Begini Cara ISIS Rekrut dan Siapkan Pelaku Bom Bunuh Diri

0
237
Foto diambil dari rekaman video propaganda ISIS pada tanggal 19 Mei 2016. Perekrutan teroris ini menyasar anak-anak.

Nusantara.news, Jakarta – Perekrut teroris sangat cerdas. Untuk mencuci otak ‘pengantin’, sebutan bagi kombatan (pelaku bom bunuh diri) dibutuhkan waktu yang tidak lama. Mereka hanya butuh hitungan menit menyusupkan pemikirannya hingga simpatisan terhadap aksi jihad mau mengorbankan diri. Peran penebar ideologi radikal sangat berpengaruh dalam aksi ‘jihadis’.

Proses Rekrut dan Cuci Otak

Perekrut ‘pengantin’ kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD), Abu Mukafi misalnya, mengaku tidak butuh waktu lama dalam proses indoktrinasi, sebelum melakukan serangan. Namun hal itu hanya manjur untuk orang-orang yang telah menjadi kader gerakan teror.

JAD sendiri adalah kelompok pengikut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka tersebar di Indonesia, tetapi tidak seluruhnya pernah mencicipi medan tempur di Suriah. Seluruh anggota JAD terhubung dan rutin berkomunikasi satu sama lain, serta menerima pesan dari pimpinan mereka di Timur Tengah.

Untuk merekrut kombatan, rata-rata kader sudah paham. Sehingga hanya butuh waktu 15 menit sampai 25 menit untuk diberi tahrib. Sebelum pelaku teror atau serangan bom bunuh diri melakukan aksinya, Mukafi terlebih dulu mempersiapkan sang ‘pengantin’. Dia akan memberikan taklimat dengan mengetengahkan hadist nabi tentang tujuh pahala para mujahid, salah satunya soal dinikahkan dengan 72 bidadari.

Memang sudah menjadi kebenaran umum bahwa agama merupakan suatu wadah dalam menciptakan ketentraman dan kedamaian umat manusia. Dalam sebagian besar kasus, agama tidak hanya dianggap menyediakan ideologi tapi juga motivasi dan struktur organisasi para pelaku kejahatan, misalnya saja dalam penafsiran bebas tentang ayat-ayat Alquran dan hadits yang berkenaan dengan jihad yang sering dijadikan landasan ideologi bagi para pelaku teror tersebut.

“Itulah materi-materi tahrib. Jadi orang-orang yang mati syahid akan mendapat tujuh pahala. Di antaranya dia akan dinikahkan dengan 72 bidadari. Haditsnya enggak salah. itu janji Rasul untuk orang yang mati syahid,” kata Mukafi.

Janji lainnya, dosa para pelaku akan diampuni ketika darahnya mengucur di medan perang. Tidak hanya itu, pelaku juga akan dibebaskan dari siksa kubur. “Kemudian dia akan diberi keamanan ketika terjadi huru hara di hari kiamat. Yaitu saat tiupan sangkakala yang kedua, saat orang pada sibuk ketakutan ketika dibangkitkan kembali dari kematian,” ujar Mukafi.

Lantas sang mujahid jika syahid bakal bisa memberi ampunan kepada 70 kerabatnya. Dan, mereka yang tewas dalam berjuang akan diberikan mahkota oleh Allah, yang satu bagiannya saja lebih baik daripada dunia dan seisinya. “Itu memang hadist-hadist Rasulullah yang memberikan semangat orang keberanian melakukan amaliyah,” imbuhnya.

Pola doktrin semacam ini yang terus dipakai oleh para teroris untuk menyebarkan paham radikal. Masyarakat yang terdoktrin biasanya cenderung kehilangan akal sehat. Hal itu terlihat dari dilibatkannya anak-anak dalam aksi teror tiga gereja di Surabaya.

Doktrin secara offline

Jaringan teroris di Indonesia lebih besar dan lebih berpengalaman dari yang selama ini dipikirkan banyak pihak. Analis International Crisis Group (ICG) mengatakan perekrutan anggota baru dalam jaringan terorisme ternyata dilakukan dengan sangat mudah. Ada pemilihan-pemilihan klasifikasi dari mulai pengikut biasa, provokator dan ideolog. Sehingga jaringannya pun terus berkembang dan semakin meluas di tanah air.

