Batal Aksi, Sopir Angkot Bertemu Gubernur Jatim Malam Ini

0
115

Nusantara.news, Surabaya – Rencana aksi ratusan sopir angkutan kota dan taksi konvensional di Surabaya terkait semakin maraknya angkutan taksi dan ojek online, seperti yang direncanakan sebelumnya ternyata tidak terjadi. Pantauan Nusantara.news siang tadi di sejumlah titik di Surabaya, kendaraan angkutan umum beroperasi seperti biasa, Senin (20/3).

Di Terminal Joyoboyo misalnya, angkutan kota dari berbagai jurusan tetap beroperasi menaikkan dan menurunkan penumpang seperti biasa. Mereka, para sopir taksi tetap beraktivitas, termasuk mengantri di sejumlah tempat menurunkan dan menunggu penumpang. Kabar yang beredar telah ada kesepakatan semua pihak untuk meredam rencana aksi sopir angkutan umum. Dan, kabarnya, malam ini akan dilakukan pertemuan antara perwakilan sopir angkutan kota dengan Gubernur Jawa Timur.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Mohammad Iqbal menuturkan, awalnya para pekerja dari sopir angkutan kota akan melakukan aksi turun ke jalan menyampaikan aspirasinya, Senin (20/3/2017).

“Kami sudah bertemu dengan pengurus organisasi transportasi di Surabaya, Jumat kemarin. Mereka sepakat membatalkan untuk turun ke jalan dalam penyampaian pendapat umum, dan dialihkan dengan tatap muka dengan Pak Gubernur Soekarwo,” jelas Iqbal.

Rencananya, perwakilan pekerja angkutan bakal datang ke Grahadi dengan mengendarai 50 angkot. Mulai keberangkatan hingga pulang, polisi akan memberi fasilitas pengawalan, untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Sebelumnya Ketua Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Surabaya, Subekti, menyebut para sopir angkutan kota di Surabaya berencana menggelar aksi, itu dilakukan di depan Kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan atau di depan Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo. Mereka mengajukan protes terkait keberadaan taksi online yang dinilai semakin liar, dan mempersempit keberadaan angkutan konvensional. Aspirasi tersebut ditujukan kepada Gubernur Jawa Timur, dan mendesak untuk mengeluarkan aturan terkait keberadaan taksi dan ojek online di Surabaya.

“Tidak ada seruan untuk aksi, jadi kita tetap melakukan aktifitas seperti biasa,” kata Suhari di Terminal Joyoboyo.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Wahid Wahyudi mengatakan kehadiran taksi berbasis aplikasi online memang tidak bisa dipungkiri, dan memberikan kemudahan pelayanan, namun idealnya memang harus dibatasi.  “Nanti akan dibatasi, yang saat ini liar tidak terkendali,” kata Wahid.

Namun, hingga kini belum ada rincian pasti model pembatasannya seperti apa untuk taksi online. Apakah per penduduk atau per jumlah penumpang yang selama ini melakukan transaksi melalui aplikasi.

Saat ini ada ribuan taksi online beroperasi di Surabaya. Meski begitu, Dinas Perhubungan Jawa Timur dan pihak terkait serta kepolisian belum melakukan penindakan.

“Siapa pun harus bisa menerima kemajuan teknologi. Namun, karena memberikan pelayanan kepada masyarakat umum, maka harus diatur oleh pemerintah. Pemerintah harus mengawasi termasuk juga membatasi,” tegasnya.

Terkait itu SPTI meminta keberadaan taksi online dilakukan pembatasan, mengacu Peraturan Menteri Perhubungan No 32 Tahun 2016, tentang angkutan orang menggunakan kendaraan umum tidak dalam trayek. Kemudian juga meminta Pemerintah Kota Surabaya tidak gegabah mengeluarkan aturan untuk keberadaan badan usaha bagi pengelola angkutan konvensional, karena dinilai memberatkan.

Sementara, Kepala Bidang Angkutan dan Keselamatan Jalan Dinas Perhubungan Jawa Timur Isa Ansori, pernah menyebut akan menggelar razia gabungan.

Namun hingga saat ini belum dilakukan, hingga memincu sopir angkutan kota dan taksi berencana menggelar aksi.

Seperti yang pernah disebutkan, banyak 300 perwakilan sopir angkutan kota di Surabaya akan menggelar aksi, meminta Gubernur Jawa Timur Soekarwo memberlakukan aturan tegas atas keberadaan taksi online yang marak beraktifitas di Kota Surabaya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here