Bantah Gunakan Racun Saraf, Suriah Dihujani Rudal

0
62
Landasan Udara Tayfur yang babak belur dihajar rudal/ Amerika Serikat mengatakan tidak bertanggung jawab atas serangan itu/ Foto AFP

Nusantara.news, Damaskus – Kantor berita “Sana” milik pemerintah Suriah melaporkan – sebuah pangkalan udara Tayfur dihujani serangan rudal pada Senin Wage (9/4) dini hari.  Hingga berita ini ditulis tidak jelas siapa yang mesti bertanggung jawab atas serangan rudal itu.

Serangan rudal itu tampak sebagai balasan setelah Suriah diduga menyemprotkan racun saraf di kota Douma yang masih dikuasai pemberontak. Dalam serangan roket yang diduga berisi racun saraf itu setidaknya telah menewaskan 70 orang di Douma – kota terakhir yang dikuasai pemberontak di Ghouta Timur – ungkap tim penyelamat dari organisasi relawan “White Helm”. Namun belum ada verifikasi independent atas laporan itu.

Serangan Siapa?

Suriah tegas menolak tudingan itu – bahkan menyebut serangan kimia itu sebagai “fabrikasi”- sebagaimana jawaban sekutunya, Rusia, yang juga dituduh dengan tudingan semacam itu. Sebaliknya, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyebut Rusia yang mendukung pemerintahan Bashir Al Assad di Suriah “akhirnya harus memikul tanggung jawab” atas dugaan serangan itu.

Peta Suriah

Presiden AS Donald J Trump lewat akun Twitter pada Minggu Pon (8/4) kemarin menyebut Presiden Suriah Bashir Al Assad sebagai “binatang” sekaligus mengingatkan, dirinya bersama sekutu terdekatnya Rusia dan Iran harus membayar dengan “harga besar” atas tragedy itu.

“Banyak yang mati – termasuk perempuan dan anak-anak dalam serangan (senjata) kimia yang tidak ada artinya di Suriah. Area kekejaman mereka di kuncian dan dikelilingi oleh Tentara Suriah, membuatnya benar-benar tidak diakses dunia luar,” tuding Trump di akun Twitter miliknya.

Presiden Trump dan Presiden Perancis Emmanuel Macron mengeluarkan pernyataan bersama dan keduanya berikrar untuk “mengkoordinasikan respon yang kuat secara bersama” untuk serangan senjata kimia yang dituduhkan kepada pemerintahan Bashir Al Assad. Toh demikian para pejabat AS membantah telah menyerang pangkalan udara Tayfur.

“Sekarang ini, Departemen Pertahanan tidak melakukan serangan udara di Suriah,” bantah Pentagon dalam sebuah pernyataan. “Namun kami terus memantau situasi dan mendukung upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk menahan mereka yang menggunakan senjata kimia di Suriah, dan harus bertanggung jawab.”

Kantor berita “Sana” memang menuding AS berada di balik serangan rudal itu. Terlebih sebelumnya pada April 2017 AS pernah memborbardir Suriah dengan 59 rudal jelajah Tomahawk di lapangan udara militer Shayrat Suriah sebagai balasan atas dugaan serangan senjata kimia ke markas pemberontak di Khan Sheikhoun.

Awal tahun 2018 ini Israel juga ikut memborbardir Suriah. Namun militer Israel juga belum berkomentar atas serangan rudal di Tayfur.

Serangan Zat Kimia

Sebagaimana diberitakan sejumlah media internasional, pada Sabtu Pahing (7/4) kemarin lusa tentara Suriah melakukan serangan besar-besaran ke Douma – di wilayah Ghouta Timur. Satu video yang direkam petugas penyelamat dari organisasi “White Helmet” menayangkan sejumlah lelaki, perempuan dan anak-anak terbaring tak bernyawa di dalam rumah, dengan kondisi mulut berbusa.

Sejumlah kelompok medis, pemantau dan aktivis kemanusiaan membenarkan isi video itu. “Tujuh puluh orang mati lemas dan ratusan masih tercekik,” ungkap Raed al-Saleh kepada organisasi kemanusiaan “White Helm”. Sebelumnya lewat tweet – yang sekarang sudah dihapus – disebutkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 150 orang.

