Beban Utang Membengkak, Bisa Bawa Garuda Crash Landing

0
127
PT Garuda Indonesia Tbk sedang menghadapi turbulensi ekonomi, kinerjanya terpuruk dan utangnya membengkak

Nusantara.news, Jakarta – Kalau saja Robby Djohan (alm) masih hidup, mungkin dia akan menangisi PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) hari ini. Betapa tidak, Garuda dililit utang besar, sehingga hasil restrukturisasi dimasa Robby Djohan selesai masa turning point-nya.

Banyak orang tahu, Robbylah yang merestrukturisasi Garuda yang dulu seperti sampah, karena terus-terusan merugi, dan menyulapnya menjadi BUMN penerbangan yang berkilau. Sejak ditangani Robby hingga periode Emirsyah Satar, Garuda selalu mencatat kinerja yang bersinar.

Begitu memasuki kepemimpinan Arif Wibowo, Garuda langsung menderita kerugian hingga Rp1,31 triliun.

Sejak itu Garuda benar-benar memasuki periode paling sulit sepanjang sejarahnya. Betapa tidak, di tengah maraknya industri penerbangan di dalam negeri, Garuda justru harus meratapi nasib membukukan rugi bersih US$98,5 juta atau ekuivalen Rp1,31 triliun (dengan kurs Rp13.300) pada kuartal I/2017.

Pada tahun 2016, Garuda memang membukukan laba bersih sebesar Rp124,5 miliar atau US$9,36 juta. namun,m laba tersebut turun 88% dibandingkan laba bersih tahun lalu yang senilai Rp1,03 triliun atau US$78 juta.

Hal itulah yang membuat Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo mengganti Dirut Garuda Arif Wibowo dengan Pahala N. Mansury pada RUPS beberapa waktu lalu. Rini merasa kepemimpinan Arif Wibowo belum maksimal dalam berkompetisi baik di lingkup nasional, apalagi global.

Harus diakui, memburuknya Garuda terjadi di ujung masa kepemimpinan Dirut Emirsyah Satar, kondisinya semakin parah di masa Arif Wibowo.

Sebenarnya, fenomena kerugian industri airline, tak hanya monopoli Garuda. Cathay Pacific pada 2017 menderita rugi bersih sebesar US$74 juta, sehingga harus merumahkan 600 karyawan dan 400 karyawan non manajerial.

Sementara Singapore Airline (SQ) dilaporkan mengalami penurunan laba bersih hingga 70% pada 2016 menjadi US$65 juta dari US$214 juta pada periode yang sama. Namun pada kuartal I/2017, SQ sudah membukukan rugi bersih sebesar US$126,4 juta dibandingkan laba bersih US$234 juta yang dibukukannya pada periode yang sama tahun lalu.

Kabarnya SQ belum merumahkan karyawan, namun tak menutup kemungkinan jika kondisi makin memburuk dengan sangat terpaksa langkah rasionalisasi karyawan.

Bahkan Malaysia Airline sudah lebih dulu tutup, selain karena mengalami kerugian besar juga karena adanya ‘sabotase’ dua kali pesawatnya mengalami kecelakaan tragis.

Akankah Garuda crash landing…?

Kenaikan Avtur

Dirut Garuda Pahala N. Mansury mengatakan, kerugian bersih tersebut terutama disebabkan kenaikan harga bahan bakar avtur. Dalam setahun terakhir, biaya bahan bakar naik 54$ dari US$189,8 juta menjadi US$292,3 juta.

Kenaikan biaya bahan bakar tersebut secara signifikan membuat total biaya operasional meningkat 21,3% dari US$840,1 juta menjadi US$1,01 miliar. Sementara penerimaan Garuda yang hanya naik 6,2% dari US$856 juta menjadi US$909,5 juta, tak mampu mengkompensasi tingginya biaya.

“Biaya bahan bakar ini kan komposisinya 20% hingga 30% dari total biaya operasional,” demikian ungkap Pahala.

Selain karena harga avtur, mantan Direktur Bank Mandiri itu juga mengakui beberapa rute penerbangan baik domestik maupun mancanegara mengalami kerugian. Setidaknya ada 10-20 rute dalam daftar yang tengah dikaji oleh pihak maskapai mengenai keberlanjutannya.

