Bareskrim Ungkap Permainan Harga Cabai Dimulai Dari Jawa Timur

0
274

Nusantara.news, Surabaya – Produksi melimpah namun harga tidak kunjung turun, pemerintah pun  menggandeng Bareskrim untuk mengungkapnya. Ternyata  pengepul memainkan harga, ada sembilan pengepul yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, 80% cabai lari ke Perusahaan Sambal.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015, konsumsi  cabai rawit 1,315 kg/kapita, dan diproyeksikan kebutuhan perkapita di tahun 2016 sebesar 1,354 kg/kapita. Dengan penduduk ditahun 2016 mencapai 258,705 juta, maka di tahun 2016 kebutuhan total cabai rawit nasional sebesar 350.184 ton. Untuk tahun 2017 diproyeksi 1,392 kg/kapita , totalnya mencapai 364.570 ton.

Untuk produksi, Susenas memproyeksi  cabai rawit untuk tahun 2016 sebesar 843.998 ton dan ditahun 2017 sebesar 887.260 ton. Dalam Susenas juga dijelaskan produksi cabai itu sebanyak 2% atau 16.880 ton dipastikan hilang, 0,004% atau 34 ton dipakai bibit dan untuk konsumsi perkapita sebesar 350.184 ton dan 417.779 ton untuk kebutuhan industri pengolahan makanan. Bahkan proyeksi Susenas ditahun 2016 terdapat surplus 59.122 ton. Biasanya diekspor ke Singapura dan Arab Saudi. Lantas mengapa ketika kebutuhan dibawah pasokan harga masih menjadi mahal?

Dari produksi itu sebanyak 31,03 % dihasilkan dari Jawa Timur. Tidak mengherankan Bareskrim pun menelusuri permainan harga cabai dari propinsi paling ujung di Pulau Jawa itu. Mengingat daerah Jember, Lumajang, Blitar, Malang dan Sampang menyumbang 65% lebih produksi Jatim atau 20% lebih produksi nasional. “Kami melakukan penyelidikan sampai kepada penyidikan, kita urut dari wilayah Jawa Timur” ujar Kasubdit I Dittipideksus (Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus) Bareskrim Polri, Kombes Pol Hengki Haryadi kepada media, Jumat (03/03/2017)

Mengingat barometer harga itu ada pada Pasar Induk Kramat Jati Jakarta, seharusnya dari sentra-sentra penghasil cabai, barang dibawa ke pasar induk, ternyata tidak semua masuk ke pasar induk hanya sekitar 20% saja. Sebab ada pembeli lain yang siap dengan harga tinggi.

Hasil penyelidikan Bareskrim mengungkap ada permainan harga cabai rawit merah di tingkat pengepul. Para pengepul mengurangi pasokan cabai ke pasar induk dan mengalihkannya ke perusahaan. Alasannya, perusahaan mampu membayar lebih tinggi ketimbang pedagang di pasar induk. Terungkap ada 9 pengepul besar yang ditemukan oleh Bareskrim Polri. Para pengepul ini tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Menurut hasil penyelidikan Bareskrim, pengepul cabai mencari pembeli yang berani membayar mahal, dan itu adalah perusahaan. Tidak mengherankan 80% cabai rawit merah dijual pengepul ke perusahaan. Sedangkan sisanya dikirim ke pasar induk.

Hal seperti ini juga terjadi di pasar induk lainnya, seperti di Pasar Induk Keputran dan Wonokromo, tempat barometer harga di Surabaya. “Posokan cabai rawit merah dari pengepul dalam 2 bulan terakhir mengalami penurunan. Katanya sih ada gangguan cuaca, sehingga tanaman cabai sulit berbuah” kata Bambang, salah seorang pedagang di pasar Keputran.

Lebih jauh ia mengatakan ketika barang masuk ke pasar, pedagang tidak dapat harga pas dari pengepul. ‘’Soalnya di sini ada ‘penguasa’ yang juga mengutip setiap kilonya  Rp 5 ribu. Kami tidak mempermasalahkan sebab kami butuh kenyamanan berjualan, dan kami pun juga ambil Rp 5 ribu. Jadi pindah dari mobil pengangkut ke bidak sampai ke pembeli saja sudah Rp 10 ribu,” ujarnya.

Diborong Perusahaan Saus Sambal

Sementara itu Bareskrim sudah memeriksa tujuh dari sembilan pengepul besar. Tercatat sudah 3 yang ditetapkan sebagai tersangka. “Penyidik kembali menetapkan satu lagi tersangka berinisial R, setelah minggu lalu menetapkan S dan SA, mereka diduga ikut membuat harga bergejolak” kata Direktur Tipideksus Bareskrim Brigjen Pol Agung Setya, Senin (06/03/2017)

Bareskrim sendiri menduga perdagangan cabai ini dikonsinyasi dengan orang yang sama. Bareskrim mensinyalir ada 6 perusahaan di Jakarta yang terlibat, dan masih diperiksa bagaimana keterlibatannya.  Bareskrim belum membeberkan ketujuh perusahaan yang terlibat.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono, mengaku selama safari ke seluruh sentra produksi cabai rawit merah ditemukan produksi yang melimpah dan cukup memenuhi kebutuhan.  “Saya kan sudah keliling  di Pulau Jawa, ke daerah sentra produksi cabai di  Magelang, Temanggung, Blitar, Tuban sampai Banyuwangi,” kata Spudnik,  kepada media Sabtu (04/03/2017)

Menurut Spudnik, karena sudah punya kontrak dengan perusahaan pengolah makanan, sembilan pengepul besar itu mengurangi pasokan cabai rawit merah ke Pasar Induk, termasuk yang berada di wilayah Jabodetabek.  “Yang biasanya memasok ke Pasar Induk, sekarang dapat order dari industri dengan harga Rp 181.000 jadi harganya lebih tinggi,” terang Spudnik.

“Ini kan terlalu aneh. Anomali cuaca selalu dijadikan alasan. Ternyata diorder oleh industri tadi. Biar diselidiki polisi dulu agar tuntas,” tegas Spudnik. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here