Bank Muamalat, Kisah Kerbau Dikuasai Katak

0
458
Bank Muamalat segera menambah pemegang saham baru yang langsung menjadi pemegang saham mayoritas, yakni PT Minna Padi Investama Sekuritas.

Nusantara.news, Jakarta – Masih segar dalam ingatan, ketika QAF Ltd. mengakuisisi PT Indofood Sukses Makmur Tbk? Sebuah perusahaan kecil di Singpura mengakuisisi raksasa pangan Indofood, ibarat katak mengakuisisi kerbau, toh itupun terjadi.

Belakangan PT Minna Padi Investasi Sekuritas Tbk (PADI) berniat menguasai saham mayoritas PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (BMI). Masalahnya PADI hanya memiliki aset Rp478,39 miliar, sementara BMI yang akan dikuasai beraset Rp60 triliun. Akan mulus kah?

BMI memang satu dari 22 bank yang bermasalah sejak September 2015, dimana ke-22 bank masuk dalam bank yang layak tutup jika rupiah menembus level Rp15.000 sebagaimana stress test yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Meskipun rupiah tidak jadi tembus ke level Rp15.000, namun masalah itu tidak hilang begitu saja.

OJK ketika itu mengambil jalan anti-siklis, yakni bertolak belakang dari kebijakan yang disarankan Dana Moneter International (IMF), bahwa dalam menghadapi krisis harus menggunakan metode tight money policy (TMP). OJK yang dipimpin Muliaman D. Hadad ketika itu justru melakukan relaksasi-relaksasi, terutama yang terkait peraturan perkreditan.

Semisal aturan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR), non performing loan (NPL) hingga capital adequacy ratio (CAR) sejak September 2015 tidak diberlakukan (di-off-kan) guna menghadapi krisis. OJK memberi waktu dua tahun, September 2017, aturan itu di-on-kan lagi, asumsinya kondisi krisis sudah membaik.

Betul saja, kondisi ekonomi mulai membaik, walaupun belum pulih benar. Ke-21 bank sudah diselamatkan oleh pemiliknya dengan menambah modal. Tinggal BMI yang tersisa. Bahkan manajemen lama, Endy Abdurrahman, sudah ‘melempar handuk’ tak berdaya menghadirkan investor.

Belakangan muncul nama PADI, sebuah perusahaan sekuritas dengan aset hanya Rp478,39 miliar hendak menguasai BMI yang beraset Rp60 triliun. Meskipun nilai akuisisi yang direncanakan hanya Rp4,5 triliun, darimana PADI mampu mengakuisisi BMI?

Adapun skema penguasaan saham yang akan dilakukan adalah, PADI akan menjadi pemegang saham setelah terlebih dahulu bertindak sebagai standby buyer (pembeli siaga) pada penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Jumlah saham yang akan dikuasai PADI sekurang-kurangnya 51% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh BMI. Untuk maksud tersebut, Dirut PADI Djoko Joelijanto mengagendakan akan menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) pada 28 Oktober 2017. RUPS ini selain meminta restu pemegang saham juga akan membahas skema pendanaan aksi korporasi tersebut.

Manajemen PADI mengaku telah menandatangani perjanjian pengambilan saham dalam Bank Muamalat. “Kita tidak akuisisi karena tidak ada pembelian terhadap pemegang saham. Tapi kita ikut serta dalam right issue-nya,” katanya.

Dirut PT Minna Padi Investama Sekuritas, Djoko Joelianto

Darimana sumber dana?

Keseriusan penguasaan saham PADI atas BMI semakin nyata, setidaknya terlihat dari aksi korporasi yang dilakukan BMI dengan merombak jajaran direksi. Perombakan dilakukan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (20/9).

Dalam RUPSLB tersebut, diputuskan bahwa Achmad Kusna Permana diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan posisi Endy Abdurrahman. Kendati demikian, Kusna Permana masih belum bisa bicara banyak terkait dengan hasil RUPS.

“Saya belum boleh bicara ini, hari ini kan masih Pak Endy,” kata Kusna Permana usai RUPS tersebut.

Saat ditanya rencana ke depan untuk memimpin Bank Muamalat pun Kusna Permana juga belum bisa memberikan komentar sama sekali. “Saya belum bisa komentar apa-apa,” katanya.

