Beda dengan Daerah Lain, Pilgub Jatim adalah Pertarungan Dua Gajah

0
171
Budi Wiyoto, Peneliti SSC dan Dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Unitomo Surabaya, "Pilgub Jatim Pertarungan Dua Gajah" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur yang dijadwal dilaksanakan 27 Juni 2018, masih didominasi dan diramaikan munculnya duet pasangan dua nama, Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa. Dan, pelengkap atau penyedap aromanya, pada masing-masing nama juga menggandeng dua nama muda yang diartikan sebagai magnet penggaet pemilih muda atau milenial untuk mendulang suara menuju pemenangan.

Dominasi dua nama ‘besar’ itu, oleh kelompok peneliti dari Surabaya Survey Centre (SSC) disebutnya dengan istilah “Pilgub Jatim Pertarungan Dua Gajah”. Apakah, pertarungan yang dimaksud adalah rebutan menang antar dua tokoh besar Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk ‘menguasai’ kemenangan di Jatim, selanjutkan guna menentukan langkah di Pilpres 2019, bisa jadi.

“Kita mengartikan di Pilgub Jatim 2018, adalah ‘Pertarungan Dua Gajah’ karena masing-masing punya kans yang kuat di basis massa masing-masing,” ujar Budi Wiyoto, peneliti senior SSC yang juga dosen Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, saat penyampaian hasil survei SSC di Hotel Yello Surabaya, Rabu (13/12/2017), kemarin.

Untuk diketahui, pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas (Gus Ipul-Anas) diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai pengusung meyakini jagonya akan unggul di sejumlah wilayah. Jatim yang diklaim sebagai ‘basis merah’ notabene sebagai kekuatan PDIP akan mudah ditaklukkan untuk mengantar pasangan itu meraih kemenangan.

Baca Juga: Khofifah Paling Populer di Jatim, Gus Ipul Lewat

Penegasan itu dilontarkan oleh Ketua Tim Pemenangan pasangan Gus Ipul-Anas, Hikmah dan Sri Untari, usai pengukuhan tim pemenangan di Hotel Majapahit, beberapa waktu lalu. Mereka mengklaim telah bekerja dan terus merancang kerja tim hingga ke tingkat kelurahan/desa, sebagian tim lainnya telah bekerja.

“Dua partai besar yang saat ini bergabung, PKB dan PDIP, tentu tidak mudah. Namun saya dan Bu Untari karena sudah lama bersahabat sehingga kami yakin akan bisa bekerja bareng untuk solidkan kekuatan PKB, PDIP dan para relawan demi kemenangan Gus Ipul-Anas,” kata Hikmah.

Dia menambahkan, sambil menunggu pembentukan tim di tingkat kelurahan/desa, untuk tim pemenangan tingkat provinsi langsung bekerja.

“Dua Gajah” Berebut Menang di Pilgub Jatim 2018, langkah awal menuju Pilpres 2019

Sementara, untuk pasangan Khofifah Indar Partawansa-Emil Elistianto Dardak (Khofifah-Emil), diusung Partai Golkar, Partai NasDem, Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN), meski tak terdengar gerak dan manuvernya, dipastikan kumpulan partai kuat itu akan lebih bertenaga dibanding dua partai yang di pasangan rivalnya.

Soal peta itu, peneliti SSC memprediksi meski kedua kubu resmi mendapat dukungan dari DPP untuk maju di Pilgub Jatim 2018. Mereka menyebut, di level daerah bentuk dukungan yang telah diberikan DPP akan bisa berbalik arah. Dikatakan, temuan itu didapat dari hasil survei oleh SSC, yang digelar antara 25 November hingga 8 Desember 2017, di 38 kabupaten/kota di Jatim. Menggunakan metode multistage random sampling dengan mengangkat pendapat 940 responden. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error 3.2 persen.

“PKB misalnya, meskipun sejak awal DPP PKB dan DPW PKB Jatim menyatakan sudah final mendukung Gus Ipul, namun di lapangan kondisi pilihan para kader masih terbelah. Hanya 41.2 persen responden yang menyatakan bakal mematuhi arahan DPP dan mendukung pasangan Gus Ipul-Anas. Sementara, 34.7 persen lainnya menjatuhkan pilihan ke pasangan Khofifah-Emil. Dan, 24.1 persen sisanya memilih untuk tidak menjawab atau menjawab tidak tahu,” terang Budi Wiyoto.