Pola perekrutan teroris terus berubah dan berkembang dengan menerapkan strategi perang abad 21. Mereka juga selalu beradaptasi dengan perubahan sosial politik dunia serta lingkungan. Beberapa perubahan itu telah mampu memfasilitasi kemampuan dari teroris dalam beroperasi, memperoleh dana, dan mengembangkan kemampuan baru.

Perubahan lain adalah secara perlahan terorisme telah bergerak membangun hubungan yang berbeda menuju dunia yang lebih luas. Sedangkan pada permukaan, intinya tetap merencanakan suatu tindakan dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang melanggar hukum untuk menanamkan rasa takut yang sangat efektif digunakan sebagai alat strategis dalam menghadapi lawan yang dihadapinya.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Solahudin menyebut, para perekrut biasanya menggunakan media-media sosial dalam penyebaran paham radikalisme dan terorisme. Namun tidak semua proses rekrutmen teroris di Indonesia dilakukan secara daring linier. Di banyak negara, seperti Eropa dan Malaysia, hal itu mungkin bisa dilakukan. Tapi di Indonesia situasinya berbeda. Meski proses radikalisasi ada yang dilakukan secara online, tapi tetap ada cara offline. Mereka harus tetap bertatap muka atau lewat perkumpulan komunitas.

Hal ini pun sesuai dengan studi yang pernah dilakukan Solahudin terhadap 75 orang narapidana terorisme. Dari studi tersebut ditemukan hanya ada 9 persen dari narapidana teroris (Napiter) yang direkrut secara daring. Sisanya, 91 persen mengatakan mereka direkrut kelompok ekstrimis melalui offline, melalui tatap muka dan forum-forum keagamaan.

Nah, untuk bertatap muka ada banyak cara yang dilakukan. Ada yang melalui proses pernikahan meski baru kenal tiga bulan di media sosial. Untuk membentuk jaringan, faktor kekeluargaan dan pernikahan adalah metode yang paling mudah dilakukan.

Cara lain kelompok teroris yang terafiliasi dengan ISIS untuk merekrut para “pengantin” melalui tatap muka adalah dengan mendirikan sekolah pendidikan anak usia dini untuk mendidik anak menjadi calon mujahid. Tentu saja tidak semua sekolah-sekolah mengajarkan kekerasan.

Ada pula yang membentuk rumah singgah bagi keluarga tersangka teroris. Ini semacam tempat penampungan bagi keluarga terduga teroris yang ditangkap polisi. Tak sedikit rumah singgah ini mengundang simpatik warga sekitar.

Cara berikutnya, yakni memberangkatkan perempuan perawan dan janda ke Suriah atau ke Filipina selatan untuk dinikahkan dengan jihadis. Sandi yang digunakan “khitan massal”.

Selanjutnya, menggelar pelatihan militer untuk menyiapkan jihadis yang siap perang. Pelatihan dilakukan mulai pukul 03.00 sore hingga subuh, biasanya lokasinya di hutan.

Yang tidak kalah penting, perekrut teroris mendekati tokoh Islam moderat untuk memperluas dukungan. Dengan begitu mereka dapat masuk ke segala lini termasuk bebas memasuki asrama polisi untuk menyebarkan paham takfiri atau daulah.

Peneliti pola perekrutan teroris, Al Chaidar, menyebutkan metode pengajaran di sekolah radikal itu mirip pelajaran di sekolah umum, seperti bernyanyi. Namun bukan lagu-lagu nasional yang mereka pelajari, melainkan lagu-lagu yang diubah liriknya dengan kalimat intoleransi dan menghina keyakinan agama lain.

Pengajaran radikalisme juga menyasar panti asuhan yang dihuni anak-anak usia hingga belasan tahun. Pola seperti ini pernah ditemukan polisi di kawasan Jonggol, Jawa Barat. Ada pula pendidikan radikal yang dilakukan dengan mengangkat anak. Menurut Al Chaidar, ia pernah menemui salah satu anggota kelompok ISIS yang memiliki anak angkat untuk dijadikan teroris.

