Musim Merger Bersemi Kembali (2)

Bank Danamon Diperkirakan Akan Menjadi Bank Jangkar

0
263
PT Bank Danamon Indonesia Tbk diperkirakan akan menjadi bank jangkar (anchor bank) dalam merger bersama PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk.

Nusantara.news, Jakarta –  Langkah Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) untuk menggabungkan (merger) PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP) semakin pasti. Dengan size BDMN yang jauh lebih besar dari BBNP, diperkirakan BDMN akan menjadi anchor bank.

Seperti sejarah merger sebelumnya, bank-bank beraset besar dengan sistem yang lebih kokoh biasanya kerap dijadikan bank jangkar (anchor bank). Bank jangkar adalah bank yang dianggap lebih kokoh dari sisi total aset dan sistem teknologi informasi, jumlah karyawan serta sistem perbankan. Contoh BDMN sendiri adalah bank hasil merger pasca restrukturisasi tahun 2000.

Sejarah BDMN sendiri adalah sejarah merger, terutama di masa krisis 1997 hingga eksistensinya hari ini adalah sebagai bank jangkar.

BDMN didirikan pada 1956 sebagai bank non devisa dengan nama Bank Kopra Indonesia. Pada 1967 nama tersebut kemudian diubah menjadi PT Bank Danamon Indonesia, pada 1988 statusnya ditingkatkan menjadi bank devisa. Setahun kemudian BDMN mencatatkan sahamnya di PT Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia–BEI).

Akibat krisis moneter 1998, pengelolaan BDMN dialihkan di bawah pengawasan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai bank diambil alih (bank take over—BTO).

Pada 1999, Pemerintah Indonesia melalui BPPN melakukan rekapitalisasi BDMN sebesar Rp32,2 triliun dengan cara menyuntik obligasi pemerintah. Ditahun yang sama BPPN juga mem-BTO PT Bank PDFCI, kemudian dimerger ke dalam BDMN, praktis BDMN menjadi bank jangkar.

Sepanjang tahun 2000 BPPN juga melakukan pengambilalihan 8 BTO lainnya, yakni PT Bank Tiara, PT Bank Duta Tbk, PT Bank Rama Tbk, PT Bank Tamara Tbk, PT Bank Nusa Nasional Tbk, PT Bank Pos Nusantara, PT Jayabank International dan PT Bank Risjad Salim Internasional) ke dalam BDMN. Lagi-lagi BDMN menjadi bank jangkar.

Jadi, secara historis BDMN sudah terbiasa menjadi bank jangkar, itu sebabnya pada merger kali ini, dapat dipastikan BDMN akan menjadi bank jangkar kembali. Mengingat BBNP adalah bank kecil dengan sistem yang kalah kokoh dibandingkan BDMN.

Dalam keterbukaan informasi kepada BEI pada 22 Januari 2019 menyampaikan rencananya penggabungannya dengan BBNP. Salah satu alasan penggabungan kedua bank ini adalah memiliki pemegang saham pengendali yang sama yaitu, secara langsung atau tidak langsung MUFG Bank Ltd atau sebelumnya dikenal dengan Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ (BTMU).

Berdasarkan laporan keuangan kedua emiten per September 2018, BDMN memiliki aset Rp178,55 triliun dan BNPN Rp7,98 triliun atau aset BDMN 22,37 kali aset BBNP. Dalam penggabungan terjadi penyesuaian proforma kewajiban senilai Rp1,15 triliun sehingga total aset kedua bank setelah merger menjadi Rp186,53 triliun.

Dalam penggabungan dua perusahaan biasanya terjadi perampingan atau efisiensi. Salah satunya adalah karyawan yang akan terkena dampak pemutusan hubungan kerja. Berdasarkan laporan keuangan terakhir, jumlah karyawan BDMN sebanyak 27.095 karyawan tetap dan 5.724 karyawan tidak tetap. Sementara BBNP memiliki 1.557 karyawan tetap. Ini yang harus menjadi perhatian agar tidak merugikan hak karyawan.

Hasil merger kedua bank diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, mengingat perbankan adalah darah bagi perekonomian.

Direktur dari Fullerton Financial Holdings, Tow Heng Tan menjelaskan, sejak 2003 MUFG telah menjadi pemegang saham di BDMN dan terus mendukung pertumbuhan bank tersebut.

“Indonesia merupakan suatu pasar yang dinamis dan kami tetap optimistis dengan pertumbuhan dan potensinya di jangka panjang, dan juga pertumbuhan dan potensi sektor jasa keuangannya,” ujar Tow Heng Tan.

Sementara President & Head, South East Asia Temasek, Tan Chong Lee, menjelaskan pihaknya telah memasuki tahap kesepakatan untuk perjanjian jual beli saham bersyarat sejumlah 73,8%.

Dia menjelaskan MUFG adalah salah satu grup finansial terbesar di dunia. Dengan waralaba atau franchise yang kuat di Indonesia dalam bidang pembiayaan korporasi dan pembiayaan infrastruktur, MUFG berada pada posisi yang baik untuk memperkuat waralaba Danamon dan membawa Danamon melangkah ke tahap pertumbuhan selanjutnya.

“Kami percaya bahwa minat MUFG terhadap Danamon merupakan bukti kepercayaan mereka kepada bank tersebut dan kombinasi tersebut juga akan selaras dengan tujuan-tujuan pembangunan dan pertumbuhan Indonesia,” ujarnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here