Baca Juga: Mayoritas Publik Jatim Ingin Ada Poros Tengah

Kondisi serupa juga dialami oleh Partai Nasdem. Ketum Partai Nasdem Surya Paloh yang notabene menjadi pendukung utama Khofifah, disebutkan oleh Budi belum sejalan dengan kader partainya di akar rumput.

“Pasalnya, hanya 26.9 persen yang setuju dengan Surya Paloh untuk kemudian memilih Khofifah-Emil. Sedangkan 50 persen lainnya tidak menjawab atau menjawab tidak tahu. Sementara, 23.1 persen sisanya memilih untuk mendukung pasangan Gus Ipul-Anas,” sambungnya.

“Gus Ipul – Khofifah, Siapa Layak Duduk di Kursi Jatim Satu”

Belum Tentukan Pilihan, Kemana Dukungan Partai Gerindra?

Bagaimana dengan sebaran dukungan dari kader partai yang disebut sebagai partai inisiator poros tengah, yakni Partai Gerindra? SSC menyebut sebaran dukungan dari partai berlambang Burung Garuda itu dikatakan merata. Partai Gerindra dukungan kadernya juga masih terbelah, ke Gus Ipul-Anas dan juga ke pasangan Khofifah-Emil.

“Dari data yang didapat SSC, ada 41.2 persen responden mengaku akan menyerahkan pilihan kepada Gus Ipul-Anas. Sementara 44.1 persen lainnya lebih sreg akan memilih pasangan Khofifah-Emil,” terangnya.

Elite Parpol Pusat Harus Sentuh Akar Rumput di Jatim

Perbedaan arah dukungan antara yang diputuskan DPP dengan akar rumput, menurut Budi Wiyoto merupakan fenomena yang lumrah terjadi di kalangan pemilih termasuk di Pilgub Jatim 2018, mendatang. Menurutnya, para elite parpol tidak boleh berbangga dulu atau cepat puas dengan sejumlah strategi politik yang dijalankan menghadapi pemilihan gubernur Jatim.

“Karena begini, Jatim itu berbeda dengan-daerah lain. Apa yang menjadi keputusan di pusat, itu bisa sangat berbeda dengan pilihan yang diambil di akar rumput. Karena Jatim ini sangat cultural. Ketimbang dengan elite parpol di pusat, mereka lebih memilih untuk mendengar saran para tokoh masyarakat yang dekat dengan mereka dalam kehidupan sehari-harinya,” terangnya.

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri

Oleh karenanya, Budi memberikan saran agar elite parpol di level pusat mampu membangun pola komunikasi politik yang cultural kepada akar rumput di Jawa Timur.

“Kalau tidak mau, ya susah mereka menang. Ini ujian bagi para elite parpol level pusat. Kalau ingin menang di Jawa Timur, komunikasi dan konsolidasi yang bersifat cultural serta menyentuh akar rumput itu harus dilaksanakan,” tegasnya, sambil kembali menegaskan, kalau data yang didapat adalah hasil survei SSC di 38 kabupaten/kota, dilakukan 25 November hingga 8 Desember 2017.

Soekarwo Tolak Jadi Jurkam, Kenapa?

Sementara, Gubernur Jatim Soekarwo memastikan diri tidak akan menjadi juru kampanye bagi pasangan Khofifah-Emil, meski pasangan itu diusung oleh Partai Demokrat, yang notabene kekuatan Partai Demokrat di Jatim ada di tangan Soekarwo yang menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jatim.

Bagaimana persepsi publik tentang sikap Pakde Karwo tersebut? Menurut Edy Marzuki, Dosen Universitas Yudharta Pasuruan, keputusan yang diambil Pakde Karwo sapaan Soekarwo, adalah keputusan yang tepat.

Baca Juga: Tugas Berat La Nyalla

Edy menguraikan, dari hasil survei SSC ada perbedaan pendapat yang cukup signifikan. Data yang didapat, 36.3 persen responden mengapresiasi sikap Pakde Karwo untuk tidak menjadi juru kampanye, adalah sikap tepat. Sementara, 30.5 persen lainnya memandang sikap Pakde Karwo merupakan sikap yang baik. Dan, 33.2 persen sisanya memilih tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.

Soal itu, Direktur Riset SSC Edy Marzuki menyebut sikap yang diambil Pakde Karwo merupakan bentuk sikap negarawan. Menurutnya, langkah tersebut juga merupakan pilihan yang sangat bijak.

