Baja dan Alumunium China Kembali Jadi Sasaran Proteksi Trump

0
59
Presiden Donald Trump berbicara dalam sebuah pertemuan dengan anggota kongres di Ruang Kabinet Gedung Putih pada tanggal 13 Februari 2018 di Washington, DC

Nusantara.news, WashingtonSetelah sebelumnya produk panel surya dan mesin cuci made in China menjadi sasaran proteksi dengan pemberlakuan tarif impor yang tinggi, kini Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) kembali merekomendasikan kepada Presiden Donald Trump menerapkan tarif yang tinggi untuk impor baja dan alumunium dari China.

Tentu saja rekomendasi yang belum menjadi keputusan itu membuat pemerintah China uring-uringan. Kebijakan itu dinilai China tak sesuai dengan fakta. Sebagaimana dikutip dari Reuters, Sabtu Pon (17/2), pemerintah China sudah menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

Berdasarkan rekomendasi Departemen Perdagangan AS, semua produk baja dari seluruh dunia akandikenai tarif 24%. Begitu juga dengan produk alumunium dikenai tarif 7,7%. Kini rekomendasi itu sudah masuk ke ruang kerja Presiden. Trump memiliki waktu hingga 11 April 2018 untuk memutuskan impor baja, sedangkan alumunium tenggat waktunya 20 April 2018.

Rekomendasi itu, jelas Menteri Perdagangan Wilbur Ross, tidak bersifat final. Presiden Trump memiliki opsi mengubah besaran tarif – termasuk mengeluarkan sejumlah negara tertentu dari pengenaan tarif. Mitra-mitra dagang AS yang bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) diperkirakan akan dikecualikan dalam ketentuan.

“Semua keputusan ada di tangan Presiden, apakah mengubah sebagian atau seluruhnya,” beber Ross kepada Reuters.

Tapi yang jelas, imbuh Ross, tarif akan diberlakukan untuk semua produk baja dan alumunium asal China yang masuk ke pasar AS.

Selain itu, Departemen Perdagangan AS juga merekomendasikan tarif sebesar 53% atas semua impor baja dari 12 negara, termasuk di dalamnya adalah Brazil, China, Kosta Rika, Mesir, India, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, Afrika Selatan, Thailand, Turki, dan Vietnam.

Tarif impor sebesar 23,6% juga diberlakukan untuk semua produk alumunium dari China, Hong Kong, Rusia, Venezuela, dan Vietnam.

Toh demikian, Ross juga membuka kesempatan kepada sejumlah perusahaan AS mengajukan pengecualian untuk produk-produk spesifik yang diperlukan dalam usahanya. Terlebih jika AS kekurangan kapasitas domestik atau dalam hal pertimbangan keamanan nasional.

Kebijakan-kebijakan itu dirancang Departemen Perdagangan untuk meningkatkan kapasitas dan utilitas industri baja dan alumunium AS menjadi sekitar 80%. Sekarang ini, kapasitas dan utilitas industri baja baru 73% dan alumunium baru 43%.

Rugikan Semua Pihak

Selain China, Meksiko juga menjadi bulan-bulanan sasaran proteksi Trump. Awalnya Presiden Trump mendesak agar Meksiko ikut membiayai pembangunan tembok perbatasan dengan negaranya. Pemerintah Meksiko jelas menolak permintaan ini. Ujungnya, barang-barang Meksiko yang masuk keAS dikenai tarif impor 20%.

Nilai perdagangan dari impor Meksiko ke AS, berdasarkan liputan CNN Money pada Jumat (27/1) lalu, pada 2015 lalu mencapai 303 miliar dolar AS. Apabila dikenai pajak 20% berarti AS – dengan catatan volume dan nilai impor masih sama – akan meraih 60 miliar dolar AS.

Namun ada pandangan dari ekonom AS. Ketentuan pajak 20% itu akan merugikan perusahaan-perusahaan dan konsumen AS itu sendiri. Sejumlah pakar menjelaskan, pengenaan tarif itu akan meningkatkan kecemasan mengenai lapangan kerja di AS, harga-harga barang, dan siapa yang akan membayar pembangunan tembok batas.

Maksud Trump mengenakan tarif 20% mudah ditebak. Itulah cara Trump memaksa Meksiko ikut membiayai pembangunan tembok perbatasan. “Ini adalah kesalahan karena sama halnya menyuruh konsumen AS yang membeli produk Meksiko ikut membayar pembangunan great wall,” kecam Edward Alden, pakar perdagangan di Council on Foreign Relations.

Terlebih sekarang ini tercatat, setidaknya ada 6 juta pekerjaan di AS yang sangat bergantung dengan perdagangan Meksiko. Para pekerja yang hidup dari mata rantai perdagangan produk-produk Meksiko akan terpukul dengan kebijakan Trump.

Di sisi lain, warga AS pun kemungkinan harus membayar lebih mahal untuk banyak produk, mulai dari mobil, komputer, hingga buah alpukat dan bir yang diproduksi di Meksiko. Intinya, produk-produk yang diimpor dari Meksiko harganya akan lebih mahal. Perusahaan-perusahaan seperti Ford, General Motors, hingga peritel seperti Walmart dan Best Buy akan terpukul.

Begitu juga dengan perusahaan-perusahaan yang mengirim barang ke Meksiko untuk dirakit atau diproduksi juga akan terpukul. Sekarang ini tercatat, sekitar 40% komponen barang yang diimpor dari Meksiko sebenarnya berasal dari Meksiko. Misalnya, sebelum mobil tiba di dealer lokal, komponen-komponennya dipindahkan dari dan ke AS, Meksiko, dan Kanada.

Bukan hanya AS, Meksiko sendiri juga akan terpukul dengan kebijakan Trump. Selama ini Meksiko sangat menggantungkan produk-produknya dijual ke AS. Tercatat sekitar 80% produk impor Meksiko berlabuh ke AS. Dengan tingginya tarif impor, pedagang-pedagang di AS akan berpikir ulang mengambil pasokan dari negeri Sombrero itu.

Dengan kata lain, kebijakan Trump akan memukul China, Meksiko dan sejumlah negara lainnya yang akhirnya berujung ke perusahaan dan konsumen AS itu sendiri. Karena dari perdagangan internasional itu sendiri menghasilkan pekerjaan-pekerjaan yang tentu saja akan terusik oleh kebijakan proteksionis Trump yang sudah ditinggalkan oleh beberapa Presiden AS sebelumnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here