Bank Wakaf, Ekonomi Ummat Islam dan Pilpres 2019

0
93
Presiden Jokowi kini rajin blusukan ke pesantren untuk mempromosikan Bank Wakaf Mikro. Salah satunya Jokowi meresmikan Bank Wakaf Mikro An-Nawawi Tanara di Pondok Pesantren, Serang, Banten, Rabu (14/3/2018).

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini rajin blusukan ke pesantren. Di pesantren-pesantren, Jokowi gencar mempromosikan Bank Wakaf Mikro. Salah satunya meresmikan Bank Wakaf Mikro An-Nawawi Tanara di Pondok Pesantren, Serang, Banten, Rabu (14/3/2018).

Ini kali ketiga peluncuran Bank Wakaf yang diresmikan presiden. Sebelumnya, mantan Gubernur DKI Jakarta ini meresmikan Bank Wakaf KHAS Kempek di Cirebon dan Bank Wakaf Mikro Al Fithrah Wava Mandiri di Surabaya.

Di semua pesantren, Jokowi menghimbau kepada masyarakat untuk mengajukan pinjaman dana tanpa bunga ke Bank Wakaf Mikro, dan bukan melalui para rentenir yang membebankan bunga utang selangit.

Untuk para nasabah hanya dikenakan biaya administrasi tiga persen per tahun dari jumlah uang yang dipinjamkan. Nasabah juga tidak dikenakan bunga ketika mencicil.

Bank ini dapat menyalurkan pembiayaan mulai dari Rp1 juta dan marjin bagi hasil dua persen setiap tahun. Sementara, modal dana untuk pembiayaan tersebut masih berasal dari donasi atau sumbangan donatur. “Volumenya memang tidak banyak dan satu bank hanya memiliki modal Rp6 miliar-Rp8 miliar. Tapi, untuk pondok pesantren yang memiliki komunitas bisnis, saya kira itu lebih dari cukup,” ucap mantan Wali Kota Solo ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka Bank Wakaf Mikro di berbagai pondok pesantren sebagai usaha untuk memberikan dana pinjaman kepada pelaku usaha kecil menengah. Selain memberikan pinjaman, pembinaan juga akan turut diberikan agar usaha yang didirikan dapat terus terpantau lancar. Secara dana pengelolaan, OJK mengandalkan sumbangsih pemberian donatur.

Dikatakan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, masing-masing Bank Wakaf ukuran pasnya diberikan Rp8 miliar. Potensi nasabahnya itu untuk sekitar 3 ribu nasabah. Skema pembiayaan kepada nasabah sendiri adalah pembiayaan tanpa agunan dengan nilai maksimal Rp 3 juta dan margin bagi hasil setara 3 persen per tahunnya.

Hingga awal Maret 2018, dari 20 Bank Wakaf Mikro yang dibangun di Jawa, seperti di Cirebon, Bandung, Ciamis, Serang, Lebak, Purwokerto, Cilacap, Kudus, Klaten, Yogyakarta, Surabaya, Jombang, dan Kediri. Pada akhirnya akan ditularkan ke 28.000 pesantren di seluruh Indonesia.

Saat ini telah disalurkan pembiayaan kepada 2.784 nasabah dengan total nilai pembiayaan sebesar Rp 2,45 miliar. Rencananya OJK akan akan segera mendirikan 20 Bank Wakaf Mikro lainnya di seluruh Indonesia.

Bank Wakaf Bukan Program Baru

Banyak yang menilai, keberadaan Bank Wakaf Mikro karena Presiden Jokowi telah mendengar aspirasi dan tuntutan para ulama dan umat yang menginginkan pembangunan ekonomi nasional dimulai dari bawah, terutama pondok pesantren.

Jokowi menilai pesantren saat ini dapat menjadi sarana bagi pengembangan ekonomi umat. Alasan Jokowi getol keluar masuk pesantren dengan meresmikan Bank Wakaf Mikro dikarenakan keinginan untuk mendorong bisnis yang ada sekitar pondok, sehingga bisa mendorong ekonomi umat. Benarkah demikian?

