Batik, Simbol Toleransi dan Keberagaman

0
149
Peringatan Hari Batik Nasional di depan Balaikota Malang (Sumber: Miski)

Nusantara.news, Kota Malang – Batik adalah kekayaan Indonesia, sebagaimana ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). Keputusan pengakuan dari PBB itu turun pada tahun 2009, yang kemudian disusul dengan segera dikuatkan dengan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik Nasional, yang kemudian diperingati secara serempak di seluruh penjuru daerah Indonesia pada tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

 

Dalam lansiran informasi yang didapat, Batik sudah secara resmi mendapat pengakuan bahwa Batik dari Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Indonesia pun menjadi pelopor gerakan budaya Batik di dunia dengan ratusan bahkan ribuan jenis batik di Indonesia.

Batik berhasil diakui dan dikenal dikancah dunia internasional sebagai warisan budaya asli Indonesia, di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dimana tengah terjadi ketegangan dengan Malaysia yang mengklaim batik berasal dari negerinya. Dengan segera pemerintahan Indonesia mengajukan pengakuan ke PBB.

Batik sempat ditinggalkan oleh kalangan muda, karena tergerus oleh mode busana yang datang ke indonesia melalui globaliasi, gejala westernisasi, koreanisasi, arabisasi dalam konteks budaya semakin menggeserkan budaya tradisional bangsa yang harusnya menjadi identitas masyarakat Indonesia.

Kalangan muda yang teracuni budaya luar melalui film dan trend anak muda, berpikiran bahwa budaya dan tradisi Indonesia kuno salah staunya adalah Batik yang tergeser dengan mode pakaian paris, barat, korea, arab dan lain sebagainya. Namun, saat ini batik telah menjadi bagian sehari-hari kehidupan masyarakat Indonesia. Modelnya juga sudah beragam dan mengikuti tren fashion kekinian.

Jika dulu warna batik hanya identik dengan coklat dan hitam, kini berbagai kombinasi warna-warna lain seperti ungu, merah, hijau hingga kuning, sudah dapat dengan mudah ditemui. Tidak hanya warna namun model pun juga sudah sangat inovatif dan beragam.

Hal tersebut dilakukan agar identitas batik tetap melekat di masyarakat indonesia seiring budaya arus global yang juga sangat deras melanda setiap wilayah dan negara.

Di Kota Malang, Hari Batik Nasional diperingati oleh gelaran fashion show dan juga pertunjukan seni berbagai daerah. Gelaran tersebut diselenggarakan di depan halaman Balaikota Malang, Senin (2/9/2017).

Gelaran tersebut dihadiri oleh pejabat-pejabat dan juga pimpinan daerah Kota Malang. Selain itu, nampak Rieke Diah Pitaloka Anggota DPR RI Komisi VI dan Ridwan Hisjam Anggota DPR RI Komisi X. Nampak juga ratusan mahasiswa di Kota Malang terutama IKIP Budi Utomo yang secara institusi turut datang membawa karangan bunga.

Gelaran Hari Baik Nasional di Kota Malang kali ini mengusung tema Batik sebagai simbol toleransi dengan sesama manusia, guna berkehidupan damai sejahtera di masyarakat. Tema tersebut diangkat dengan latar belakang fenomena kekerasan dan konflik horizontal yang marak di Indonesia akhir-akhir ini.

Pada Hari Batik Nasional di Kota Malang mendelkarasikan bahwa Batik merupakan simbol toleransi. Di Indonesia negara kepulauan memiliki kerajinan kain baik tulis atau anyaman dengan motif hal tersebut yang disebut dengan batik.

Fashin Show Hari Batik Nasional di Kota Malang, Batik World Tolerance (Sumber: Andi Hartik)

Setiap daerah baik kabupaten maupun kota memiliki kerajinan batik. Misalnya, Batik Malangan yang memiliki berbagai motif dan jenis dari Kota dan Kabupaten Malang. Juga Batik Celaket dan Batik Druju dari kedua tersebut memiliki ragam dan motif yang cukup banyak.

Keragaman batik di Indonesia tersebut menjadi potret akan masyarakat Indonesia yang juga memiliki keragaman baik adat, suku, ras, agama dan lain sebagainya.

Rieke Diah Pitaloka mengatakan, batik memiliki banyak jenis dan motif yang berpadu menjadi harmoni. Hal itu selaras dengan makna toleransi, yakni memadukan perbedaan dan menjadikannya indah.

“Kita bisa mengorganisasi banyak anak muda lintas organisasi, juga dari berbagai agama, suku, ras dan golongan juga para pimpinan agama untuk sama – sama bahwa tanggal 2 Oktober itu bukan hanya sebagai hari batik, tetapi batik sebagai simbol toleransi dunia,” pungkasnya.

Karena di dalam batik ada kedalaman dan penghayatan bagaimana warna-warna atau perbedaan dapat berharmoni menjadi satu kesatuan batik Indonesia. Tidak sekedar itu, setiap daerah yang memiliki motif batik khas dan berbeda-beda motif menunjukkan keragaman yang tersimpan di Indonesia. Batik itu berkembang dengan motifnya masing – masing dan menjadi penghidupan bagi warganya.

“Setiap daerah di Indonesia memiliki batik yang itu tidak perlu berantem dengan coraknya masing – masing dan memberikan kehidupan ekonomi bagi banyak orang,” sebutnya.

Sementara itu, Hanan Jalil penganggas Batik Celaket mengungkapkan pandangannya terkait peryaan Hari Batik Nasional di Kota Malang tersebut “Hari ini tidak hanya diperingati hari batik saja namun hari toleransi bangsa dan hari anti kekerasan dunia, dimana kami penghayat batik akan mendeklarasikan bahwa simbol batik sebagai simbol toleransi bangsa,” tegasnya

Dari keberagaman batik itulah yang kemudian mencitrakan masyarakat Indonesia yang beragam, dan dari keberagaman tersebut sudah seharisnya menjadi identitas masyarakat Indonesia. Batik yang beragam dapat menjadi perhatian yang beragam, masyarakat Indonesia yang juga beragam harusnya juga bisa menjadi satu kekuatan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here