Banjir Kali Lamong Jadi Momok Warga Setiap Tahun

0
251

Nusantara.news, Lamongan – Luapan Kali Lamong setiap tahun mengancam beberapa bagian wilayah yang dialirinya, seperti Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lamongan. Kedua wilayah ini  daerah pertama yang terdampak banjir. Bagaimana reaksi Pemkab dalam hal mengatasi banjir Kali Lamong yang setiap tahun menjadi momok warga?

Meninggikan jalan provinsi dan pembuatan waduk dinilai sebagai program yang layak, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Rekomendasi ini juga yang selama ini sedang digarap oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk diusulkan kepada pemerintah pusat. Sebab kali Lamong masuk kewenangan pemerintah pusat, melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.

Terkait soal ini Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf menyatakan, ada dua solusi yakni solusi jangka pendek dan jangka panjang, dengan biaya  Rp1,454 triliun. Untuk jangka pendek fokus pada pembangunan tanggul, sudetan pada muara, dan normalisasi penampang sungai. Tentunya juga disertai dengan pembebasan lahan.

“Untuk jangka pendek biayanya Rp904 milar. Karena adanya pembebasan lahan, dan lebih difokuskan pada daerah hulu dengan reboisasi dan pembangunan waduk, maka dibutuhkan biaya sebesar Rp550 miliar,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Ini jelas menjadi pertaruhan bagi Wagub Jatim, jika usulan itu sekadar tulisan di kertas tanpa ada realisasi. Seperti dalam pantauan Nusantara.news, Bengawan Solo selama ini kurang dipedulikan, termasuk Kali Lamongan. Untuk tahun ini dalam RUPS Kemenpupera terdapat anggaran sekitar Rp20 miliar, itupun untuk memperbaiki kembali tanggul yang rusak untuk hasil pekerjaan tahun 2015.

Kemenpupera hanya setuju mengalokasikan Rp20 miliar dari usulan Pemprov  sebesar Rp1,454 triliun. Maka, solusi untuk mengatasi banjir Kali Lamong cenderung hanya dalam wacana. Karenanya,  di  masa mendatang Kali Lamong tetap akan menyebabkan banjir. Sebenarnya, Banjir Kali Lamong bisa diatasi dengan membangun waduk di hulu, memperbaiki tanggul dan normalisasi penampang.

Namun, semuanya sangat sulit terealisasi, sebab ada kesan pusat menganak-tirikan Kali Lamong. Akibatnya, banjir terus terjadi setiap tahun. Bandingkan dengan penanganan Kali Kedung Brubus, yang ada di Madiun. Mengingat kali ini sering mengakibatkan banjir maka  sebuah waduk dibangun untuk mengantisipasi kemungkinan meluapnya air karena hujan. Kali Kedung Brubus setiap tahun juga dapat kucuran dana melimpah. Dalam RUP Kemenpupera tahun 2017 Kali Kedung Brubus memperoleh hampir Rp35miliar.

Ini menjadi pekerjaan besar ke 4 kepala daerah yang terlewati Kali Lamongan. Namun melihat  pola kebijakan dan komitmen ke 4 kepala daerah selama ini, maka sangat sulit untuk mencari penyelesaian. Bupati Lamongan lebih suka bangun Gedung, Bupati Mojokerto lebih suka bangun jalan beton, Bupati Gresik lebih suka bangun Stadion, sementara Walikota Surabaya lebih suka marah-marah dan bangun taman.

Sebenarnya banjir akibat luapan Kali Lamong itu biasa terjadi ketika Gresik, Lamongan dan Mojokerto mengalami hujan deras. Banjir tersebut mengakibatkan tergenangnya desa, sawah, dan jalan. Berdasarkan data kejadian banjir Kali Lamong milik Dinas PU Pengairan Jawa Timur, banjir akibat luapan Kali Lamong di Kabupaten Gresik, terdampak pada Kecamatan Benjeng, Balongpanggang, Cerme, dan Menganti.

Seperti diketahui bahwa Kali Lamong memiliki beberapa anak sungai, seperti Kali Gondang, Kali Cermenlerek, Kali Menganti dan Kali Iker-iker. Pada musim hujan, debit Kali Lamong cenderung besar. Namun, besarnya debit ini tidak mampu dialirkan dengan baik, sehingga air sungai meluap dan mengakibatkan banjir hampir setiap tahun.

Kali Lamong seluruhnya berada di Provinsi Jawa Timur. Bagian hulu Kali Lamong terletak di daerah Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Mojokerto, yang berawal dari pegunungan Kendeng. Sementara bagian hilirnya berada di perbatasan antara Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik, serta bermuara di Selat Madura.

Daerah Aliran Kali Lamong memiliki luas ± 720 km2, dengan panjang alur sungai ± 103 km. Sehingga lebar rata-rata lebih kurang 6,9 meter. Dua mahasiswa ITS dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan(FTSP) yakni Gemma Galgani Tunjung Dewandaru, dan Umboro Lasminto,  dalam kajian yang berjudul  studi “Penanggulangan Banjir Kali Lamong Terhadap Genangan di Kabupaten Gresik” menyatakan bahwa aliran air dari hulu ke hilir terjadi penurunan debit dari Q25 = 460,282 m3/detik, menjadi Q25 = 223,9 m3/detik. Penurunan debit tanpa diimbangi tempat penampungan jelas akan menyebabkan air meluber. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here