Jelang Pertemuan Donald Trump – Xi Jinping

Bandelnya Korut, Lepas Rudal Jelang Pertemuan AS-Cina

0
100
Seorang pria duduk diantara teropong yang ia tawarkan kepada wisatawan untuk melihat wilayah Korea Utara dari Broken Bridge bagian Sungai Yalu, yang pernah di bom pasukan Amerika Serikat (AS) pada Perang Korea dan saat ini menjadi lokasi wisata, di Dandong, provinsi Liaoning, China, Sabtu (1/4). (Foto: Antara/Reuters /Damir Sagolj)

Nusantara.news  – Entah rahasia apa yang disimpan Korea Utara. Di tengah kecaman keras negara sebesar Amerika Serikat, bukannya takut malah menantang. Korut kembali luncurkan rudal balistik jarak menengah pada Rabu (5/4) pagi, sehari menjelang pertemuan tingkat tinggi pemimpin AS-Cina di Florida yang salah satu pembahasannya penghentian rudal dan program pengembangan nuklir Korut. Jangan-jangan, rudal untuk menjangkau daratan Amerika itu sudah tersedia.

Rabu pagi, mungkin bukan saat yang menyenangkan bagi sejumlah pejabat AS maupun Cina. Di saat pertemuan penting kedua pemimpin negara besar itu semakin dekat, kabar tak mengenakkan datang lagi dari semenanjung Korea. Sebuah rudal diluncurkan untuk kesekian kalinya sejak ketegangan di kawasan itu memuncak. Rudal jatuh di Laut Jepang, membuat sekutu AS itu juga kembali meradang.

Korut memang menjengkelkan bagi AS dan para sekutunya, termasuk mungkin juga bagi Cina. Korut tampaknya ingin mengambil momentum dari pertemuan kedua kepala negara (AS-Cina) yang bakal menjadi sorotan dunia. Tujuannya, menghentikan kegaduhan yang diciptakan Amerika di Semenanjung Korea, dengan melakukan latihan militer besar-besaran dengan sekutunya, Korea Selatan.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson sudah habis akal melihat tingkah Korut yang terus membandel. Dalam twitnya, sebagaimana dilansir CNN, Kemenlu AS mengeluarkan penyataan yang tidak biasa dalam diplomasi sebelumnya.

“Korea Utara meluncurkan satu lagi rudal balistik. Amerika Serikat telah cukup berbicara tentang Korea Utara. Kami tidak punya komentar lebih lanjut,” kata Menlu Rex Tillerson dalam pernyataan itu.

Terhitung, Korut telah melakukan lima uji coba nuklir, termasuk dua tahun lalu, tapi para ahli mengatakan negara itu masih belum bisa mengembangkan hulu ledak nuklir yang dapat dipasang pada rudalnya.

“Sebelum akhir pemerintahan Presiden Trump, Korut mungkin bisa memproduksi rudal balistik antar-benua,” kata Michael Hayden yang menjabat direktur CIA antara tahun 2006 sampai 2009, ketika berbicara di Johns Hopkins University, Selasa (4/4).

Sehari sebelum Korut menembakkan rudal terbarunya, seorang pejabat senior Gedung Putih mengeluarkan peringatan “mengerikan” kepada sejumlah wartawan tentang program nuklir Korut.

“Sekarang waktu telah habis, dan semua opsi ada di atas meja,” kata pejabat itu, menunjukkan sinyal bahwa upaya negosiasi pemerintah AS yang berturut-turut untuk mengakhiri program nuklir Korut telah mengalami kegagalan. Berarti perang terbuka sudah di depan mata.

Sebelumnya, Trump telah berulang kali mengatakan akan mendesak Cina untuk menggunakan pengaruhnya atas Korut untuk membantu menghentikan program nuklirnya, tetapi akhir-akhir ini dalam sebuah wawancara Financial Times dia menyatakan akan bertindak sendiri untuk menghentikan Korut dengan atau tanpa kerja sama dengan Cina.

Namun, Jenderal John Hyten, komandan Komando Strategis yang mengawasi senjata nuklir AS dan pasukan pertahanan rudal, bertentangan pendapat dengan Trump. Menurut dia apapun Cina tetap penting untuk memecahkan masalah nuklir Korut.

“Setiap solusi untuk masalah Korut harus melibatkan Cina,” kata Hyten yang juga senator dari Komite Angkatan Bersenjata.

“Cina adalah definisi dari halaman belakang Korut,” kata Hyten dan mengatakan bahwa hubungan ekonomi yang erat antara Pyongyang dan Beijing membuat Cina merupakan pemain penting dalam mengendalikan ambisi nuklir Korut.

“Sulit bagi saya untuk melihat solusi (Korut) tanpa Cina,” tambahnya.

Jepang, sebagai sekutu utama AS di Asia memprotes keras tindakan Korut. Bulan Maret lalu Korut telah menembakkan 4 buah rudal, dan beberapa di antaranya jatuh di sekitar 300 km dari pantai Jepang.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan, pemerintahnya tidak bisa mentolerir tindakan provokatif yang terus diulang-ulang oleh Korut.

Galangan kapal Sinpo

Pejabat AS dan Korsel mengatakan rudal terbaru yang diluncurkan Korut adalah jenis KN-15, rudal balistik jarak menengah. Dilaporkan, rudal diluncurkan pada Rabu pukul 06:42 waktu Seoul dari sebuah tempat di sekitar Sinpo, Provinsi Hamgyong Selatan.

Rudal meluncur dengan jarak sekitar 60 kilometer dan terbang setinggi 189 kilometer, kata para pejabat Korsel.

Korut menggunakan galangan kapal Sinpo untuk kegiatan kapal selam mereka dan satelit AS telah mengamati peningkatan aktivitas di sana dalam beberapa hari terakhir.

KN-15, yang Korut sebut dengan Pukguksong-2 adalah rudal balistik jarak menengah dan merupakan varian dari KN-11, rudal balistik kapal selam. Para pejabat AS mengatakan peluncuran rudal terbaru tersebut menggunakan roket berbahan bakar padat dari sebuah peluncur bergerak. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here