Target perekrut teroris adalah anak-anak, itu pasti. Sempat beredar sebuah video beberapa waktu lalu, anak-anak usia 4 tahun di sekolah Indonesia yang berada di Suriah, memegang senjata. Di sini, para perekrut berusaha mendoktrin anak muda yang labil. Biasanya anak muda memiliki sikap berani, pemberontak dan punya pola pikir keras. Sehingga mudah dipengaruhi.

Iming-iming menggiurkan

Data Badan Intelijen Negara (BIN) menyebutkan bahwa sekitar 700 warga negara Indonesia bergabung dengan ISIS. Dari 100 orang yang kembali ke Indonesia, mereka patut diwaspadai karena membawa ideologi radikalisme.

Bagi mereka yang sudah terpapar paham radikal, jaringan teroris ISIS akan menggunakan pendekatan lain, seperti pendekatan ekonomi dengan iming-iming pekerjaan atau mendapatkan uang, teknologi canggih, dan hubungan asmara untuk para perempuan dan lain sebagainya. Tidak heran banyak yang tergiur bergabung dengan kelompok tersebut, meski nyawa sebagai taruhannya.

Tawaran menggiurkan perekrut teroris, pertama, memberi pekerjaan dengan gaji tinggi. Kelompok radikal seperti ISIS dan yang lainnya pasti menjanjikan gaji besar bagi mereka yang mau bekerja di objek vital milik kelompok radikal tersebut. ISIS menawarkan gaji puluhan hingga ratusan juta bagi yang mau bergabung. Biasanya mereka merekrut pekerja bukan dari jasa pelatihan tenaga kerja yang resmi.

Kedua, menawarkan umrah gratis bagi anggota baru. Awalnya ada yang diajak bekerja ke luar negeri tetapi ada juga yang tertarik karena diiming-imingi umrah gratis tetapi setelah itu mereka di bawa ke Suriah dan diajarkan cara berperang.

Ketiga, mereka diajarkan teknologi canggih. Banyak remaja laki-laki yang tertarik mengikuti ajakan ISIS karena awalnya diajarkan teknologi canggih seperti mengunggah video ke internet dengan kualitas video yang bagus, membuat akun media sosial untuk kepentingan tertentu dan lain sebagainya.

Keempat, diperlakukan bagai seorang puteri. Bagi remaja puteri yang mau bergabung dengan ISIS biasanya diperlakukan bak seorang puteri. Mereka diberi pakaian yang bagus, make up dan perhiasan yang menarik.

Kelima, diajak berwisata. ISIS melakukan berbagai cara untuk menarik anggota baru salah satunya dengan mengadakan wisata ke luar negeri. Awalnya anggota baru diajak berwisata ke Turki setelah itu mereka menyeberang ke Suriah untuk belajar perang, provokasi dan teror.

Keenam, diajak belajar. Salah satu yang dilakukan ISIS adalah dengan mengiming-imingi mereka untuk belajar atau kuliah di luar negeri seperti Yordania dan Turki, baru setelah itu mereka akan diajak menyeberang ke Suriah untuk belajar berperang.

Bagi mereka yang sudah bergabung dengan teroris, calon anggota tersebut akan diberikan arahan akan kegiatan mereka selanjutnya dan juga akan diberikan biaya operasional seperti biaya transportasi serta kehidupan sehari-hari. Mereka akan menetap di suatu tempat yang sudah diarahkan oleh perekrut untuk menunggu perintah selanjutnya.

Pada saat tahap menunggu tersebut biasanya ada 2 pilihan perintah yang diberikan terhadap calon anggota baru tersebut, di antaranya perintah untuk melakukan suatu perbuatan nyata seperti jihad di tempat yang sudah ditentukan di Indonesia. Perekrut akan memfasilitasi serta membiayai segala kebutuhan yang diperlukan untuk pelaksanaan tindak pidana terorisme tersebut. Pilihan lain, bergabung dengan kelompok teroris ISIS di pusatnya Suriah. Calon anggota ISIS akan diberikan arahan kapan dan di mana waktu yang tepat untuk calon anggota untuk berangkat menuju Suriah. Di sini juga segala kebutuhan calon anggota ISIS tersebut akan ditanggung sepenuhnya oleh perekrut.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here