Bank Mandiri Selamat Dari Lubang Jarum Rush Money

0
321
Nasabah Bank Mandiri mempertanyakan penurunan saldo, bahkan saldo menjadi Rp0, akibat kekacauan sistem IT bank hasil merger itu.

Nusantara.news, Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk baru saja lolos dari lubang jarum rush money. Apa pasal? Gegara teknologi informasi (information technology—IT) back up system bank itu mengalami saat men-copy dari core system menghasilkan tambahan maupun pengurangan saldo 10% nasabahnya.

Gangguan IT Bank Mandiri terjadi pada Sabtu (20/7) setelah back up system IT menyalin core system bank itu pada Jumat (19/7). Namun ketika data itu dikembalikan terjadi kekacauan pada rekening nasabah, ada yang rekeningnya berkurang, ada juga yang bertambah, bahkan ada yang rekeningnya menjadi nol.

Celakanya ada sekitar 2.670 rekening atau 10% dari total rekening Bank Mandiri melakukan mutasi-mutasi rekening, terutama nasabah yang mengalami penambahan rekening. Dengan serta merta Bank Mandiri memlokir ke-2.670 rekening tersebut untuk mencegah segala kemungkinan terjadi.

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas mengungkapkan rekening nasabah tersebut diblokir lantaran tercatat menerima saldo tambahan dan telah memindahkannya ke rekening lain. Atau dengan kata lain, pemilik rekening tersebut sedot uang atau saldo dari tambahan otomatis akibat gangguan sistem IT. 

"Yang sudah transfer atau menarik uangnya sudah kami blok, mungkin mereka tidak sadar bertambah," kata  Rohan Hafas, Sabtu (20/7).

Hafas menjelaskan total rekening Bank Mandiri ada 1,5 juta, 2.670 nasabah diantaranya mengalami gangguan. Alasannya, dalam General Conditions for Account Opening (GCAO) alias syarat dan ketentuan pembukaan rekening Bank Mandiri tak mengatur ketentuan soal ini. Bahkan transaksi tersebut justru dianggap sah, serta mengikat bank dan nasabah.

"Instruksi yang terekam dan dihasilkan dari sarana elektronik yang digunakan oleh bank merupakan bukti yang sah dan mengikat pemilik rekening dan bank," bunyi pasal 6.2 GCAO

Dalam pasal 2.3 GCAO pun dinyatakan jika terjadi perbedaan data antara bank dan nasabah, data milik bank yang diakui, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya.

Hafas menyatakan perseroan tetap dapat meminta nasabah mengembalikan saldo tambahan yang terlanjur dipindahkan. "Landasan hukumnya sederhana, kami memiliki data mutasi bahwa saldo tambahan tersebut bukan milik nasabah," jelasnya.

Makanya mulai Senin Hafas menegaskan perseroan akan mulai menghubungi dan mendatangi 2.670 nasabah pemilik rekening tersebut untuk melakukan komunikasi terkait kejadian itu.

Banyak kisah pilu yang dialami nasabah. Ada yang saldo rekening awalnya Rp95 juta, tetiba menjadi Rp0. Ada juga yang rekeningnya Rp50 juta, turun menjadi Rp15 juta. Nasabah taunya bahwa sistem IT Bank Mandiri mengalami eror.

Puluhan nasabah bahkan komplain ke kantor Bank Mandiri di Jl. Sudirman, Kota Pekanbaru, Riau, karena saldonya hilang, berkurang, bahkan terkuras tinggal Rp0. Begitu juga di Kantor Cabank Bank Mandiri Samarinda nasabah berduyun-duyun mempertanyakan nasib rekeningnya yang raib.

Kepanikan nasabah makin menjadi-jadi lantaran mencoba mengecek ke ATM tidak berfungsi, mengecek ke mobile banking juga eror. Sehingga kepanikan memuncak mereka mendatangi beberapa kantor cabang Bank Mandiri.

Pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha meminta Bank Mandiri segera memulihkan sistem untuk mencegah rush money atau pengambilan dana besar-besaran dari bank.

"Saya berharap peristiwa tersebut tidak menimbulkan rush money di tengah masyarakat," kata Pratama Persadha di Semarang, Sabtu (20/7) seperti dikutip Antara.

