Baru 30% UMKM Jatim Terlayani Kredit Perbankan

0
111

Nusantara.news, Surabaya – Untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor mikro Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur terus mendorong agar 6,8 juta pelaku UMKM di Jatim bisa terlayani kredit. Dari total pelaku UMKM yang ada di Jatim, baru sekitar 30% yang bisa mengakses kredit perbankan.

Pelaku UMKM dan koperasi sesunggunya potensial untuk dikembangkan. Posisi kelompok usaha ini penting bagi perekonomian Indonesia mengingat usaha mikro kecil dan menengah serta koperasi (UMKMK) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia saat ini.

Setidaknya tercatat 99% dari 57,54 juta pelaku usaha di Indonesia masuk ke dalam kategori UMKMK.  Bukti pentingnya keberadaan kelompok usaha ini adalah kontribusi yang mereka sebesar 59,08% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap 97,16% tenaga kerja di Tanah Air.

Namun, kelompok usaha ini kerap mengalami kesulitan dalam mengakses kredit perbankan. Sulitnya UMKMK mendapatkan pinjaman dari perbankan sering disebabkan oleh alasan klasik pihak bank bahwa UMKMK tidak memiliki jaminan untuk kredit serta minim pengetahuan mengenai pembukuan usaha atau catatan keuangan, termasuk dalam memproyeksikan profit. Di sisi lain, catatan semacam itu penting untuk memprediksi kemampuan usaha dan menentukan nilai pinjaman.

Kasi Pembiayaan Jasa Keuangan Dinas Koperasi dan UMKM Jatim Sutarto mengatakan, Pemprov Jatim mengalokasikan dana sebesar Rp400 miliar untuk bisa disalurkan ke UMKM. Bunganya maksimal 9% tiap tahun. “Dari jumlah total pelaku UMKM, hampir 90% bermodal rata-rata Rp5 jutaan,” kata Sutarto beberapa waktu lalu.

Sementara itu Dinkop UMKM Jatim mengggandeng koperasi wanita (kopwan) yang jumlahnya mencapai 8.506 kopwan. Sejak tahun 2010, kopwan telah dikucuri dana hibah masing-masing Rp25 juta/kopwan, sebagian kopwan bahkan memperoleh kucuran dana dua kali lipat karena berkinerja baik. Total dana hibah yang berasal dari APBD yang ditujukan kopwan telah mencapai Rp400 miliar.

Namun saat ini Pemprov Jatim telah menghentikan penyaluran dana hibah berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Karena itu, koperasi diupayakan dalam mengakses dana kredit dari bank maupun lembaga-lembaga pembiayaan. “Pelaku UMKM bagi kami sangat penting karena sektor ini yang mampu bertahan ketika ekonomi lagi krisis,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Micro Banking Head Regional VIII PT Bank Mandiri Tbk, Puntuh Wijaya mengatakan, total KUR yang disalurkan bank pelat merah itu secara nasional mencapai  Rp8,7 triliun. Dari jumlah itu, kontribusi Jatim mencapai 15,2%. Total dana yang disalurkan sekitar 65% untuk KUR sektor ritel atau perdagangan, sedangkan 35% untuk sektor mikro.

Besar pinjamannya pada tahap awal, berkisar antara Rp50 juta hingga Rp200 juta. ”Meski penyaluran KUR tinggi, kepatuhan debitur ternyata cukup bagus. Ini terlihat dari rendahnya kredit macet atau non performing loan (NPL) yang hanya 1,2%. Angka ini turun dibanding tahun lalu sebesar 2,6%,” katanya.

Dalam penyaluran KUR, lanjut dia, saat ini Bank Mandiri berupaya menggenjot tiga sektor, yaitu pertanian, perikanan dan peternakan. Untuk perikanan, bank yang berdiri pada 1998 itu akan menyalurkan KUR ke PT Kelola Mina Laut di Kecamatan Brondong, Lamongan.

Menurutnya, komunitas nelayan menjadi bagian penting dalam jaring industri pengolahan ikan, yang merupakan salah satu klaster unggulan pencipta lapangan kerja dan penurunan angka kemiskinan. ”Kami selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran KUR. Sehingga tidak terjadi kredit macet,” ujar Puntuh.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Regional VIII Jawa Timur (Jatim) hingga pertengahan Oktober berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp1,4 triliun dengan lebih dari 29.180 debitur. Jumlah itu naik dibanding tahun 2015 yang total penyalurannya sebesar Rp495 miliar dengan 10.801 debitur.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here