Bambu Indah Sukatno Antar Trenggalek ke Pasar Dunia

0
289
Sukatno, pengrajin bambu dari Trenggalek (Foto: Tudji Martudji)

Nusantara.news, Surabaya – Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terus berbenah. Di kepemimpinan Bupati Emil Elestianto Dardak dan Wakil Bupati Mohammad Nur Arifin, kabupaten yang luas wilayahnya 1.261,40 Km², terletak antara koordinat 111º 24’ hingga 112º 11’ bujur timur dan 7º 63’ hingga 8º 34’ lintang selatan itu, dengan semangat baru menanggalkan julukan daerah miskin dan terbelakang.

Berbagai program dilakukan, salah satunya adalah meyakinkan masyarakat bahwa kondisi geografis dan lahan kering tidak boleh menyurutkan semangat untuk bangkit memajukan wilayah, menggapai kemajuan, menuju kemakmuran dan bangkit dari ketertinggalan.

“Kabupaten Trenggalek 2/3 wilayahnya adalah pegunungan kars dan 1/3 lainnya dataran. Namun, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Trenggalek terus meningkat sebelumnya 5,0 saat ini menjadi 5,7 persen,” ujar Emil saat menyambut kunjungan wartawan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Pendopo Kabupaten Trenggalek, Sabtu (9/9/2017).

Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak (Foto: Tudji Martudji)

Emil menambahkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi itu tidak lepas dari semangat dan kerja keras masyarakatnya. Dia juga meminta masyarakat Kabupaten Trenggalek tidak boleh lagi berkecil hati atau minder karena wilayahnya dulu dikenal sebagai daerah tandus dan miskin. Dengan simbol makanannya yakni Gaplek atau parutan singkong yang dikeringkan untuk kebutuhan bahan pokok, yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai makanan murah dan tidak bergizi.

“Itu harus mulai ditinggalkan, dan ternyata benar masyarakat Trenggalek sekarang mulai bangkit, dan berani menunjukkan kalau daerahnya bisa maju bahkan dikenal hingga mancanegara,” tambahnya.

Kabupaten Trenggalek sebagian besar terdiri dari tanah pegunungan dengan luas meliputi 2/3 bagian luas wilayah, sisanya 1/3 bagian merupakan tanah dataran rendah. Berada di ketinggian antara 0 hingga 690 meter di atas permukaan laut (dpl). Wilayahnya terbagi menjadi 14 Kecamatan dan 157 desa. Hanya 4 kecamatan yang mayoritas wilayahnya dataran, yaitu Kecamatan Trenggalek, Kecamatan Pogalan, Kecamatan Tugu dan Kecamatan Durenan.

Sedangkan 10 kecamatan lainnya mayoritas desanya pegunungan. Ada 4 kecamatan yang luas wilayahnya kurang dari 50,00 Km², yakni Kecamatan Gandusari, Durenan, Suruh, dan Pogalan. Sedangkan 3 kecamatan yang luasnya antara 50,00 Km² hingga 100,00 Km² adalah Kecamatan Trenggalek, Tugu, dan Karangan. Untuk 7 kecamatan lainnya mempunyai luas di atas 100,00 Km².

Keranjang buah dari Trenggalek tembus Pasar Eropa (Foto: Tudji Martudji)

Inovasi dan Terobosan Baru Terus Dilakukan

Pihaknya menyadari, untuk menuju kemakmuran harus terus dilakukan inovasi dan terobosan baru. Salah satunya dengan membangkitkan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dilakukan masyarakat. Berbagai konsep kemudian dijalankan, salah satunya dengan menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk memberikan pendampingan dan membantu tumbuhnya usaha kecil yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

“Keberadaan BUMN harus mendukung tumbuhnya UMKM, termasuk juga pengembangan pemasaran dan penyertaan modal terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menegah,” ujarnya.

Selain sektor pariwisata yang juga dikembangkan di kabupaten di selatan Pulau Jawa itu. Kepala daerah dari PDI Perjuangan yang oleh masyarakatnya diakui sebagai kepala daerah yang cerdas tersebut, juga getol mengembangkan tumbuhnya berbagai jenis usaha kecil dan menengah.