Pengembangan Bank Wakaf sebenarnya bukan program baru pemerintah. Dasar hukumnya sudah ada sejak 2004. Namun namun baru terealisasi pada 2017 dan cukup masif pada 2018 dengan terbitnya izin 20 Bank Wakaf oleh OJK.

Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) menggagas pengembangan wakaf sejak 2001, diundangkan dalam UU Wakaf 2004, bahkan menggagas lahirnya Bank Wajak 2012. OJK menyambut lahirnya Bank Wakaf sejak 2017.

Wakaf sendiri merupakan suatu instrumen ekonomi Islam yang belum diberdayakan secara optimal di Indonesia. Di negara lain seperti Mesir, Saudi Arabia, Yordania, Turki, Bangladesh, Mesir, Malaysia dan Amerika Serikat, wakaf justru telah dikembangkan sebagai salah satu lembaga sosial ekonomi Islam yang dapat membantu berbagai kegiatan umat dan mengatasi masalah umat seperti kemiskinan.

Indonesia sebagai negara dengan populasi masyarakat muslim terbesar di dunia memiliki potensi wakaf uang yang sangat besar, namun sayangnya hal tersebut belum dikembangkan secara optimal.

Nah, berangkat dari sinilah kemudian digagas pengembangan Bank Wakaf. Potensi wakaf di Indonesia terdiri dari wakaf tanah antara Rp370 triliun hingga Rp2000 triliun, sedangkan wakaf tunai mencapai Rp180 triliun.

Pemerintah kemudian mengakomodir upaya pengembangan wakaf uang ini dengan diaturnya kebolehan penerapan wakaf uang dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006. Terdapat beberapa aturan terkait wakaf uang dalam bagian tersendiri antara lain: Wakaf tunai dapat dilakukan melalui Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang ditunjuk oleh Menteri (Pasal 28 UU No. 41 Tahun 2004); Pernyataan kehendak wakif tentang wakaf uang harus tertulis (Pasal 29 ayat 1 UU No. 41 Tahun 2004); LKS menerbitkan sertifikat wakaf uang yang disampaikan kepada wakif dan nazhir sebagai bukti penyerahan harta benda wakaf (Pasal 28 ayat 2 UU. No 41 Tahun 2004); dan LKS atas nama nazhir mendaftarkan benda wakaf berupa uang kepada Menteri Agama.

Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, di mana bank memiliki pengertian sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan enyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Konsep wakaf sebelumnya memiliki potensi besar dalam membantu pengembangan perekonomian nasional. Arab Saudi kini membentuk lembaga semacam perusahaan untuk meningkatkan peran Bank Wakaf dalam perekonomiannya. Bangladesh terus memperbesar Bank Wakaf agar kesenjangan dan ketimpangan ekonomi bisa dikurangi.

Kampus legenda dan tertua di dunia, Universitas Al-Azhar, menunjukkan betapa wakaf memainkan peran penting dalam dunia pendidikan, dengan memberikan hasil yang maslahat bagi seluruh dunia. Kampus-kampus lain di barat pun seperti Harvard, Oxford, Cambridge, dan lain-lainnya muncul dari pola kerja ekonomi seperti wakaf.

Wakaf kemudian berevolusi dari aktivitas sosial, keagamaan, menjadi kegiatan ekonomi Seperti membangun jalan, jembatan, menggarap lahan pertanian, perkebunan, hingga perdagangan. Bahkan di antara zakat, infaq dan shodaqoh, yang merupakan ibadah sosial dalam Islam, potensi wakaf ternyata yang paling besar dikembangkan Rosulullah Muhammad saw.

Termasuk yang paling modern belakangan adalah pengelolaan Bank Wakaf sebagai penampungan wakaf tunai dari umat Islam. Tujuannya jelas, untuk memberdayakan ekonomi umat Islam yang tak tersentuh oleh layanan perbankan.

