Batik ”Laras” Lestarikan Warisan Luhur Nusantara

0
101
Batik Laras dipamerkan di Surabaya.

Nusantara.news, Surabaya – Banyak cara menjaga dan melestarikan warisan dan budaya Nusantara. Salah satunya dilakukan oleh para pembatik asal Jawa Timur. Mereka, ke sepuluh pembatik dari Surabaya, Madiun dan Ponorogo itu sengaja berkumpul menyuarakan kembali budaya luhur bangsa Indonesia, salah satunya adalah kreasi batik. Kali ini, mereka mengusung tema ‘Harmonisasi Ragam Corak dan Warna’.

Kreatifitas yang mereka lakukan itu berangkat dari keinginan untuk saling berbagi tentang perkembangan batik lukis di masing-masing kota di Jawa Timur, mereka tergabung dalam Komunitas Batik Lukis Jawa Timur. Karyanya sengaja disuguhkan untuk masyarakat dengan gelaran bertajuk “Laras” diselenggarakan di Galeri House of Sampoerna mulai tanggal 7 hingga 29 April 2017.

“Tema Laras atau Selaras dipilih sebagai penyatuan presepsi dalam seni, sehingga terwujud kolaborasi estetika dalam berkarya. Ragam latar belakang dari masing-masing pembatik berpengaruh pada terciptanya berbagai karya indah kaya akan motif, karakter khas dari tiap pembatik,” ujar Rani Anggraini, Manager Museum & Marketing House of Sampoerna.

Kesemuanya dikemas secara apik berupa 30 karya batik lukis oleh Basuki Ratna K, Firman Batik Teyeng, Guntur Sasono, Heru Susanto, Imam Subandi, Pengky Gunawan, Prima Amri, Suharwedi, Tjiplies Pudji Lestari dan Yudi. Tidak seperti umumnya batik konvensional, pengerjaan karya batik lukis yang dipamerkan mengeksplorasi media yang beragam serta teknik membatik kontemporer yang berbeda-beda.

Batik karya Tjiplies Pudji Lestari misalnya, alih alih melakukan proses pencelupan selayaknya proses pewarnaan pada batik konvensional, pembatik asal Surabaya ini menggunakan kuas untuk menoreh warna-warna anggun pada motif-motif floral di atas kain sutra. Proses lorot yang diaplikasikan pun tidak selamanya mengikuti metode konvensional. Tjiplies memanfaatkan panas dari setrika sebagai alternatif cara melorotkan malam, yakni dengan menggunakan alas kertas koran di atas kain sutra bermalam sebelum disetrika.

Lain halnya dengan Firman, Batik Teyeng yang mengeksplorasi motif batik dengan menggunakan kain dan alat yang telah terpengaruh proses oksidasi. Ia memanfaatkan besi berkarat dan menempelkannya pada kain mori basah agar tercetak bentuk abstrak karat pada kain sehingga menciptakan motif unik dan segar. Proses oksidasi yang tidak dapat diprediksi hasilnya justru menjadi tantangan tersendiri yang menarik untuk dieksplorasi seluas-luasnya dan memunculkan aksen tabrak warna pada pola yang digambar nantinya.

“Ini adalah kekayaan budaya membatik bangsa kita, harus di lestarikan, karena tidak kalah dengan batik luar negeri,” kata Firman.

Komunitas Batik Lukis Jawa Timur menggelar pameran perdana di House of Sampoerna (HoS) dengan tiga orang anggota Guntur Sasono alias siGun, Nusa Amin, dan Prima Amri. Sejak berpameran di House of Sampoerna, komunitas ini berkembang dengan jumlah anggota saat ini lebih dari sepuluh orang.

“Dengan terselenggaranya pameran batik lukis untuk kedua kalinya ini, diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat akan ragam batik yang tidak hanya melulu dimanfaatkan untuk kebutuhan sandang, namun juga dipergunakan sebagai sarana mengekspresikan diri akan kecintaan terhadap nilai-nilai seni dan tradisi bangsa Indonesia sendiri,” pungkas Rani.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here