Bangunan Tepi Sungai, Potret Permukiman Kota Malang

0
284
Rumah liar di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas, Kota Malang. (Foto: Erik Purnama Putra-Republika)

Nusantara.news, Kota Malang – Fenomena bangunan yang berdiri di tepi atau bahkan di atas sungai atau saluran irigasi masih kita jumpai di Kota Malang. Bangunan yang berdiri di tepian sungai yang hanya memiliki jarak 1 hingga 3 meter pun dapat ditemukan dibeberapa kampung yang ada di Kota Malang.

Selain itu, fenomena berdirinya bangunan diatas sungai atau saluran irigasipun juga di dapat ditemukan dibeberapa titik Kota Malang. Biasanya yang beridiri diatas sungai adalah warung atau toko-toko kecil. Bangunan-bangunan tersebut menjadi potret permukiman Kota Malang.

Fenomena tersebut yang kemudian menjadi suatu ancaman tersendiri atas bangunan-bangunan yang didirikan tidak sesuai pada tempatnya tersebut. Ancamanannya yakni, akan terjadi longsor, banjir, hanyut, roboh, rawan ambruk dan lain sebagainya.

Salah satu contohnya adalah lokasi ruko yang ambruk di Jl Soekarno Hatta akhir Februari lalu. Dikarenakan salah satu dinding bangunan yang ambruk berdiri di atas sempadan saluran irigasi. Ruko itu ambruk pada, Rabu (28/2/2018) lalu. Ruko yang ambruk adalah tempat usaha game online.

Tak ada korban jiwa dalam tragedi ambruknya bangunan tersebut. Namun, kerugian material mencapai sekisar ratusan juta hingga Rp 1 miliar. Sebelum roboh, beberapa bagian tembok sudah terlihat keropos dan hancur bagian tembok samping.

Melihat tanda itu, pemilik game online mengajak pelanggannya keluar sore itu, dan toko pun ditutup. Tak berselang lama, ruko paling ujung utara di deretan barat kompleks itu ambruk. Ketika itu aliran air di saluran air itu deras, karena kawasan hulu sedang hujan. Ambruknya ruko itu direkam warga dan diunggahdan viral di media sosial.

Pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) pun dengan sigap meninjau lokasi. Kepala DPUPR Hadi Santoso menjelaskan secara sekilas terkait konstruksi bangunan salah satu dinding ruko berdiri di atas saluran air.

“Bangunan itu harusnya memiliki sempadan bangunan. Ini kelihatannya, tidak ada. karena salah satu sisi tembok sangat mepet langsung ke bibir sungai atau saluran irigasi, atau bahkan terkesan berdiri si atas saluran air,” ujarnya beberapa waktu lalu.

DPUPR akan Lebih Jeli dan Tegas terhadap Izin Bangunan

Melihat fenomena ambruknya bangunan yang kesekian kalinya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang, Hadi Santoso akan lebih jeli dan tegas dalam memberikan izin bangunan dan ia memastikan lokasi bangunan ambruk di sempadan saluran irigasi tidak bisa dibangun kembali.

“Kami tidak akan memberikan izin membangun di lokasi yang bangunannya ambruk yang berada di sempadan saluran irigasi,” ujarnya.

Ia pun juga akan mendata beberapa bangunan yang melanggar izin bangunan, seperti garis sempadan dan tepian ruas jalan. “Berdasarkan aturan harusnya jarak 2 – 3 meter dari bibir saluran irigasi itu sempadan saluran, dan tidak boleh didirikan bangunan,” tegas Sony, panggilan akrabnya.

Dalam pendataan beberapa bangunan yang melanggar, pihaknya akan berkoordinasi dengan perangkat RT/RW dan kelurahan.

“Iya karena banyak bangunan yang tak sesuai izin, dalam izin bangunan kontruksinya normal layak dan tidak melangga, tapi ada beberapa dalam implementasi pembangunannya melanggar. Ini yang akan kita tindak dan tertibkan,” imbuhnya.

Ia mencontohkan beberapa titi wilayah bangunan yang rentan jatuh tergerus longsoran dan air sungai di beberapa tempat di Kota Malang, seperti di Jl Musi, juga Jl Jaksa Agung Suprapto dan kawasan Oro-Oro Dowo. Sony menjelaskan bahwa pihaknya tentunya tidak bisa serta merta menggusur bangunan di sekitarnya.

Bangunan dekat Sungai, Kawasan Jodipan (Foto Muhammad Aminudin-Detik.com)

Pihaknya mengakui ada sejumlah bangunan di Kota Malang berdiri di sempadan saluran air. Sayangnya bangunan itu berdiri lebih dulu daripada aturan dibuat oleh pemerintah. Oleh karenanya, ia tidak bisa serta merta menegakkan aturan seperti memberi sanksi tegas kepada pemilik bangunan.

“Kalau bangunan baru di sempadan saluran, setidaknya bisa ditekan ketika dari proses perizinannya. Dan ini bukan hanya melulu tugas PU sebenarnya, ada beberapa dinas juga yang keterkaitan dalam hal perizinan ini,”.

Sony berharap kesadaran dari masyarakat ketika hendak mendirikan bangunan. Dia menyarankan tidak mendirikan bangunan di sempadan saluran, bahkan di atas saluran air itu sendiri.

