Banding, SEMA 11 Tahun 1964 Berpotensi Perberat Hukuman Ahok

0
596
Banding, SEMA 11 Tahun 1964 Berpotensi Perberat Hukuman Ahok
Banding, SEMA 11 Tahun 1964 Berpotensi Perberat Hukuman Ahok

Nusantara.news, Jakarta –  Sejumlah pendukung menangis setelah mendengar dan mengetahui Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis 2 tahun penjara bagi terdakwa kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sebaliknya, penentang Ahok yang juga hadir dalam sidang yang digelar di Auditorium Kemeterian Pertanian Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017) sumringah.

Pendukung Ahok menangis, terutama karena vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap Ahok lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Pada sidang Kamis 20 April 2017, JPU meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana kepada Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.  Tuntutan 1 tahun penjara itu diyakini akan berakhir dengan vonis bebas.

Namun majelis hakim yang diketuai Hakim Dwiarso, pada sidang pembacaan vonis, Senin (9/5/2017) menjatuhkan hukuman sebaliknya, yakni lebih berat dari tuntutan jaksa. Majelis hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara bagi Ahok.

Dari awal JPU memang terkesan tidak tegas mendakwa Ahok. Dalam dakwaannya, JPU memang mendakwa Ahok dengan Pasal 156a KUHP tetapi juga dicantumkan dakwaan alternatif yakni pasal 156.

Pasal 156a, berbunyi, Dipidana dengan pidana penjara selama-lumanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sementara Pasal 156 berbunyi, Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Ketua JPU Ali Mukartono menghormati putusan majelis hakim. “Kami menghormati apa yang telah diputuskan majelis hakim. Kami akan menentukan sikap dengan waktu yang telah ditentukan oleh undang-undang,” ujar Ali.

Sementara Ahok langsung menyatakan banding. Salah seorang pengacara Ahok, Tommy Sihotang yang dicegat wartawan usai sidang, menyatakan kecewa dengan vonis majelis hakim, dan oleh sebab itu akan segera meminta tanda tangan Ahok untuk mempersiapkan memori banding.

Surat Edaran Mahkamah Agung

Seperti apa peluang Ahok bebas di tingkat banding?

Potensinya justru akan semakin berat. Pasalnya ada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) terkait penodaan agama. SEMA itu adalah SEMA  Nomor 11 Tahun 1964 Tentang Penghinaan Terhadap Agama.

SEMA yang ditandatangani Mr. Wirjono Prodjodikoro, SH dan ditujukan kepada semua Kepala Pengadilan Negeri di Seluruh Indonesia ini menyatakan, “Karena Agama merupakan unsur yang penting bagi pendidikan rokhaniah, maka Mahkamah Agung anggap perlu menginstruksikan, agar barang siapa melakukan tindak pidana yang bersifat penghinaan terhadap Agama diberi hukuman yang berat.”

Kedudukan SEMA itu sendiri cukup kuat. Menurut pasal 131 Undang-Undang No. 30 Tahun 1950 tentang Susunan, Kekuasaan Dan Jalan-Pengadilan Mahkamah Agung Indonesia, SEMA memiliki landasan legalitas secara konstitusional sehingga isi maupun petunjuk yang digariskan di dalamnya mengikat untuk ditaati dan diterapkan oleh Hakim dan Pengadilan.

Pada saat sekarang, landasan hukum kekuasaan dan kewenangan MA menerbitkan SEMA diatur pada Pasal 32 ayat (4) UU MA yang berbunyi:

“Mahkamah Agung berwenang memberi petunjuk, teguran, atau peringatan yang dipandang perlu kepada Pengadilan di semua Lingkungan Peradilan.”

SEMA Nomor 11 Tahun 1964 tentang Penghinaan Terhadap Agama itu pula yang tampaknya membuat hakim merasa lebih nyaman memilih menjatuhkan vonis lebih berat terhadap Ahok ketimbang tuntutan jaksa.

SEMA 11 Tahun 1964 tentang Penghinaan Terhadap Agama, memang sudah tidak relevan sekarang ini, karena substansinya diakomodir dalam pasal 156a, sesuai perintah PNPS 1/65 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Namun jiwa SEMA 11 Tahun 1964 tentang Penghinaan Terhadap Agama, diduga menjadi salah satu petunjuk Majelis Hakim Pengadilan Negeri Pengadilan Jakarta Utara menjatuhkan hukuman lebih berat kepada Ahok.

Jiwa SEMA Nomor 11 Tahun 1964 tentang Penghinaan Terhadap Agama, tentunya juga akan menjadi petunjuk bagi pengadilan banding dalam mengambil keputusan. Sehingga vonis 2 tahun yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Utara terhadap Ahok, berpotensi bertambang menjadi vonis 5 tahun atau di atas 2 tahun. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here