Sikap hati-hati Kusna memang patut dihormati, karena memang proses penguasaan saham BMI oleh PADI cukup rumit dan sensitif. Sehingga ia lebih memilih gerakan tutup mulut (GTM) demi menghindari gejolak.

Keseriusan lainnya adalah, manajemen PADI sudah menandatangani perjanjian bersyarat penambahan modal ini dilakukan pada Senin (25/9) lalu. Berdasarkan keterbukaan informasi, Rabu (27/9), yang sudah disampaikan kepada OJK, Bank Muamalat menerbitkan sebanyak-banyaknya 80 miliar lembar saham baru melalui penerbitan HMETD atau rights issue, sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 32/POJK.4/2015.

Lantas, darimana PADI menyuntik dana segar sebesar Rp4,5 triliun, sementara asetnya hanya Rp478,39 miliar? Di sinilah teka-teki penguasaan saham Bank Muamalat oleh PADI. Ada spekulasi PADI hanya broker dari investor besar yang bakal masuk ke Bank Muamalat, ada juga spekulasi mengatakan dana itu dari China dan berbagai rumors lain.

Dirut PADI Djoko Moelianto mengaku sumber pendanaan untuk membeli saham yang diterbitkan BMI berasal dari para pemegang saham existing Bank Muamalat.

Seperti diketahui, pemegang saham BMI hari ini adalah Islamic Development Bank sebesar 32,74%, kemudian diikuti Bank Boubyan 22%, Atwill Holdings Limited 17,91%, dan National Bank of Kuwait 8,45%.

Sementara sisanya adalah pemegang saham kecil-kecil seperti IDF Investment Foundation 3,48%, BMF Holdings Limited 2,84%, Reza Rhenaldi Syaiful 1,67%, Dewi Monita 1,67%, Andre Mirza Hartawan 1,66%, Koperasi Perkayuan Apkindo-MPI (Kopkapindo) 1,39%, dan pemegang saham lainnya 6,19%.

Pemegang Saham Bank Muamalat sebelum masuknya PT Minna Padi Investama Sekuritas

Posisi Bank Muamalat sendiri sebenarnya adalah termasuk bank publik namun sahamnya tidak diperdagangkan di pasar modal. Sahamnya memang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), namun tidak ditransaksikan mengingat berbadan hukum syariah.

“Proses penambahan modal dari pemegang sahamnya dan akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) bulan depan. “Dana akan dari pemegang saham,” kata Djoko .

Jika demikian, apa perlunya PADI masuk kalau tetap menggunakan dana pemegang saham lama? Sesuatu yang mustahil. Atau RUPSLB digelar hanya untuk menggugurkan kewajiban dan pemegang saham lama tidak menambah modal, sehingga PADI mengeksekusi perannya sebagai standby buyer untuk memborong penerbitan saham baru BMI.

Spekulasi pun bertambah, bahwa Bank Muamalat nantinya akan dijadikan vehicle politik 2019. Persisnya bank islam pertama itu akan di-Century-kan. Jika ini benar terjadi, sungguh sangat keterlaluan.

Meski jumlah transaksinya sudah diputuskan, menurut Djoko, hingga saat ini perseroan belum menemukan bagaimana mekanisme yang akan dilakukan nantinya untuk mengumpulkan dana sebesar Rp4,5 triliun tersebut. “Mekanismenya nanti akan ditentukan. Saat ini kami hanya sebagai pembeli siaga,” lanjutnya.

Perlu diketahui, Bank Muamalat adalah bank syariah pertama di Indonesia yang didirikan atas desakan umat Islam tentang perlu bank syariah di negara yang mayoritas warganya adalah kaum muslimin. Lewat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang diketuai Burhanuddin Jusuf Habibie, lahir lah Bank Muamalat.

Dengan masalah pembiayaan macet yang diderita Bank Muamalat sejak 2015, bank itu harus menambah modal agar tetap eksis. Sehingga sempat ada ide untuk melibatkan konglomerat muslim untuk mengakuisisi sahamnya, seperti Arifin Panigoro (Medco), Chairul Tanjung (Trans Corp), Rosan P. Roslani (Ketua Kadin—Recapital), Erick Tohir (Mahaka), dan lainnya.

Atau ada gagasan melibatkan aktivis 212 yang spiritnya sedang tumbuh, dimana massa 212 bisa digalang di seluruh Indonesia untuk mengambil alih bank syariah itu. Mana yang bakal terealisasi? Wallahu a’lam…![]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here