Dari gagasan inilah Bank Wakaf Mikro muncul. Tujuannya menyediakan akses permodalan atau pembiayaan bagi masyarakat yang belum terhubung dengan lembaga keuangan formal khususnya di lingkungan pondok pesantren yang saat ini jumlahnya mencapai lebih dari 28 ribu pondok pesantren di Indonesia.

Cenderung Money Politic

Rata-rata Bank Wakaf Mikro dibangun di jantung dan basis massa Nahdhatul Ulama (NU). Sayangnya, bank ini tidak punya kantor pusat ataupun kantor cabang. Kantornya hanya tersebar di 20 pesantren yang dioperasionalkan dan diawasi oleh para pihak di pesantren masing-masing.

Bank ini hanya dioperasionalkan oleh orang yang dipercaya oleh pesantren. Jadi, ya, semacam ajang latihan agar pesantren bisa mengelola bank mikro, dengan harapan ke depan mampu mengembangkan bank mikro menjadi bank besar.

Inilah yang sangat dikhawatirkan. Selain keterbatasan SDM akan pengetahuan, pengalaman dan jaringan, juga dikhawatirkan pengembangan Bank Wakaf Mikro akan mandeg dan ujung-ujungnya memunculkan kredit macet.

Masalahnya, Bank Wakaf Mikro masih merupakan entitas bisnis baru. Sehingga belum ada unsur success story. Karena itu dikhawatirkan akan menemui kegagalan sebagaimana gerakan koperasi yang digagas Adi Sasono di masa lalu. Ya, selain konsepnya yang tidak kalah rumit, keberlanjutan Bank Wakaf Mikro diprediksi hanya seumur jagung, sebab kehadirannya hanya pada musim kampanye Pilpres 2019 saja.

Tidak hanya, permasalahan lain yang dihadapi dari 20 Bank Wakaf Mikro yang telah terbit izinnya, justru posisi donatur dipertanyakan. Sebab tidak ada kejelasan aliran dana masuk baik dari donatur maupun dari APBN. Jika hal itu yang terjadi, maka dana itu akan habis sebelum memasuki masa dua tahun ke depan lantaran tak semua orang atau konglomerat mau terus-terusan menjadi donatur. Apalagi Bank Wakaf Mikro ini menerapkan prinsip syariah, sementara para donatur tersebut rata-rata adalah non muslim. Mereka mau menyumbang sebagai donatur karena mungkin saja ada maksud lain terkait dengan kekuasaan.

Sudah menjadi rahasia umum, dua di antaranya Bank Wakaf Mikro, yakni Bank Wakaf Mikro Al Fithrah Wava Mandiri di Surabaya dan Bank Wakaf Mikro di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, donatur wakaf adalah Datuk Tahir, konglomerat pemilik Mayapada Group. Tahir selama ini dikenal sebagai donatur atau bohir dari Jokowi. Tahir saat ini menempati posisi kelima orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes dengan total kekayaaan mencapai US$3,5 miliar atau sekitar Rp47 triliun.

Sebagian kalangan menilai program Bank Wakaf Mikro ini sangat mungkin ditunggangi kepentingan politik untuk Pilpres Jokowi 2019. Hal ini tidak bisa dipungkiri jika melihat posisi Tahir berada di dalamnya sebagai donatur. Melalui program ini Jokowi dapat dengan mudah masuk ke basis massa umat Islam. Suara umat Islam yang selama ini kurang mendukung dan tidak simpatik terhadap kebijakan Jokowi, pada akhirnya akan berbalik arah. Program Bank Wakaf Mikro boleh dibilang sarana kampanye Jokowi paling efektif untuk merekrut pengaruh umat Islam.

Bank Wakaf Mikro ini tarikan politik pencitraannya sangat besar. Sebab dana pinjaman Bank Wakaf Mikro dilakukan tanpa agunan sehingga tidak ada jaminan dana tersebut akan kembali atau habis begitu saja. Ini seolah menegaskan, Bank Wakaf Mikro hanyalah program bagi-bagi duit atau money politic jelang Pilpres 2019, namun dikemas dengan sangat cantik.[]

 

 

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here