Bangsa Salah Identitas

0
172

SEBUAH pernyataan menarik disampaikan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan pekan lalu. Berpidato di acara ulang tahun  ke-54 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (14/3/2018), Zulkifli Hasan menegaskan pentingnya generasi zaman now untuk menjaga identitas agar melahirkan rasa empati terhadap bangsanya. Dia mengatakan, jangan sampai budaya Indonesia tergerus budaya asing karena minimnya kesadaran generasi sekarang akan identitasnya. Menurutnya, harus ada kesadaran untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri.

Ditambahkannya, generasi zaman now kalau ingin menjadi orang hebat, harus mengerti betul siapa diri mereka, dari mana entitas kita, memiliki kepribadian dan rasa kedaerahan yang kokoh serta mengerti sejarah bangsa. Bangsa ini mesti mengerti betul siapanya sehingga mengerti juga kekurangan yang dimiliki dan memperbaikinya.

Kita sepakat dengan pernyataan itu. Memang, salah satu hal yang sangat mendasar dalam sebuah bangsa adalah kesadaran tentang identitas, baik identitas diri atau bangsa. Kekukuhan identitas budaya nasional itu berpengaruh saat berinteraksi dengan bangsa lain. Bangsa yang identitas budaya nasionalnya kuat akan menyerap budaya asing ke dalam budaya setempat. Sebaliknya, bangsa yang identitas budaya nasionalnya tidak kuat, akan larut dalam budaya asing.

Sekarang, coba kita perhatikan reaksi yang timbul dalam budaya Indonesia ketika berinteraksi dengan bangsa dan budaya asing.  Indonesia sebenarnya memiliki banyak cerlang budaya (local genius) atau gagasan-gagasan luhur (local wisdom).  Untuk tata pemerintahan, di budaya Melayu ada filosofi “raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah”. Ini mengandung makna check and balances. Tetapi, dalam diskursus politik dan penyelenggaraan negara, kita justru mengintrodusir pemikiran Barat, misalnya konsep good governance, demokrasi partisipatif, dan sebagainya, yang notabene sudah ada dalam khazanah budaya lokal.

Dalam budaya Jawa adalah istilah “menang tanpa ngasorake”, tapi kita lebih bangga memakai “win-win solution”.  Kita merasa tak moderen dengan istilah “ngeluruk tanpa bala”, padahal, di Barat sejak lama justru berkembang gagasan Occupation Without Troops yang terinspirasi judul buku yang ditulis Glenn Davis dan John Roberts, 1996.

Nilai-nilai budaya Indonesia dipinggirkan dan lebih mengadopsi budaya asing. Sikap yang menganggap nilai asing lebih hebat dari nilai lokal ini adalah cerminan rasa rendah diri, yang disebabkan kita belum mempunyai identitas budaya nasional yang kuat sehingga belum bangga dengan budaya kita. Akibatnya bangsa ini tidak akan bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain.

Cara pandang seperti inilah yang harus diubah secara mendasar. Identitas suatu bangsa ditentukan banyak hal yang bersumber dari interaksinya dengan kondisi alam dan lingkungan. Salah satu faktor terpenting adalah kondisi geografis. Karena dari situlah warga bangsa itu menentukan strategi mereka menghadapi hidup. Ada kalimat menarik dari Colin S. Gray dan Geoffrey Sloan, penulis buku Geopolitics, Geography and Strategy, bahwa geografi adalah ibu dari strategi. Strategi bangsa untuk hidup, baik strategi politik, ekonomi, kebudayaan, ditentukan oleh fakta-fakta geografisnya.

Coba lihat fakta geografis negara kita. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari taburan pulau-pulau besar dan kecil. Hamparan pulau-pulau yang bak untaian ratna mutu manikam itu sering disebut dengan istilah Zamrud Khatulistiwa.

Ketua MPR mengatakan, agar generasi muda mengetahui sejarah bangsanya. Itu benar. Nah, coba lihat fakta historis bangsa ini: Kerajaan-kerajaan besar Nusantara di masa silam adalah emporium bahari yang perkasa, seperti Sriwijaya dan Majapahit, atau kerajaan kecil lain seperti Makassar, Ternate, Aceh dan sebagainya yang juga dicatat sejarah sebagai negara maritim yang hebat. Seluruh orang Indonesia pasti tahu atau bahkan hafal lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut. Lagu yang menggambarkan keperkasaan pelaut-pelaut Nusantara di masa silam mengarungi samudera, “menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa”.

Itu fakta geografis dan fakta historis bangsa ini.

Tetapi, faktanya, sejak dulu kita justru mensosialisasikan fakta yang berrtolak belakang. Dalam buku-buku pelajaran sekolah justru sering ditemukan kalimat yang menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara agraris. Maritim dan agraris jelas merupakan dua budaya yang sungguh berbeda, sehingga cara pandang dan permasalahannya juga berbeda.

Jadi ada kekeliruan yang sangat fatal yang telah kita lakukan dalam merumuskan jatidiri bangsa ini. Kita mengidentifikasi diri kita sebagai bangsa yang identitasnya tidak sesuai dengan fakta geografis dan kultur turun-temurun.

Disebut kekeliruan yang fatal karena salah satu hal yang sangat mendasar dalam aspek kebudayaan  adalah kesadaran tentang identitas, baik kesadaran tentang identitas diri sebagai manusia, identitas sebagai suku bangsa atau identitas sebagai suatu bangsa. Kesadaran tentang identitas itu akan menjadi landasan bagi seseorang atau suatu bangsa untuk berinteraksi dengan apa pun.

Cendekiawan Dr. Soedjatmoko pernah menulis bahwa ada atau tidaknya keberanian hidup, ketabahan dalam menghadapi  rintangan, inisiatif dan kreativitas seseorang, dan ada atau tidaknya tekad pada suatu bangsa untuk maju sekaligus menangani masalah kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakatnya, sangat ditentukan oleh konsepsi tentang identitas keakuannya.

Kesalahan merumuskan identitas bangsa itu tentu saja berdampak fatal terhadap bangsa dan negara ini. Sebab, bangsa kita menetapkan cara pandangnya yang berbeda dengan realitas dan fakta-fakta alamiah yang ada.

Itu sebabnya bangsa susah bergerak maju. Sebab negara ini dikelola dengan cara pandang masyarakat agraris yang melahirkan konsep land-based development.

Kalau demikian, ini bukan lagi ranah generasi muda. Ini adalah wilayah pemerintah dan semua lembaga negara lain. Sebab, perkara ini menyangkut orientasi kebijakan pembangunan secara menyeluruh, baik orientasi pembangunan fisik maupun manusianya. Program Presiden Joko Widodo tentang pembangunan tol laut, baru sebagian kecil dari orientasi itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here