu oleh faktor eksternal. Yakni revisi data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) kuartal II 2018.

Disamping itu juga efek dari rencana kenaikan Fed Fund Rate (FFR) Federal Reserve ikut menggelincirkan rupiah ke posisi yang semakin lemah.

“Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh revisi data PDB AS triwulan II, dari 4,1% menjadi 4,2%, langkah PBOC memperlemah mata uang Yuan di tengah negosiasi sengketa dagang AS dan China yang belum tercapai, serta melemahnya mata uang Argentina peso dan lira Turki,” Nanang memaparkan.

Sementara penyebab pelemahan rupiah yang dalam terhadap dolar Singapura lantaran kebijakan moneter Monetary Authority of Singapore (MAS), bank sentral negara tersebut. April lalu, MAS mengubah kebijakan moneter dari netral menjadi apresiasi bertahap (gradual appreciation).

Intervensi ganda

Melihat pelemahan rupiah yang demikian massif, Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan siap melakukan intervensi ganda untuk menjaga rupiah. Intervensi tersebut akan dilakukan ketika nilai tukar tidak normal.

Bentuk intervensi ganda adalah dengan menggelontorkan cadangan devisa dalam operasi pasar stabilitas rupiah. Langkah lainnya ,yaitu dengan memborong surat utang negara di pasar sekunder.

Perry menyatakan untuk mengamankan nilai tukar, BI juga menerbitkan instrumen swap yang diberikan pada pengusaha ekspor dan impor. “Kalau kebutuhan dolar AS tinggi, sebulan, dua bulan, tidak harus beli dolar. Sekarang bisa lakukan swap dengan BI,” demikian papar Perry.

Bank Indonesia menyediakan swap secara cepat dan murah melalui dua jenis, swap operasi moneter dan swap hedging dari pagi diumumkan hingga jam 2.

Sementara Presiden Jokowi sebelumnya meminta agar devisa hasil ekspor (DHE) ditarik masuk ke perbankan dalam negeri dan disimpan dalam bentuk rupiah. Tujuannya, agar DHE tersebut bisa memperkuat nilai tukar rupiah, selama ini DHE tersebut ngendon di perbankan asing di luar negeri, harnya catatannya saja yang sampai ke BI.

Hanya saja keinginan Presiden tersebut membutuhkan upaya ekstra. Sebab dari catatan BI, per April 2018 baru sebesar 15% dari total valas hasil ekspor yang dikonversi ke rupiah. Selebihnya masih dalam denominasi dolar AS.

Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan, agar instruksi presiden tersebut dapat dijalankan, maka pemerintah perlu meniru Malaysia. Negara Jiran ini mewajibkan 75% DHE dikonversi ke ringgit, mata uang Malaysia.

“Kita bisa saja ikut Malaysia. Justru idealnya 100% konversi ke rupiah. Sebab, eksportir juga menggunakan sejumlah bahan baku dari pasar domestik. Dan itu bukan hot money,” menurut Lana.

Selain itu, pemerintah juga perlumembuat kebijakan yang bisa membuat membuat DHE masuk ke dalam negeri dengan cepat, tetapi keluarnya lambat. Ini memang domain BI selaku otoritas moneter dan Kementerian Perdagangan.

Hanya saja, upaya itu tidak mudah, karena saat ini tidak jarang eksportir pada saat yang sama juga merangkap berperan sebagai importir. Selain itu nilai tukar rupiah juga dinilai terlalu berfluktuasi, sehingga eksportir importir tersebut cenderung untuk memilih aset yang lebih stabil, khususnya untuk kegiatan usaha.

Karena itu, agar pengusaha mau, harus ada iming-imingnya dari BI. Misalnya, jika saat mereka perlu dolar pastikan dolarnya ada. Misalnya eksportir punya dolar masuk dikonversi ke rupiah, tujuh hari kemudian eksportir butuh dolar, semacam beli hedging. Biaya hedging bisa disepakati sekompetitif mungkin. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga perlu mencabut margin hedging yang 10% supaya cost-nya lebih murah.

Swap rate juga perlu dibuat lebih menarik. Untuk itu, diharapkan perbankan tidak mengambil untung dalam hal ini. Jangan dianggap ini fee based income dan kesempatan profit taking. Karena situasinya tidak normal, sehingga perbankan jangan mengambil kesempatan di tengah kesempitan.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara sebelumnya mengatakan bahwa BI akan memberikan pricing yang menarik dalam lelang valas dengan fasilitas swap guna menyerap dolar di pasar. Meskipun saat ini swap rate sudah kembali normal, yakni 4,5% per annum.

BI juga telah meningkatkan frekuensi lelang foreign exchange swap menjadi tiga kali dalam seminggu, setelah sebelumnya dua kali. Tujuannya agar kerapatan frekuensi lelang tersebut dapat memastikan likuiditas dolar AS di pasar cukup tersedia.

Sebenarnya jika Indonesia mau belajar ke beberapa negara tetangga dalam pengelolaan DHE, bisa saja menirunya dalam menghadapi situasi tidak normal ini. Seperti Malaysia, Thailand, Ukraina, Jamaika,  Belarusia dan Mongollia, yang mewajibkan eksportir menjual DHE ke bank sentral.

Thailand juga mewajibkan eksportir melakukan repatriasi dan menempatkan DHE-nya di bank dalam negeri. Sementara, Ukraina mewajibkan eksportirnya menjual 50% DHE, dan Jamaika mewajibkan exportir menjual 25% DHE.

Dengan pengendalian DHE yang memadai, sepertinya sedikit banyak dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah. Karena selama DHE itu tidak ditentukan yang harus ditahan di dalam negeri, maka saat itu pula rupiah akan terus melemah.

Saat ini rupiah terus merangkak naik, ketika bulan September 2018 The Fed mengeksekusi kenaikan suku bunga FFR, maka dikhawatirkan rupiah menyentuh level psikologi Rp15.000 per dolar. Kalau itu terjadi, maka rupiah akan mudah beranjak ke level di atasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here