Banjir Jakarta dan Ahok yang Jumawa

0
240

Nusantara.news, Jakarta – Selain terkenal ceplas-ceplos, ternyata Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama mempunyai sifat jumawa. Hal ini terkait dengan penanganan banjir yang diprediksi akan terjadi pada awal tahun 2016 hingga 2017.

Ahok panggilan akrab gubernur mengatakan banjir adalah persoalan yang simple. Menurutnya, tidak sulit mengatasi banjir. Ini harus menjadi catatan warga Jakarta, jika sampai banjir tak kunjung surut maka rakyat bisa menagihnya ke Ahok.

Keangkuhan Ahok berulang saat mengomentari penanganan langganan banjir yang merendam SMA 8 di kawasan Bukit Duri. Ahok yakin proyek penanganan banjir yang sedang dia garap dapat mengatasi masalah itu. Bahkan Ahok menjamin sekolah itu bakal terbebas dari banjir.

“Coba ke sana, lihat. Mau kiriman banjir seberapa pun dari Bogor, saya jamin kering SMA 8,” kata Ahok ketika bertemu dengan wartawan di Balai Kota pada 22 April 2016.

Sebelumnya, pada 20 Desember 2016, Ahok juga berani sesumbar wilayahnya kini tahan terhadap banjir setelah beberapa kali Jakarta diguyur hujan deras. Dia bahkan ‘menantang’ agar Jakarta diguyur hujan lebat selama dua jam penuh guna memastikan program penanggulangan banjir miliknya.

“Nah semalam dites ok. Makanya, saya enggak tahu, saya harap beberapa hari ini hujan lebat lagi nih, kalau perlu hujan lebat lah satu jam, dua jam, kita tes lagi,” kata Ahok di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, ketika itu.

Pernyataan Ahok seolah diamini Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan, “Sekarang sudah bagus, kita lihat paling tidak enggak ada banjir lagi. Kita lihat kemarin itu hujan deras sekali, enggak banjir. Kita harus akui juga,” ujarnya saat ditemui di TPS 03 Denpasar, Jakarta, Rabu (15/2/2017), seperti diberitakan detik.com.

Keangkuhan Ahok dan keyakinan Luhut pun dijawab dengan intensitas hujan yang tinggi hampir setiap hari di Jakarta, utamanya beberapa minggu terakhir. Bahkan sehari setelah Pilkada DKI, Kamis, 16 Februari 2017, banjir pun masih memasuki rumah warga yang berada di bantaran Sungai Ciliwung, termasuk merendam SMAN 8.

Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Teguh Hendrawan menuturkan debet air Sungai Ciliwung naik secara drastis pada 16 Februari 2017 dinihari. “Untuk banjir SMAN 8 Jakarta, kami akui saja. Saya sampaikan tadi, program pengerjaan Kali Ciliwung pada tahun keempat ini baru 40 persen,” ucap Teguh di Balai Kota, seperti dilansir di laman Tempo (16/.2/2017).

Berdasarkan laporan dari Pusdalops BPBD DKI, banjir terjadi di Cilandak Timur, Petogogan, Rawajati, Kampung Melayu, Cawang, dan Bidara Cina. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan.

Sementara sebaran banjir hingga Minggu sore adalah sebagai berikut:

Jakarta Selatan:

Kecamatan Pasar Minggu Kelurahan Cilandak Timur RW 03 RT 03, 09 ketinggian air 10 hingga 50 cm. Penanganan maupun jumlah pengungsi dalam konfirmasi.

Kecamatan Kebayoran Baru, Kelurahan Petogogan RW 02 RT 05, 06, 07 diterjang banjir dengan ketinggian 20 hingga 50 cm. Penyebabnya kenaikan muka Kali Krukut dan saat ini sudah surut.

Kecamatan Pancoran, Kelurahan Rawa Jati RW 07 RT 02. Informasi yang diterima pukul 11.00 WIB ketinggian air 20 cm. Situasi saat ini masih menunggu konfirmasi dari lurah setempat, begitu pula terkait penanganan dan jumlah pengungsi.

Jakarta Timur:

Kecamatan Jatinegara, Kelurahan Kampung Melayu RW 04 RT 012 ketinggian air 30 hingga 50 cm, terdampak 13 KK atau 39 jiwa. RW 04 RT 013 ketinggian air 30 hingga 50 cm, terdampak 15 KK atau 53 jiwa, RW 05 RT 010 ketinggian air 30 hingga 50 cm, terdampak 35 KK atau 105 jiwa, RW 05 RT 011 ketinggian air 30 hingga 50 cm, terdampak 21 KK atau 69 jiwa.

Jumlah total terdampak di Kelurahan Kampung Melayu 84 KK atau 266 jiwa. Penyebabnya kenaikan Pintu Air Katulampa dan Pintu Air Depok. Penanganan yang dilakukan dengan menyediakan pompa air di Jalan Inspeksi Ciliwung. Tidak ada warga mengungsi.

Kecamatan Kramat Jati, Kelurahan Cawang RW 02 RT 010, 011, 012. Informasi yang diterima pada pukul 14.00 WIB, ketinggian air 20 hingga 40 cm. Penyebabnya, kenaikan Pintu Air Katulampa dan Pintu Air Depok. Penanganan yang dilakukan masih dalam konfirmasi. Begitu pula dengan jumlah pengungsi.

Kecamatan Jatinegara, Kelurahan Bidara, RW 07 RT 16, 17, 18. Informasi dari Tagana an Umy Aby, ketinggian air 20 hingga 30 cm. Penyebabnya kenaikan Pintu Air Katulampa dan Pintu Air Depok. Penanganan yang dilakukan masih dalam konfirmasi, sama halnya dengan pengungsi.

Tanggapan Ahok-Anies soal banjir

Untuk mengatasi banjir, Ahok mengatakan tidak ada cara selain normalisasi sungai.

“Ini kan masih ada yang bolong (belum dinormalisasi) sebenarnya. Untuk bulan ini, ada 80 titik saja. Kalau masih ada satu Cipinang gitu, ya mau bilang apa,” ungkapnya.

Berbeda dengan Ahok, Anies mengatakan pengelolaan air harus menggunakan drainase vertikal, bukan drainase horizontal lewat normalisasi sungai.

Menurut Anies, untuk mencegah banjir tak cukup melalui aliran sungai. “Tapi harus dimasukkan juga ke dalam tanah untuk cadangan air,” ujar Anies.

Anies menjelaskan, dengan drainase vertikal, volume air yang dialirkan ke sungai diharapkan bisa berkurang. “Karena air-air itu sudah masuk dulu ke dalam tanah sebelum dikirim ke sungai,” tuturnya.***

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here