Kelompok pendukung oposisi “Ghouta Media Center”memposting di akun Twitter lebih dari 75 orang telah mati lemas – dan 1000 orang lainnya terdampak serangan kimia mematikan, Mereka menuding adanya bom barel yang diduga dijatuhkan oleh helicopter yang memuat zat sarin – sejenis racun saraf – sebagai penyebab kematian.

Tercatat 80 tewas saat serangan zat Sarin di kota Khan Sheikhoun

Union of Medical Relief Organizations – sebuah lembaga amal yang berbasis di AS yang bekerja di sejumlah rumah sakit di Suriah – mengatakan kepada wartawan BBC, sebuah Rumah Sakit Khusus di pedesaan Damaskus telah membenarkan adanya 70 korban meninggal dunia. Bahkan ada laporan – ucap seorang juru bicara – orang yang dirawat mengidap gejala kejang-kejang dan mulut berbusa yang diduga berasal dari gas klorin.

Para relawan kemanusiaan sulit menjangkau wilayah konflik, lanjut sang juru bicara, karena penembakan oleh tentara Suriah masih gencar di sana. Pemerintah Suriah melalui kantor berita “Sana” membantah temuan itu, dan balik menuding laporan itu dibuat oleh pemberontak “Jaish al-Islam” yang masih memegang kendali di Douma.

“Teroris Jaish al-Islam berada dalam kondisi terdesak dan outlet media mereka membuat berita serangan kimia supaya terekspos namun gagal untuk menghalangi gerak maju oleh tentara Arab Suriah,” ulas kantor berita Sana tentang laporan itu.

Namun belum ada lembaga independen yang memverifikasi kebenaran video itu dan jumlah pasti korban yang meninggal dunia. Baik Suriah maupun Rusia menyangkal telah menyemprot zat kimia mematikan yang memang dilarang dalam Konvensi Jenewa. Bahkan pihak Rusia dan Suriah mengklaim telah membuat kesepakatan dengan pemberontak untuk evakuasi warga.

Senin ini juga, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadwalkan akan membahas krisis Suriah.

Ancaman Sanksi

Memang Suriah acap kali dituding menggunakan zat kimia untuk menghabisi sarang-sarang pemberontak yang didukung oleh AS dan Arab Saudi. Sebut saja pada Agustus 2013, roket-roket Suriah yang memuat racun saraf Sarin ditembakkan ke daerah-daerah yang dikuasai oleh pemberontak di Ghouta Timur dan menewaskan ratusan orang.

Sebuah misi PBB membenarkan adanya penggunaan zat Sarin namun tidak menyebutkan siapa pihak yang harus bertanggung-jawab. Negara-negara Barat menyebutkan hanya pasukan pemerintah Suriah yang bisa melakukan serangan itu.

Tercatat juga pada April 2017 ditemukan 80 orang tewas disemprot zat Sarin di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai oleh pemberontak. Dalam penyelidikan PBB dan Organisasi Penegak Larangan Penggunaan Zat Kimia (OPCW) menyebutkan pemerintah Suriah yang mesti bertanggung-jawab atas serangan ini.

Kala itu, sejumlah relawan kemanusiaan, petugas medis, dan pemerintah AS menuding pasukan Suriah menjatuhkan bom yang mengandung gas beracun klorin ke wilayah yang masih dikuasai pemberontak pada awal Januari 2018 lalu.

Korea Utara diduga membantu Suriah dalam pengembangan senjata kimia mematikan. Misi PBB dan UN-OPCW sedang menyelidiki laporan itu. Kemungkinan besar hasil penyelidikan akan diungkap dalam Sidang Dewan Keemanan PBB pada siang ini.

Apabila Suriah terbukti menggunakan zat kimia mematikan tentu akan mendapatkan sanksi dari DK PBB yang hasilnya pasti akan diveto oleh Rusia. Sama seperti sikap AS saat dunia memberikan sanksi kepada Israel. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here