“Kenapa demikian? Karena posisi Pakde Karwo ini sangat sulit. Di satu sisi, partainya memberikan dukungan kepada pasangan Khofifah-Emil, dan mendapat dukungan langsung dari Susilo Bambang Yudhoyono. Di sisi lain, Pakde Karwo juga sudah berteman lama dengan Gus Ipul, selain Gus Ipul dua periode mendapingi sebagai wakil gubernur. Saya memandang sikap Pakde Karwo adalah win-win solution,” kata Edy.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono

Pemilih Liar PR Bersama Lintas Sektor

Masih menurut hasil survei SSC, di Pilgub Jatim nanti jumlah pemilih liar diprediksi prosentasenya masih sangat tinggi. Pemilih liar diartikan sebagai jumlah total dari prosentase swing voters dan undecided voters.

Jumlah swing voters dari hasil survei angkanya 27.6 persen. Sementara, jumlah undecided voters mencapai 29.9 persen. Jika dijumlahkan, maka pemilih liar dari hasil survei responden mencapai 57.5 persen atau lebih dari setengah jumlah responden.

Peneliti Senior SSC Surokim Abdussalam, menilai tingginya jumlah pemilih liar di Pilgub Jatim tahun mendatang, sebagai hal yang lumrah. Menurutnya, di era demokrasi mutakhir seperti saat ini, jumlah pemilih liar bisa dipastikan akan terus meningkat.

“Itu salah satunya disebabkan sikap apatis para calon pemilih. Mereka ini bisa dibilang jenuh dengan proses politik yang itu-itu saja. Bahkan, bukan tidak mungkin nantinya pemilih liar ini juga bisa golput,” jelas Rokim.

Menurut Rokim, kondisi itu harus segera dicarikan solusi bersama demi kepentingan berlanjutnya proses demokrasi termasuk di Pilgub Jatim.

“Ini menjadi PR bersama bagi penyelenggara pemilu, pemerintah, maupun peserta pemilu, bagaimana agar pemilu bisa dipercaya dan membawa harapan bagi publik. Salah satunya, penyelenggaraan pemilu juga harus mampu menghasilkan solusi kongkrit bagi masyarakat. Dan, peserta pemilu harus kreatif dalam adu program. Tidak boleh justru saling olok mengolok, itu justru menjadikan pemilu berselera rendah,” tegas pria yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Trunojoyo, Madura itu.

Pangdam Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman ‘Tentara Netral di Pilgub Jatim’

Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman di acara coffe morning dengan insan pers se-Jatim (Foto: Tudji)

Masih terkait Pilgub Jatim yang akan digelar 27 Juni 2018, pucuk pimpinan tentara di Kodam V/Brawijaya, Mayjen TNI Arif Rahman saat ditanya wartawan dengan tegas mengatakan, pihaknya (tentara di lingkungan Kodam V Brawijaya) akan bersikap netral, tidak berpihak kepada siapa pun pasangan yang maju di Pilgub Jatim, baik Saifullah Yusuf maupun Khofifah Indar Parawansa.

Pimpinan tertinggi tentara di Jatim itu juga meminta antara TNI dan media, khususnya di Jawa Timur terus menjaga silahturahmi dan menjalin komunikasi untuk menjaga seluruh wilayah Provinsi Jatim tetap kondusif, aman dan tenteram termasuk saat pelaksanaan pilkada, pileg dan pilpres.
Mayjen Arif menegaskan, sesuai instruksi dari Panglima TNI, di gawe besar pesta demokrasi di Jatim, semua personil TNI di jajaran Kodam V Brawijaya tetap memegang teguh sikap netralitas, tidak berpihak kepada pasangan mana pun.
“Sesuai instruksi Panglima TNI, tentara termasuk semua personil di jajaran Kodam V Brawijaya bersikap netral, tidak melakukan keberpihakan, termasuk untuk Pilgub Jawa Timur,” tegas Mayjen Arif didampingi Waka Pendam V Brawijaya, Letkol Inf Dodiet Lumwartono, menjawab pertanyaan wartawan di sela acara coffee morning bersama media se Jatim, di Ruang Hening, Makodam V Brawijaya, Kamis (14/12/2017).
Hadir di acara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Akmad Munir, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jatim Hari Tambayong, direktur dan pemilik media, redaksi dan wartawan berbagai media, baik cetak, televisi, radio dan online.
“Tuhan itu maha mengetahui, tapi dunia perlu diberitahu dan itulah fungsi dan peran penting insan media,” tegasnya.
Mayjen Arif menambahkan, karena peran media, kita semua dapat mengetahui banyak hal, mudah dalam menerima berbagai informasi, dan peran pers sangat diperlukan oleh semua pihak.
“Informasi yang diberikan (oleh media) kepada masyarakat sangat membantu, seperti halnya terkait kejadian bencana dan lain sebagainya,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here