Bangun Kampung Majapahit, Soekarwo Dongkrak Wisata Mojokerto

0
480
Kampung Majapahit di Trowulan, Mojokerto

Nusantara.news, Surabaya – Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia. Dalam perjalanannya, kejayaan kerajaan yang berlokasi di wilayah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur itu terukir di kurun waktu tahun 1350-1389 Masehi. Sejumlah peninggalan bukti kebesarannya bisa dilihat antaranya berupa candi, kolam Segaran, Makam Troloyo dan berbagai situs-situs lainnya.

Sebagai warisan budaya, upaya untuk melestarikan kebesaran kerajaan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Mojokerto. Di antaranya pemugaran di sana-sini, selain agar peninggalan tersebut terjaga juga untuk melengkapi obyek wisata yang terus dikembangkan.

Hal menarik dilakukannya pembenahan dan penataan Desa Wisata dan Kampung Khas Majapahit di Desa Bejijong, Desa Sentonorejo dan Desa Jatipasar. Total ada 296 rumah yang dibangun. Sebanyak 200 unit rumah ada di Desa Bejijong, 46 di Desa Sentonorejo, 50 rumah lainnya di Desa Jatipasar. Dengan arsitektur khas Majapahit wilayah pemukiman dan rumah-rumah warga dipugar yang mengesankan sebuah desa di masa keemasan Kerajaan Majapahit.

Kampung Khas Majapahit (Mojokertoblogspot)

Kampung Majapahit Daya Pikat Wisatawan

Di dua desa tersebut ada 296 rumah yang disulap, dilakukan secara bertahap. Tahap pertama anggaran dari APBD Provinsi Jawa Timur tahun 2014 sebesar Rp5,92 miliar ditambah Rp1,48 miliar dari APBD Kabupaten Mojokerto. Tahap kedua, dengan dana Rp7,4 miliar dari APBD Provinsi Jawa Timur dan APBD Kabupaten Mojokerto. Keseluruhan, dana renovasi di ketiga desa menghabiskan sebesar Rp16,3 miliar.

“Pembangunan tahap pertama tahun 2014 sebanyak 94 unit rumah. Dan tahap kedua tahun 2015 sebanyak 100 unit rumah dengan dana sharing dari Pemprov Jatim dan Kabupaten Mojokerto,” kata Soekarwo.

Tahap ketiga akan dibangun 300 unit rumah lagi di Segaran, Candi Tikus dan Candi Bajang Ratu.

“Pengembangan wisata Destinasi Kampung Majapahit sangat baik. Karena Mojokerto sebagai lokasi Kerajaan Majapahit, wisata alamnya juga sangat bagus untuk dinikmati, ini akan meningkatkan kunjungan wisata,” harapnya.

Seni Majapahit Daya Pikat Wisatawan

Renovasi rumah dibuat menyerupai keadaan seperti di zaman Kerajaan Majapahit, dengan berbagai ciri khasnya. Teori yang digunakan pembangunan dan penggunaan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, itu diawali dengan survei dan penelitian.

“Pembangunan tersebut merupakan salah satu ide pemerintah yang bertujuan untuk melestarikan peninggalan Kerajaan Majapahit, di samping akan bermanfaat meningkatkan kunjungan wisata,” jelas Pakde Karwo.

Rumah Majapahit dibangun dengan menggantikan teras rumah warga agar terlihat seragam, menyerupai perkampungan di zaman Majapahit. Desain rumah tergolong unik, tembok dari bata merah yang tersusun rapi dan natural. Pondasi rumah memakai batu setinggi hampir 1 meter. Desain bangunan melebar dengan dua daun pintu kembar, dilengkapi dua buah jendela pada sisi kiri dan kanan.

Kesenian Khas Majapahit

Inovasi dan kreatifitas yang bagus, Kampung Majapahit berdampak positif bagi masyarakat setempat. Selain meningkatkan sosial, budaya, yang pasti juga meningkatkan ekonomi warga setempat. Semua itu diharapkan akan terus berkembang dengan dukungan serta partisipasi masyarakat.

Di Desa Bejijong, pengunjung tak hanya sekadar menikmati indahnya bangunan kuno dan rumah ala Majapahit. Suguhan nuansa Kampung Majapahit akan menghadirkan imajinasi pengunjung yang seakan berada di suasana zaman Kerajaan Majapahit dengan berbagai aktifitas yang ada.

Menuju lokasi tersebut tidak sulit. Obyek wisata Rumah Majapahit itu terletak di sepanjang jalan utama, yang menghubungkan By Pass Mojokerto dengan Candi Brahu. Jalan itu menjadi akses ke sejumlah ojek wisata lainnya, di antaranya ke Makam Siti Inggil, Maha Vihara Majapahit dan Candi Gentong.