“Kami belum memutuskan melakukan penghilangan rute. Kami mesti cari solusinya apa. Dalam satu-dua minggu ini akan kami eksekusi,” tutur Pahala. Akankah Garuda bertahan? Atau tergilas zaman, crash landing? Terperangkap pendaratan yang tak mulus?

Solusi ke depan

Untuk mengatasi Garuda dari rugi yang terus membesar, Pahala mengatakan, ke depan Garuda akan melakukan berbagai upaya efisiensi untuk menekan kerugian. Akan tetapi, dikarenakan bahan bakar merupakan biaya yang di luar kendali, maka efisiensi tidak hanya dilakukan dari sisi operasional.

“Anak usaha kami, Citilink, juga bisa menjadi sumber kami memperoleh laba. Selain memperbaiki kinerja dari sisi cost, kami juga melakukan optimalisasi serta memperbaiki produk,” ucap Pahala.

Pahala memperkirakan kinerja di kuartal II, kemungkinan besar belum akan membukukan laba bersih. Minimal, rugi bersih turun secara bertahap hingga enam bulan ke depan.

Sebenarnya kerugian yang dialami Garuda, tidak murni karena faktor operasional, melainkan karena faktor utang yang diakibatkan ambisi menggebu bermain di pasar global.

Adalah mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli yang menilai kerugian yang dihadapi oleh maskapai Garuda Indonesia seharusnya bisa diatasi dengan beberapa langkah strategis. Misalnya dengan menjual pesawat jenis Airbus A350 yang memiliki ukuran cukup besar yang dianggap tidak ekonomis.

Kemudian uang hasil penjualan itu digunakan untuk membeli pesawat jenis yang lebih kecil seperti A320 dan A330. Kalau langkah itu lakukan, Garuda masih ada ruang untuk bangkit.

Rizal menjelaskan penggunaan pesawat Airbus A350 tidak ekonomis bagi Garuda. Pesawat jenis ini memang cocok untuk rute luar negeri jarak jauh. Tetapi sayangnya, Rizal menilai mayoritas rute jarak jauh Garuda tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan.

“Untuk long rute itu jagoannya Singapore Airlines. Kalau New York Air dulu sempat coba tapi bangkrut kalah sama Qatar Airline,” jelas dia.

Untuk itu, Rizal menyarankan agar Garuda fokus terlebih dulu untuk mengembangkan rute-rute lokal dan regional, terutama di kawasan Asia Pasifik. Baru setelah itu mulai merambah ke rute jarak jauh.

langkah lain melakukan reschedule pembelian-pembelian yang tidak perlu, atau dibatalkan, atau dijual. Kita fokus hanya untuk mendapatkan pendapatan di domestik dan regional. “Analisa rute-rute lokal yang paling ramai misalnya Jakarta-Surabaya, atau Jakarta-Medan,” ujarnya.

Sebenarnya saat menjadi Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal sudah mengingatkan Menteri Perhubungan agar menghentikan Garuda memborong pesawat berbadan besar. Karena di samping risiko internasional masih tinggi, rute jarak jauh juga belum terlalu menguntungkan.

Apa yang terjadi saat ini tak lebih dari, sikap ‘kuwalat’ Garuda cq Menteri Perhubungan yang memaksakan kehendak memborong 90 pesawat Boeing senilai Rp266 triliun. Padahal Rizal Ramli sudah mengingatkan bahayanya.

Apa yang terjadi saat ini harus membuat manajemen Garuda sadar, bahwa ada sequence yang dilewati, yaitu memperkuat jaringan nasional dan regional. Setelah mapan baru merambah ke pasar global. Lompatan langsung bermain di kancah global, justru memperlemah daya saing Garuda.

Selain itu Garuda juga perlu mengembangkan model bisnis seperti yang dilakoni Lion Air dan Air Asia. Kedua Airline ini mengejar pangsa ritel low cost carier, penerbangan berbiaya murah, namun ada kepastian penumpang.

Walaupun Garuda sudah memiliki Citilink, namun rute-rute lokal dan regional masih banyak yang belum disentuh dan belum dirajai. Itu sebabnya konsep bisnis ritel ini tak ada salahnya dilakoni dan bahkan dijadikan core business baru. Karena disanalah uang bertaburan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here