Ia berharap kekacauan IT Bank Mandiri tidak menimbulkan rush money. Peristiwa berkurang dan bertambahnya saldo nasabah Bank Mandiri juga pernah terjadi pada tahun 2017 dan 2018, namun skalanya kecil.

"Jangan sampai peristiwa saldo berkurang ini terjadi berulang kali. Nasabah bisa hilang kepercayaan, tidak hanya pada satu bank, bisa membahayakan sistem perbankan nasional," kata Pratama.

"Nasabah sangat dirugikan, harapannya Mandiri bisa memberikan kompensasi yang layak bagi seluruh nasabah Bank Mandiri," lanjut dia.

Sementara itu, Hafas memastikan keamanan rekening nasabah sejalan dengan adanya pemeliharaan sistem teknologi informasi untuk meningkatkan layanan transaksi keuangan.

"Kami pastikan rekening nasabah, aman," kata Hafas.

Ia juga memastikan nasabah tidak akan mengalami pengurangan saldo di rekening. Menurutnya, proses pemeliharaan dan peningkatan kualitas sistem IT  ini telah berdampak pada berubahnya nilai saldo sebagian nasabah. Untuk itu, Bank Mandiri saat ini sedang melakukan normalisasi saldo rekening yang terdampak pemeliharaan sistem teknologi informasi tersebut.

"Kami memohon maaf atas kejadian ini. Saat ini kami sedang melakukan normalisasi saldo nasabah dan kami juga memastikan bahwa dana nasabah tetap aman serta tidak hilang. Nasabah yang saldonya berbeda sudah dikembalikan ke posisi awal," katanya.

Bank Indonesia (BI) sendiri selaku regulator sistem pembayaran terus melakukan pemantauan terhadap gangguan sistem bank hasil merger 4 bank BUMN tersebut. Bank Mandiri adalah bank hasil merger Bapindo, BBD, BDN dan Bank Exim.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko meminta kepada nasabah untuk tidak panik. Dia mengimbau nasabah agar segera menanyakan ke bank terkait tindak lanjut rekeningnya.

"Kami meneliti dan memantau, biasanya ada sistem recovery dan jangka waktunya. BI melihat ada ketentuan dan mitigasi risiko dan dispute resolutionada prosedurnya untuk mengatasi hal tersebut. Kalau ada sanksi ya tergantung kondisinya," kata Onny di Cafe Rumah Pohon akhir pekan lalu.

Onny mengungkapkan saat ini pihak Bank Mandiri telah berkomunikasi dengan BI terkait masalah ini. Bank Mandiri juga telah melaporkan data nasabah dijamin aman. Karena itu masyarakat diminta untuk tidak termakan informasi yang berlebihan.

Gangguan sistem IT ternyata juga sempat sempat mengganggu saldo rekening nasabah pada layanan isi ulang atau top up e-Money.

Hafas mengatakan layanan top up e-Money 10% nasabah Mandiri juga mengalami gangguan. Kondisi ini membuktikan bukan karena adanya kesalahan dari sisi manusia atau human error, melainkan kesalahan yang terjadi dari sisi sistem.

"Bukan human error, karena ini dilakukan secara sistem dan ini sudah rutin dilakukan bertahun-tahun. Ini juga bukan maintenance sistem. Kami akan investigasi," katanya.

Rohan memperkirakan bahwa gangguan ini terjadi pada sistem hardware atau perangkat keras yang dimiliki Bank Mandiri.

"Setelah ini kita akan cek corrupt-nya di mana data tersebut. Tentunya perlu investigasi audit, apakah ini malfunction di hardware atau software, kemungkinan hardware," jelasnya.

Tampaknya, langkah cepat manajemen Bank Mandiri, khususnya dibidang IT, telah berhasil menyelamatkan Bank Mandiri dari rush money nasabahnya. Pola komunikasi dan penanganan yang cepat menjadi juru selamat Bank Mandiri.

Apa jadinya kalau rush money itu meluas ke bank lain, maka bisa-bisa peristiwa rush money pada 1997-1998 bakal terulang. Syukur Bank Mandiri berhasil selamat dari lubang jarum rush money.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here