Potret Bangunan Roboh Kota Malang

Ambruknya ruko di tepian saluran air (sungai, anak sungai, drainase), akhir februari lalu itu menambah daftar panjang kasus serupa di Kota Malang. Berikut beberapa catatan bangunan roboh di Kota Malang, dikutip dari Surya Malang sejak Oktober 2016.

Sejak Tahun 2016 terjadi beberapa kali kejadian bangunan di pinggir sungai atau saluran air yang roboh, akibat tergerus air atau longsor. Ada juga longsornya tepi sungai mengancam atau mengikutsertakan bagian rumah. Bangunan yang roboh atau rusak itu terdiri atas rumah warga di perkampungan, rumah warga di kawasan perumahan baru, ataupun ruko.

Ada dua ruko yang roboh karena tergerus air. Keduanya berdiri di bibir saluran air. Pada bulan Maret 2017, sebuah ruko di Jl Sigura-gura ambrol. Ruko itu berada di bibir aliran anak Sungai Metro.

Bangunan tepi Sungai (Foto: Sjahrian Nur Nanang)

Beberapa rumah di bantaran sungai yang ambruk bisa ditemukan di cluster Perumahan Golden House Jl Sigura-Gura VI. Salah satu sisi bangunan rumah itu ambruk pada bulan November 2016. Garasi dan dapur yang ambruk. Letaknya persis di tepi anak Sungai Metro.

Sedangkan rumah warga di perkampungan tepi sungai yang rusak akibat plengsengan sungai ambrol terjadi di Jl Musi, Jl BS Riadi, juga Jaksa Agung Suprapto Kota Malang.

Berikut detail bangunan ambruk di Kota Malang, dari catatan Surya:

  1. 30 Oktober 2016: Saluran air longsor di Jl Juanda merusakkan dua rumah. Satu rumah berada di Jl Juanda, dan satu rumah berada di belakangnya yakni di kawasan Kampung Warna-Warni Tridi, Jodipan
  2. 27 November 2016 : Garasi dan dapur sebuah rumah di Cluster Golden Housen Jl Sigura-Gura VI ambruk karena tergerus air anak sungai Metro yang mengalir persis di sampingnya. Jarak antar bangunan dan sungai sangat tipis tidak ada hitungan meter.
  3. 3 Mei 2017 : Diikuti sebuah ruko di Jl Sigura-Gura, mepet dengan anak sungai Metro ambruk. Bangunan kurang memperhatikan garis sempadan.
  4. 14 Desember 2017 : Rumah di tepi Sungai Brantas di Kelurahan Oro-Oro Dowo terancam akibat longsornya tepi sungai. Tanah tepian sungai longsor, yang kemudian membuat jarang rumah dan sungai semakin tipis dan mepet dengan sungai dari sebelumnya.
  5. 18 Februari 2018 : Plengsengan Jl Musi ambrol membuat salah satu sisi rumah warga menggantung, terancam amruk dan hanyut ke sungai.
  6. 25 Februari 2018 : Plengsengan Sungai Brantas di Jl Jaksa Agung Suprapto ambrol merusakkan sebuah rumah warga setempat dan memutus jalan kampung.
  7. 28 Februari 2018 : sebuah ruko Gam Online ambruk yang, dimana bangunan ruko tersebut salah satu sisinya berdiri di atas bantaran sungai di Jl Soekarno Hatta.

Serangkaian potret longsor,dan ambruknya beberapa bangunan yang berdiri di dekat sungai di Kota Malang menjadi fenomena permukiman dan wajah kota. Tidak sedikit dari bangunana yang ada di Kota Malang tidak mengindahkan aturan yang ada, seperti ketentuan atas izin bangunan yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang Nomor 1 Tahun 2012 tentag Bangunan Gedung.

Dalam aturan tersebut, menjelaskan bangunan dan garis sempadan untu keamanan, keindahan dan penataan kota.  Garis Sempadan adalah garis batas luar pengaman yang ditetapkan dalam mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan, tepi luar kepala jembatan, tepi sungai, tepi saluran, kaki tanggul, tepi situ/rawa, tepi waduk, tepi mata air, as rel kereta api, jaringan tenaga listrik dan pipa gas, tergantung jenis garis sempadan yang dicantumkan. Di bagian luar dari garis ini, pemilik tanah tidak diperkenankan untuk mendirikan bangunan.

Adapun berbagai macam jenis Garis Sempadan, yakni Garis Sempadan Jalan GSJ, Garis Sempadan Sungai (GSS), Garis Sempadan Bangunan (GSB), Garis Sempadan Pantai (GSP) dlsb. Umumnya garis sempadan ini memiliki jarak 10 – 20 meter dari lokasi kawan terjaga dan yang akan dibangun.

Namun, kenytaaanya masih belum keselruhan bangunan yang ada di Kota Malang sesuai dengan aturan Garis Sempadan yang ada pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang Nomor 1 Tahun 2012 tentag Bangunan Gedung. Perlunya pengakkan dan penataan kembali sesuai dengan peraturan yang ada agar bangunan di Kota Malang tertata dengan rapi dan terhindar dari ancaman atau bahkan bencana baik itu longsor, ambler, roboh dan lainnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here