Oleh pemerintahan setempat, denyut nafas usaha kecil rumahan yang dilakukan masyarakat terus digenjot untuk bangkit. Hasilnya, Kabupaten Trenggalek yang berada ditengah-tengah koridor Jogja-Malang itu usaha mikro yang dilakukan masyarakat terus tumbuh. Saat ini, berbagai jenis usaha kecil menengah menjadi tumpuan perbaikan ekonomi masyarakat. Terbukti, wisatawan dalam dan luar negeri banyak yang datang dan membelanjakan uangnya, salah satunya membeli kerajinan bambu buatan masyarakat.

Keranjang buah Trenggalek Tembus Pasar Eropa (Foto: Tudji Martudji)

Keranjang Bambu Tembus Pasar Eropa

Salah satu pemberdayaan UMKM yang kini mulai menampakkan hasil adalah kerajinan industri bambu buatan Sukatno (58). Pengrajin anyaman bambu yang dikenal dengan galeri pembuatan berbagai perabot rumah tangga bernama “Bambu Indah” di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari itu mengaku pesanan terus mengalir. Tak hanya dari daerah sekitar di Jawa Timur, tetapi pemesan juga mengalir dari luar Provinsi Jawa Timur dan juga manca negara.

Sukatno mengisahkan, untuk memajukan usaha yang telah ditekuni sejak tahun 1991, dan kini terus berkembang hingga merambah pasar Eropa tidak lepas dari peran pemerintah Kabupaten Trenggalek. Salah satunya berupa pembinaan ketrampilan untuk pegawainya dalam mengembangkan mutu dan variasi jenis kerajinan.

Pihaknya menyadari, selain kreativitas yang terus dikembangkan melalui berbagai pelatihan. Bantuan permodalan juga ikut berperan dalam memenangkan persaingan pasar bebas. Dia juga bersyukur sejumlah orang yang ikut dengannya kini memiliki keahlian lebih baik setelah kerap mengikuti pelatihan. Lelaki itu menyebut omset usahanya kini mencapai Rp50 juta tiap bulan, dengan mempekerjakan 50 orang sebagian besar tetangga sekitar rumahnya.

“Omset sekitar Rp50 juta setiap bulan, pasar yang sampai saat ini masih berjalan adalah ke Brunai dan Amerika,” kata Sukatno saat berbincang dengan Nusantara.news.

Kerajinan Bambu Trenggalek Tembus Pasar Eropa (Foto: Tudji Martudji)

Sukatno menuturkan, sukses yang diraih berawal dari keranjang buah, yakni anyaman tangan yang dibuatnya. Sebelumnya, lanjut Sukatno, datang ke galeri di rumahnya seorang turis asal Amerika. Setelah membeli sejumlah kerajinan anyaman, sebulan kemudian lelaki bule itu datang lagi dan mengorder berbagai jenis anyaman bambu dalam jumlah besar. Keranjang buah atau besek (Bahasa Jawa), diorder untuk dikirim ke alamat yang diberikan, yakni ke Amerika Serikat. Jumlahnya tidak sedikit, hingga nilainya mencapai Rp25 juta, atau sebanyak dua kontainer dikirim melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

“Saya sangat senang sekali mendapat order dari luar negeri. Sejak itu, permintaan kiriman ke negara lainnya terus datang, diantaranya juga ke Korea, Inggris dan Bunei. Omsetnya mencapai Rp50 juta, atau sebanyak dua kontainer,” ujarnya.

Seiring dengan terus ramainya pesanan, untuk menambah wawasan dan kreativitas pegawainya dia mengaku tak segan memberangkatkan anak buahnya mengikuti pembinaan yang dilakukan pemerintah setempat. Termasuk mengirim sejumlah orang untuk mengikuti pameran kerajinan anyaman di sejumlah daerah di Jawa Timur.

Kerajinan Bambu Trenggalek Tembus Pasar Eropa (Foto: Tudji Martudji)

Untuk pengembangan kemampuan individu, dirinya juga memberangkatkan pegawainya mengikuti seminar pengembangan pelaku usaha. Salah satunya, disebutkan yang pernah digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Trenggalek, beberapa waktu lalu.

