Basofi Sudirman, Jenderal Kebudayaan yang Populis

0
143
Basofi Sudirman Jenderal Kebudayaan yang populis, mantan Gubernur Jawa Timur 1993-1998

Nusantara.news, Surabaya – “Tidak semua laki-laki bersalah padamu. Contohnya aku mau mencintaimu tapi mengapa engkau masih ragu…” Itulah sepenggal syair lagu berirama dangdut yang sering dilantunkan oleh Basofi Sudirman pada tahun 90-an saat menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Namun, lewat lagu ciptaan Leo Waldy itu karir Basofi malah melejit dan mengantarkan dirinya sebagai Gubernur Jawa Timur pada tahun 1993-1998.

Terlahir sebagai anak desa terpencil dan tidak begitu subur tepatnya di Dusun Ngrawuh, Bojonegoro, dari pasangan ayah bernama Soedirman dan ibu Masrikah binti Syakur, 28 Desember 1940. Karir militernya banyak dipengaruhi oleh sang Ayahnya Letjen TNI (Purn.) H. Soedirman yang merupakan tokoh terkenal di Bojonegoro, dan merupakan pahlawan nasional dari Kabupaten Bojonegoro.

“Bapak selalu mengajak saya melihat-lihat kegiatan militer seperti tentara latihan. Saya melihat kebesaran Bapak saya di dunia kemiliteran itu, sehingga otomatis di benak saya nggak ada yang lain kecuali ingin jadi tentara.”

Berkat pengaruh ayahnya, sejak kecil di dalam tubuhnya sudah mengalir darah seorang tentara perjuangan. Maklum, kehidupan tentara yang dikenal dengan disiplin tinggi dan tegas, militan sering dialami Basofi kecil, dan masa revolusi menjadi ujian kehidupan yang harus rela mengungsi dari satu daerah ke daerah yang lain. Bahkan setelah Belanda mengakui kemerdekaan republik Indonesia, ia harus mengalami hidup berpindah tempat untuk mengikuti tugas sang Ayahnya selaku tentara yang harus menjalankan tugas dari pemerintah.

Kota Surabaya punya kenangan tersediri bagi Basofi, mengawali Sekolah Rakyat (SR) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan lulus pada tahun 1960, Basofi melanjutkan ke Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang, Jawa Tengah, yang kemudian diselesaikannya pada tahun 1963. Setelah lulus AMN, karier militernya tergolong lancar, terutama setelah melalui berbagai pengalaman tempur. Pengalaman memimpin pasukan yang pernah dilaluinya adalah Komandan Detasemen Tempur Kopasandha (1971-1972), Komandan Batalyon 412 Brawijaya (1973-1974), Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Kostrad (1981-1983).

Pengalaman teritorial adalah saat menjadi Komandan Kodim 0824/Jember (1977-1978), Asisten Teritorial Kodam IV/Brawijaya (1983-1984), Komandan Korem 083/Baladhika Malang (1984-1986), dan Kasdam Kodam I/Bukit Barisan (1986-1987), sebelum akhirnya ditarik ke Mabes ABRI. Pengalaman lainnya adalah menjadi Dosen Seskoad, tahun 1979-1981. Ia sendiri mengikuti Seskoad pada tahun 1978, dan Seskogab tahun 1979.

Karir politiknya dimulai saat usia 47 tahun setelah memutuskan pensiun dini dengan pangkat Mayor Jenderal TNI karena masuk ke Partai Golongan Karya (Golkar), meski mendapat penolakan dari Ayahnya Letjen TNI H. Soedirman, namun, Basofi berhasil menyakinkan bahwa di Golkar dan di ABRI sama saja. Meski kalah dalam bidang karir militer dengan sanga Ayah, namun Basofi cemerlang dalam karir sipilnya.

Sebelum menjadi Gubernur Jawa Timur, jabatannya adalah Ketua DPD Golkar DKI Jakarta, dan pada tahun 1987 diangkat menjadi wakil gubernur DKI Jakarta Bidang pemerintahan. Itulah jabatan terakhirnya, sampai April 1993, sebelum menjadi Gubernur Jawa Timur.

Sang Jenderal Populis
Semasa hidup menjadi orang pertama di Jawa Timur, Basofi tergolong sebagai sosok pemimpin yang ramah kepada setiap orang dan dekat dengan rakyat yang membuatnya populis di mata publik, tegas dan disegani. Selelau mementingkan masyarakat Jatim daripada kepentingan dirinya sendiri bahkan Partai Golkar yang sudah membesarkannya.

Kehidupan pribadinya tidak pernah jauh dari masyarakat yang disayangainya. Rajin shalat berjamaah bersama warganya, bahkan di tempat masjid sekitar kediamannya di Trenggilis, Surabaya. Tak hanya mengakomodir semua elemen, Basofi juga sangat dekat dengan para seniman di Jawa Timur. Tak segan-segan Basofi juga ikut manggung bersama para seniman, seperti main ketoprak, manggung bersama Srimulat di Taman Ismail Marzuki.

Keramahan dan kesederhanaan pria yang akrab disapa Pak Bhas ini membuat dirinya tidak berjarak dengan rakyat, tak heran jika Ia menjadi tempat berkeluh kesah masyarakat atau betanya masyarakat Jatim, bahkan setelah tidak menjabat Gubernur. Melalui berbagai aktivitasnya Basofi terus memperkuat tolerasi dan pluralisme di Jawa Timur, lewat suara emasnya, senyum dan kesantunannya lebih dari itu pengetahuannya yang luas soal Agama, Politik serta pemerintahaan dan Ekonomi.