Kerajaan Majapahit di masa keemasan saat tampuk pimpinan di tangan Hayam Wuruk dengan Mahapatih yang namanya tersohor yakni Gajah Mada. Petilasan dan juga makam Raja Majapahit, Raden Wijaya yakni dikenal bernama “Siti Inggil”. Kampung Majapahit dan situs lainnya dengan berbagai fasilitas penunjang kini menjadi destinasi wisata yang banyak diminati.

Tempat bersejarah lainnya ada makam Raden Wijaya, yang juga tempat bersemayam Kyai Sapu Jagat dan Kyai Sapu Angin. Di hari-hari tertentu, lokasi ini banyak diziarahi pengunjung yang diakui sebagai salah satu tempat keramat. Makam ini sangat khas dengan nuansa Islam padahal Raden Wijaya dikenal sebagai seorang Raja Hindu. Sejumlah sumber menyebut makam tersebut hanya berupa simbol atau pertanda pernah disinggahi. Siti Inggil hanya tempat petilasan dan areal yang pernah dipakai pertapaan oleh Raden Wijaya, di zamannya. Di kisah lainnya, Raden Wijaya tidak meninggalkan jenazah alias muksa.

Batik Khas Majapahit, beritabatik.web.id

Batik Majapahit Mendunia Sejak 1293 Masehi

Selain bangunan situs bersejarah, nuansa lainnya yang bisa dinikmati adalah aktifitas masyarakatnya, kesibukan pengrajin batik tulis khas Majapahit serta pengrajin patung dari tanah liat.

Salah seorang pengrajin batik di desa tersebut, Sri Mujiatim mengaku banyak menerima pesanan pembuatan batik dari sebagian pengunjung. Batik khas Majapahit dengan batik daerah lain yang membedakan adalah corak dan warnanya. Salah satunya adalah motif Surya Majapahit, dan lainnya motif alam seperti Sisik Grinsing, Mrico Bolong, Pring Sedapur, Burung Bertengger dan nuansa alam lainnya. Lainnya, ada ukiran candi, tanaman, atau bunga khas Kejayaan Majapahit.

Sementara untuk melengkapi dan sebagai pendukung keberadaan Kampung Majapahit, terus dikembangkan homestay, toko suvernir barang-barang kerajinan, tempat kesenian lengkap dengan panggung. Dengan suguhan itu, pengunjung merasakan seperti berada di era Majapahit di zamannya. Dilengkapi ada sekitar 30 bangunan dijadikan homestay untuk wisatawan, di Desa Bejijong.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta, obyek wisata rumah-rumah nuansa Majapahit tersebut juga dilengkapi dengan homestay untuk wisatawan, sentra kuliner dan cindera mata khas Majapahit. Agar selain menikmati suasana juga didapat cindera mata yang bisa di bawa pulang sebagai buah tangan.

Sementara, untuk menuju Desa Bejijong tidaklah sulit, karena persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan Jombang-Mojokerto. Masuk ke lokasi itu pandangan pertama disuguhi dengan bangunan rumah bergaya kuno khas Majapahit.

Bangunannya menyerupai pendopo, dengan empat tiang kayu penyangga. Lantai terbuat dari batu sungai ditutup batu warna merah marun. Atapnya berbentuk limas segitiga. Pintu masuk, ada dua daun pintu kembar dari kayu ukuran lumayan besar. Di kiri dan kanan pintu terdapat dua buah jendela yang juga terbuat dari kayu.

Balai Pelestarian Cagar Budaya menyebut desain rumah Kampung Majapahit merupakan hasil modifikasi rumah kawula atau rakyat biasa di zaman Majapahit. Ruangan rumah berfungsi sebagai tempat tidur, dan aktivitas kehidupan dilakukan di luar rumah.

“Kabupaten Mojokerto masuk 10 besar destinasi andalan Jawa Timur, termasuk itu ditunjang dengan keberadaan Kampung Majapahit,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Propinsi Jawa Timur, Djarianto.

Makam Raden Wijaya, Brawijaya

Tahun 2015, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jawa Timur termasuk Kabupaten Mojokerto meningkat dibanding tahun 2014. Pada tahun 2014 tercatat sebanyak 45 juta, kemudian di tahun 2015 meningkat menjadi 48,5 juta wisatawan. Djarianto mengakui obyek wisata di Kabupaten Mojokerto memberi kontribusi yang tinggi untuk pariwisata di Jawa Timur, selain lokasi wisata lainnya.

Agar terus menambah semarak, di lokasi wisata tersebut juga rutin digelar ajang berkegiatan seni. Diantaranya menampilkan kesenian budaya lokal dengan kultur Majapahit, yakni Seni Bantengan dan kegiatan religius lainnya.

Dengan modal memiliki wilayah yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit, tidak sulit bagi Kabupaten Mojokerto meningkatkan pandapatan, khususnya dari sektor pariwisata. Tentu saja berbagai pembenahan harus terus dilakukan oleh pemangku kebijakan di wilayah setempat. Serta terus menggali potensi wisata yang telah ada, melengkapi sarana dan prasarana juga ikut menunjang obyek wisata yang sudah ada untuk menyedot kunjungan wisata.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here