Kegiatan tersebut diakui memberikan wawasan bagi dirinya sebagai pelaku usaha untuk menambah keahlian guna peningkatan kualitas, kuantitas serta untuk bersaing di pasar internasional.

Rumahnya yang juga dipakai mengerjakan berbagai kerajinan handycraft and furniture, Sukatno menceritakan untuk memenuhi banyaknya pesanan baik dari dalam dan luar negeri, dirinya tak lupa mengajak para tetangga. Itu karena pesanan yang datang semakin banyak dan dalam jumlah besar yang tak mungkin dikerjakan sendiri.

Dia juga mengakui pentingnya kerap mengikuti pengembangan diri dari berbagai pelatihan. Hasilnya, berbagai kerajinan dengan berbagai variasi bisa dihasilkan yang kini jumlahnya mencapai lebih dari 100 jenis. Dan itu semakin menambah jumlah pilihan yang bisa ditawarkan ke pengunjung atau pelancong yang datang untuk memesan kerajinan bambu buatannya.

Galeri Bambu Indah milik Sukatno di Trenggalek (Foto: Tudji Martudji)

Lelaki yang mengaku bakat menganyam bambu dirasakan sejak masih anak-anak itu, semakin bersemangat seiring pemerintah setempat aktif memberikan pendampingan termasuk bantuan permodalan dengan kredit lunak. Sejak itu, kerajinan yang dihasilkan terus meningkat baik mutu, jumlah juga berbagai jenis variasi yang dihasilkan.

Bambu Indah, galeri miliknya pun terus didatangi pengunjung baik wisatawan lokal juga mancanegara. Seiring dengan itu, Kepala Seksi Jasa Bisnis dan Profesi Direktorat Pengembangan Produk Ekspor Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Riana Setya Sari juga mengapresiasi kerajinan dan berbagai produk bambu buatannya.

Seiring dengan waktu, Galeri Bambu Indah miliknya dinobatkan sebagai pusat pembuatan kerajinan dan mebel dari bambu terbaik, dan kerap dikirim mengikuti pameran untuk mewakili Jawa Timur.

Untuk menjalankan aktivitas membuat kerajinan dan mebel dari bambu, dia mengaku tidak kehabisan bahan baku. Selain gampang dicari dia mengaku telah memiliki langganan yang secara terjadwal datang mengantar ke rumahnya pesanan bambu yang diinginkan. Dari sejumlah bahan baku yang telah menjadi rutinitas dipesan adalah jenis bambu apus, bambu ulung hitam, bambu pethung dan bambu ori. Dalam sehari, dia mengaku menerima kiriman sedikitnya satu truk atau berisi 80 lonjor batang bambu berbagai jenis.

Menyambut itu, Pemerintah Kabupaten Trenggalek terpanggil menjadi penopang ketersediaan bahan baku untuk memenuhi ketersediaan bahan baku. Pemerintah setempat menyebut, dengan melibatkan masyarakat khususnya yang memiliki lahan untuk ikut memberdayakan tanaman yang berpotensi mendatangkan penghasilan termasuk menanam bambu dan tidak menelantarkan lahan kosong.

“Keterlibatan masyarakat juga ikut meringankan untuk menyediakan bahan baku. Karena jenis usaha yang telah berjalan tidak boleh terhenti karena kesulitan bahan baku,” terang Emil.

Tak pelak, sejumlah areal yang dulu kering dan tandus, kini berubah salah satunya ditanaman bambu. Wujud kerjasama dan kebersamaan yang patut ditiru untuk menumbuhkan usaha kecil menengah serta mengejar ketertinggalan. Karena, tidak boleh dipungkiri Nusantara memang dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, seperti yang tertuang dalam bait lagu tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Berkaca dan meniru yang dilakukan oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Trenggalek, seharusnya tidak boleh ada lagi masyarakat di Jawa Timur khususnya atau di Indonesia umumnya yang mengeluh daerahnya tandus dan tidak menghasilkan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here