Setelah tidak menjabat lagi sebagai gubernur, Basofi tidak terjun di dunia politik. Meski banyak parpol yang mencoba mendekatinya, pria berkacamata ini tidak tergiur untuk masuk ke kancah politik praktis. Basofi mengaku lebih suka menjadi ‘dewan penasihat’ semua partai. Sehingga ide-idenya dapat menjadi masukan banyak pihak.

Sang Jenderal Kebudayaan
Cokro Wibowo Sumarsono Budayawan dan pemimpin Sanggar Glugu Tinatar, Landungsari Malang punya kenangan tersendiri sosok Basofi Sudirman. Menurutnya, Jawa Timur kehilangan sosok pejuang, pemimpin dan seniman yang sudah banyak berkorban demi rakyat yang disayanginya.

Sang Gubernur telah tiada. Meninggalkan beragam kenangan suka duka yang cukup mendalam. Putra pejuang kemerdekaan itu telah meninggalkan kita semua, asal sepi bali marang sepi, kembali ke pangkuan Sang Maha Pencipta. Basofi Sudirman, adalah simbol penyatuan antara ketegasan dan kelembutan sekaligus. Seorang jenderal yang ditempa oleh kerasnya aturan kedisiplinan khas keluarga militer. Di sisi lain jiwa seni Sang Gubernur mengalir deras bak aliran kali Brantas yang membelah propinsi di ujung timur pulau Jawa tersebut.

Lantunan tembang Tidak Semua Laki-Laki selalu mengiringi sambutan dan pidato resmi Sang Gubernur di banyak momentum. Sangat berfungsi guna mencairkan suasana protokoler birokrat yang kerap terjadi pada era kuasa Orde Baru. Basofi Sudirman berhasil mengangkat derajat musik dangdut yang sangat digemari masyarakat pinggiran menjadi konsumsi umum segala lapisan. Mantan Gubernur Jawa Timur ini telah berhasil mengharmonisasikan banyak elemen politik dengan cara menyanyi dangdut bersama para stakeholders.

Warisan Sang Gubernur yang tak kalah penting adalah baju adat khas Basofian. Disebut demikian karena hampir di setiap acara resmi Basofi Sudirman selalu menggunakan pakaian adat yang telah didesain ulang sesuai dengan perkembangan jaman tersebut. Pakaian adat ala Basofian merupakan pakaian hasil kreasi baru yang menggabungkan beberapa unsur pakaian adat asli Jawa Timuran.

Baju hitam mewakili unsur Islam Kejawen, yang banyak dianut oleh masyarakat Jatim di pedalaman, pegunungan dan pesisir selatan. Kain jarit bermotif khas pesisiran mewakili unsur tradisi pakaian adat pesisir utara Jawa Timur. Blangkon khas Suroboyoan mewakili unsur budaya subkultur Madura, Jenggala dan Pendalungan.

Rantai jam di saku merupakan simbol persatuan segenap subkultur yang mendiami wilayah Jawa Timur. Jam adalah simbolisasi dari prinsip kerja keras, kerja cerdas dan kerja cepat ala Brang Wetanan. Sebuah penanda bagi pemakainya yang selalu menghargai waktu, seperti yang tergambar dalam motif ikonik relief Kala di candi-candi Jawa Timuran. Bentuk jam yang bundar mengingatkan akan prinsip Cakramanggilingan khas tradisi Jawa.

Lengan panjang dan kerah pendek mewakili unsur pesantren yang biasa menggunakan pakaian koko, menunjukkan spirit religiusitas yang senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat di propinsi ini. Kancing baju besar-besar di tengah dada menunjukkan sikap terbuka dan lambang keperwiraan. Mengingatkan kita kepada jargon politik Bung Karno dalam menghadapi bangsa penjajah “ini dadaku, mana dadamu !”.

Pakaian yang praktis dan tidak ribet menggambarkan karakter JawaTimuran yang tidak mbulet, selalu berbicara pada inti pokok permasalahan yang ada. Selop adalah model sandal semi sepatu yang mencirikan ketrengginasan orang lapangan, pantas dipakai di acara seremonial ataupun acara santai. Termasuk memudahkan pemakainya jika akan sembahyang di Masjid.

Baju adat Basofian sangat populer di kalangan seniman tradisi. Dipakai oleh dalang, pengrawit, wiraswara, pemain ludruk, pembawa acara (MC), ponang pinanganten kakung (pengantin pria), spiritualis, hingga para pemain hadrah. Sangat pantas dipakai dalam segala situasi seremonial mulai tingkat kampung hingga acara protokoler kenegaraan. Serta sangat layak digunakan oleh para lelaki di semua jenjang umur dan strata sosial.

Baju adat Basofian meleburkan basis massa abangan dan santri dalam satu kesatuan budaya. Baju adat Basofian adalah perlawanan kultural terhadap tesis Clifford Gertz yang membelah pulau Jawa dalam kategorisasi Abangan, Priyayi dan Santri. Baju adat Basofian adalah wujud kecerdasan wong Jawa Timur yang cinta akan persatuan serta tidak mau dibenturkan dengan saudara sendiri se petarangan.

Baju adat Basofian merupakan bukti lapangan bahwa rakyat Jawa Timur bisa menjadi model percontohan persatuan nasional. Baju adat tersebut dipopulerkan oleh Basofi Sudirman mantan Gubernur Jawa Timur. Baju ini merupakan gabungan bentuk dari beskap, surjan, baju koko dan blazer sekaligus. Cara cerdas dalam menangkap kemajuan jaman.

Selamat jalan Jenderal lapangan, kangen laku blusukan nir pencitraanmu. Tetesan airmata sebagai tanda dukacita mendalam para pelaku budaya atas kepergianmu Sang Jenderal Kebudayaan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here